Archive for the ‘ Contoh Karya Tulis ’ Category

PEMBELAJARAN MENULIS KARYA ILMIAH BERBASIS DEEP DIALOGUE/CRITICAL THINKING

PEMBELAJARAN MENULIS KARYA ILMIAH
BERBASIS DEEP DIALOGUE/CRITICAL THINKING
Umi Salamah
Dosen IKIP Budi Utomo Malang

Abstrak: Kendala yang kerap ditemukan dalam pembelajaran menulis karya iilmiah di perguruan tinggi adalah menemukan, memilih, memerinci, dan mengembangan topik menjadi tulisan. Beberapa semester terakhir, penulis menggunakan teknik deep dialogue/critical thinking (DD/CT) untuk membimbing mahasiswa mengatasi kesulitan tersebut. Prinsip yang dikembangkan dalam DD/CT, antara lain: adanya komunikasi dua arah dan prinsip saling memberi yang terbaik, menjalin hubungan kesederajatan dan keberadaban antara dosen dan mahasiswa, serta empatisitas yang tinggi. Dengan demikian, DD/CT mengandung nilai-nilai demokrasi dan etis untuk mewujudkan ide dalam tulisan yang sistematis.
Fokus kajian pendekatan DD/CT dalam pembelajaran dikonsentrasikan untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman melalui dialog secara mendalam dan berpikir kritis. Untuk keperluan pendekatan pembelajaraan menulis karya ilmiah, penulis merumuskan masalah dari tahap prainstruksional, tahap instruksional, dan tahap pascainstruksional. Subjek penelitian adalah mahasiswa yang menempuh Matakuliah Bahasa Indonesia Karya Ilmiah di Universitas Brawijaya Malang, Universitas Islam Negeri Malang, dan IKIP Budi Utomo Malang. Banyaknya siklus tindakan disesuaikan dengan kebutuhan sampai ditemukan hasil yang optimal.
Berdasarkan tiga kali siklus classroom action research ditemukan hasil yaitu: (1) DD/CT dapat meningkatkan antusias selama proses pembelajaran menulis karya ilmiah; (2) DD/CT dapat mengoptimalisasikan potensi inteligensi mahasiswa untuk menemukan, memilih, memerinci, dan mengembangkan topik dengan format dan kaidah penulisan yang benar; (3) mental, emosional, dan spiritual mahasiswa berkembang seimbang selama dialog berlangsung; (4); mahasiswa dan dosen dapat menjadi pendengar, pembicara, penulis, dan pemikir yang baik; dan (5) model pembelajaran ini dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari karena lebih menekankan pada nilai, sikap dan kepribadian (sportifivitas). Dengan demikian pembelajaran berbasis DD/CT dapat meningkatkan hard skill dan soft skill dalam menulis karya ilmiah maupun mengomunikasikannya secara lisan.
Kata kunci: pembelajaran, menulis, karya ilmiah, DD/CT

Peningkatan Pembelajaran Sosiologi Melalui Model Partispatif Berbasis Poster di Kelas X SMA Negeri 1 Polanharjo Klaten

Subakri

Abstract. This research aims to describe: the improvement of the social interaction conceptual comprehension and to des-cribe the changes of the student behaviour positively after get-ting the application of the participative learning model which has the poster basis on Sociology learning. The research was done in X class of the State Senior High School (SMA) in Po-lanharjo which has 40 students. The result of the research in-dicates that the comprehansion of the student social interac-tional conception in the first cycle reaches 70% and increases 5% in the second cycle becomes 76%. The learning complete-ness target in the first cycle has not been reached because it is only under 75%, whereas in the second cycle has been able to be reached that is 76% or 1% beyond the prior target.

Kata kunci: pembelajaran Sosiologi, interaksi sosial, pem-belajaran partisipatif, portofolio.

Materi pembelajaran Sosiologi di Sekolah Menengah Atas (SMA) pada Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas X berkai-tan dengan telaah mengenai interaksi sosial dengan segenap variasi-nya yang disajikan secara terpadu, sehingga para siswa dituntut me-nguasai konsep interaksi sosial secara menyeluruh. Tuntutan demiki-an ini membebani siswa yang umumnya merasa kesulitan untuk seka-ligus menguasai konsep-konsep interaksi sosial tersebut. Pemahaman sosiologi menuntut aspek kognitif yang cenderung verbal dan serba abstrak bagi para siswa, karena berbasis kehidupan sosial secara uni-versal dengan pembahasan secara teoritis.

Apabila kenyataan tersebut dibiarkan berlarut-larut tanpa ada upaya untuk meningkatkan pemahaman konsep interaksi sosial dalam pembelajaran Sosiologi akan berdampak lebih luas, diantaranya; (1) siswa akan semakin takut, menjauhi dan malas belajar sosiologi; (2) siswa semakin kesulitan memahami konsep interaksi sosial, khusus-nya dalam pembelajaran antropologi; (3) guru mengalami kesulitan dalam mentransfer sejumlah konsep interaksi sosial dalam pembela-jaran sosiologi kepada siswa; dan (4) suasana kelas tidak kondusif se-hingga proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menjadi terhambat.

Memperhatikan asumsi dan realitas di atas, menarik untuk me-nyimak kembali proses pembelajaran Sosiologi sebagai usaha pening-katan pemahaman konsep interaksi sosial dengan tindakan kelas ya-itu dengan menambah variasi model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Banyak variasi model yang menarik dan menyenang-kan sebagai pilihan untuk ditetapkan sebagai alternatif pemecahan masalah ini, namun tentunya harus mengacu pada kemanfaatan dan ketepatan model pembelajaran itu sendiri yang dapat melibatkan sis-wa secara aktif, meningkatkan gairah belajar dan tanggung jawab sis-wa secara individu maupun kelompok (Meier, 2000; Soenarya, 2000; Muhibbin, 1995; Semiawan, dkk., 1985)

Pembelajaran partisipatif adalah KBM yang menekankan bah-wa peserta didik memiliki kebutuhan belajar, memahami teknik-tek-nik belajar, dan berperilaku belajar yang akhirnya timbul interaksi e-dukasi antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru (Porter & Hernacki, 2000; Sudjana, 2001).

Unsur kegiatan pembelajaran ditandai dengan adanya upaya disengaja, terencana, dan sistematik yang dilakukan oleh seorang gu-ru untuk membantu siswa dalam melakukan kegiatan belajar menga-jar. Kegiatan pembelajaran partisipatif didasarkan atas prinsip-prinsip belajar yaitu: (1) berangkat dari kebutuhan belajar (Learning needs based), (2) berorientasi pada tujuan belajar (goals and objectives oriented), (3) belajar berdasarkan pengalaman (experiential lear-ning), (4) berpusat pada peserta didik (participant centered). Prinsip pembelajaran partisipatif adalah bertahap dan berkesinambungan, de-ngan proses pemberdayaan (empowering process) dan berorientasi ke masa depan. ( Borich, 1988; Sudjana, 2001).

Perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan melalui re-fleksi diri terhadap pembelajaran yang telah dilakukan dan pening-katan kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah kelas meru-pakan peningkatan profesionalisme seorang guru. Guru tidak cukup menyediakan bahan-bahan pelajaran untuk dihafal dan kemudian diu-kur tingkat penguasaannya, tetapi lebih dari itu guru harus meren-canakan, memimpin dan menilai proses belajar dalam berbagai bi-dang pelajaran untuk tumbuhnya berbagai sikap, kemampuan dan ke-terampilan pada berbagai bidang kehidupan (Usman, 1996; Wilis, 1989).

Poster  adalah suatu media dalam bentuk visual diam tidak di-proyeksikan, yang sifatnya mandiri. Sebagai bentuk visual poster ha-rus dapat dilihat dengan jelas oleh mata pembaca, menarik dan mu-dah dipahami dengan bahasa yang sederhana. Sebagai media komuni-kasi yang sifatnya mandiri, poster harus bersifat informatif sehingga secara mandiri dapat berkomunikasi memberikan pesan kepada pem-bacanya tanpa harus ada seseorang yang menjelaskan. Poster merupa-kan bagian dari alat bantu pandang yang dikenal sebagai visual aids.Visual Aids adalah teknik pembelajaran dengan penggunaan alat bantu pandang yang berupa gambar, poster, diagram dan leaflet (Meier, 2000; Sudjana, 2001). Pembelajaran dengan alat bantu pandang ini dapat mendorong dan menambah kegairahan belajar bagi para siswa dan dapat meningkatkan daya khayal untuk menimbulkan minat daya cipta, keterampilan dan pengetahuan sehingga suatu konsep menjadi lebih efektif dalam kegiatan belajar. Aktivitas belajar yang dirancang dengan permainan dalam model pembelajaran partisipatif berbasis poster memungkinkan siswa dapat belajar dengan rileks tanpa terte-kan disamping menumbuhkan keterampilan, rekreatif, daya khayal, tanggung jawab, kerja sama, persaingan sehat, dan keterlibatan ke-lompok belajar.

Model pembelajaran partisipatif berbasis poster merupakan tin-dakan pemecahan yang diusulkan dalam upaya meningkatkan pema-haman konsep interaksi sosial khususnya dalam pembelajaran sosio-logi di kelas X SMA Negeri 1 Polanharjo tahun 2004/2005.

Masalahnya adalah benarkah dengan model pembelajaran par-tisipatif berbasis poster, dapat meningkatkan pemahaman konsep in-teraksi sosial khususnya dalam pembelajaran Sosiologi di kelas X  SMA Negeri 1 Polanharjo? Bagaimana perubahan tingkah laku yang menyertai peningkatan pemahaman konsep interaksi sosial dalam pembelajaran Sosiologi para siswa setelah diterapkannya model pem-belajaran partisipatif berbasis poster?

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan peningkat-an pemahaman konsep interaksi sosial khususnya siswa kelas X SMA Negeri 1 Polanharjo dalam pembelajaran Sosiologi; dan (2) mendeskripsikan perubahan perilaku siswa yang positif setelah men-dapat pembelajaran Sosiologi dengan penerapan model pembelajaran partisipatif berbasis poster.

METODE

Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XA SMA Ne-geri 1 Polanharjo tahun pelajaran 2004/2005 yang berjumlah 40 sis-wa, terdiri atas 19 siswa putra dan 21 siswa putri. Pemilihan kelas XA berdasarkan pertimbangan bahwa ketika dilaksanakan pretes ke-mampuan penguasaan konsep interaksi sosial, kelas XA ini memiliki persentase tertinggi bagi siswa yang kurang penguasaannya, diban-dingkan dengan kelas lain secara paralel.

Variabel dalam penelitian ini meliputi variabel bebas dan va-riabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pem-belajaran partisipatif berbasis poster, sedangkan variabel terikat da-lam penelitian ini adalah meningkat tidaknya kemampuan penguasa-an konsep interaksi sosial dalam pembelajaran sosiologi.

Pengumpulan Data

Data penelitian yang dikumpulkan pada penelitian ini meliputi data tes dan data non tes. Data tes dikumpulkan dengan seperangkat alat tes, yang kemudian hasil tes ini dikategorikan ke dalam lima ka-tegori tingkat kepahaman, yaitu: Sangat paham, Paham, Sedang, Ku-rang, dan Tidak Paham. Data non tes dikumpulkan dengan observasi, wawancara langsung, dan jurnal pengamatan pembelajaran. Data non tes ini dimaksudkan untuk menggali informasi lebih mendalam ten-tang tanggapan siswa terhadap model pembelajaran partisipatif ber-basis poster. Apakah model pembelajaran partisipatif berbasis poster ini cukup menarik, cocok atau tidak bagi mereka.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ada-lah teknik deskriptif. Untuk data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes yang telah terkumpul ditabulasi, diringkas, dihitung persentase-nya. Selanjutnya data tersebut disajikan dalam tabel-tabel, dan ke-mudian dideskripsikan secara naratif makna dari data tersebut. Se-dangkan data kualitatif hasil observasi, wawancara, dan penyelidikan melalui jurnal, dideskripsikan secara naratif sesuai dengan pengamat-an langsung oleh peneliti.

Data kuantitatif dan kualitatif ini dikaitkan, yang kemudian digunakan sebagai dasar untuk mendeskripsikan keberhasilan pene-rapan model pembelajaran partisipatif berbasis poster, yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman konsep interaksi sosial para siswa dalam pembelajaran Sosiologi secara klasikal, dan perubahan ting-kah laku yang menyertainya.

Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yaitu pe-nelitian dengan berbasis pada kelas. PTK dilaksanakan dalam bentuk proses pengkajian berdaur 4 tahap yaitu: (1) merencanakan, (2) mela-kukan tindakan, (3) mengamati (observasi), dan (4) merefleksi, (Pri-yono, 1999; Soenarya, 2000).

Dalam penelitian ini, tindakan penelitian dilakukan dalam dua siklus. Pada setiap siklus dilakukan pengkajian yang berdaur 4 tahap tersebut yaitu: merencanakan, melakukan tindakan, mengamati, dan merefleksi.

Siklus I bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman kon-sep interaksi sosial para siswa dalam pembelajaran Sosiologi, yang kemudian digunakan sebagai bahan refleksi untuk melakukan tinda-kan pada siklus II. Siklus II dilakukan untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep interaksi sosial para siswa dalam pembelajaran sosiologi setelah dilakukan  perbaikan terhadap pelaksanaan pembe-lajaran yang didasarkan pada refleksi siklus I.

HASIL

Hasil penelitian diperoleh dari tindakan pada siklus I dan si-klus II. Hasil tersebut berupa hasil tes dan nontes. Hasil tes berupa evaluasi pemahaman konsep interaksi sosial, sedangkan non tes beru-pa hasil observasi, wawancara dan jurnal.


Hasil Tes Siklus I

Setelah diadakan tes tertulis pemahaman konsep interaksi so-sial yang terfokus pada aspek penguasaan konsep interaksi sosial para siswa dalam pembelajaran Sosiologi, diperoleh hasil seperti terlihat pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1 Skor Pemahaman Konsep Interaksi Sosial Hasil Tes I dalam Pembelajaran Sosiologi

No Skor Jumlah Responden % Kategori
1

2

3

4

5

32.0 – 40.0

24.0 – 31.9

16.0 – 23.9

8.0  – 15.9

0.0  –  7.9

5

27

6

2

0

12.5

67.5

15.0

5.0

0.0

Sangat Paham

Paham

Sedang

Kurang Paham

Tidak Paham

Jumlah 40 100

Berdasarkan Tabel 1 di atas dapat diketahui bahwa pada pem-belajaran sosiologi tingkat pemahaman konsep interaksi sosial para siswa dalam penerapan model pembelajaran partisipatif berbasis poster pada siklus I diperoleh hasil: (1) dari 40 siswa yang diteliti ada 5 siswa yang telah mencapai kategori sangat paham yang berarti sebesar 12.5%; (2) kategori paham sebanyak 27 siswa atau sebesar 67.5%; (3) kategori sedang sebanyak 6 siswa atau sebesar 15%; dan (4) kategori kurang  sejumlah 2 siswa atau sebesar 5%. Secara klasi-kal sebagian besar siswa yakni sebanyak 27 siswa atau sebesar 67.5% menempati kategori paham, skor rata-rata klasikal adalah 28.27 yang juga berada pada kategori paham. Jika skor maksimal 40, skor rata-rata siswa 28,27 berarti berada pada kategori paham  yang jika diper-sentase mencapai 71%.

Hasil Nontes Siklus I

Hasil nontes mencakup hasil yang diperoleh dari observasi, wawancara dan jurnal. Hasil observasi menunjukkan bahwa pembel-ajaran Sosiologi dengan penerapan model pembelajaran partisipatif berbasis poster menunjukkan antusias yang cukup tinggi bagi siswa, suasana proses belajar tampak hidup dan kondusif. Siswa lebih aktif dalam mengikuti kegiatan penerapan media visual aids karena mera-sa menjadi bagian suatu kesibukan kolektif. Ada 6 siswa atau 15% yang terekam suka berbincang-bincang saat proses belajar berlang-sung sehingga saling mengganggu dan agak lambat. Disamping itu ada 2 siswa atau 5% yang bersikap pasif bahkan acuh tak acuh atau asal ikut masuk kelas. Namun demikian sebagian besar siswa yaitu 32 atau 80% sangat aktif dan serius dalam mengikuti proses pembela-jaran partisipatif berbasis poster.

Dari wawancara yang ditujukan pada 40 siswa diperoleh infor-masi bahwa 26 siswa atau 65% menganggap bahwa model pembela-jaran partisipatif berbasis poster ini baru pertama kali dilakukan, dan dianggap mempermudah penguasaan konsep interaksi sosial dalam pembelajaran Sosiologi bagi para siswa. Akan tetapi ada 7 siswa atau 17.5% yang menyatakan bahwa penerapan model pembelajaran parti-sipatif berbasis poster sangat sederhana dan terkesan seperti gambar mainan. Sisanya yang berjumlah 7 siswa atau 17.5% lebih memilih tidak berkomentar apapun.

Data jurnal menunjukkan bahwa model pembelajaran par-tisipatif berbasis poster disambut baik oleh sebagian besar siswa yaitu 34 siswa atau 85% menunjukkan reaksi positif. Disamping itu 30 siswa atau 75% menyatakan bahwa model pembelajaran partisi-patif berbasis poster sangat tepat untuk meningkatkan pemahaman konsep interaksi sosial dalam pembelajaran Sosiologi.

Hasil Tes Siklus II

Hasil tes pada siklus kedua telah menunjukkan perkembangan pemahaman interaksi sosial yang cukup menggembirakan. Hasil tes pada siklus II ini dapat dilihat pada Tabel 2.

Dari Tabel 2 dapat diketahui bahwa pembelajaran pemahaman konsep interaksi sosial para siswa dalam pembelajran Sosiologi, dari 40 siswa yang diteliti ada 10 siswa atau 25% yang telah mencapai kategori sangat paham, sedangkan kategori terbanyak adalah paham sebanyak 25 siswa atau sebesar 62.5%. Untuk kategori sedang seba-nyak 5 siswa atau sebesar 12.5% dan tidak seorang siswa pun yang masuk  kategori kurang. Dengan menerapkan cara perhitungan yang telah diuraikan pada bagian teknik analisis data, diperoleh data skor rata-rata tingkat pemahaman konsep interaksi sosial dalam pembela-jaran Sosiologi sebesar 30.47. Jika skor maksimal 40, skor rata-rata 30.47 berarti berada pada kategori paham, yang jika dipersentase mencapai 76%.

Tabel 2   Skor Pemahaman Konsep Interaksi Sosial Hasil Tes II da-lam Pembelajaran Sosiologi

No Skor Jumlah Responden % Kategori
1

2

3

4

5

32.0 – 40.0

24.0 – 31.9

16.0 – 23.9

8.0 – 15.9

0.0 –   7.9

10

25

5

0

0

25.0

62.5

12.5

0.0

0.0

Sangat Paham

Paham

Sedang

Kurang Paham

Tidak Paham

Jumlah 40 100

Hasil Nontes Siklus II

Hasil observasi pada siklus II menunjukkan bahwa pembela-jaran sosiologi dengan penerapan model partisipatif berbasis poster ternyata menunjukkan antusias yang tinggi bagi siswa, suasana prak-tek tampak makin hidup dan makin kondusif. Siswa lebih aktif dalam partisipasi mengikuti kegiatan proses belajar karena merasa menjadi bagian suatu kesibukan kolektif. Ada 2 siswa atau 5% yang terekam suka berbincang-bincang saat proses pembelajaran berlangsung. Se-mentara itu masih ada seorang siswa atau 2.5% masih bersikap pasif. Dengan demikian sebagian besar siswa yaitu 37 atau 92.5% sangat aktif dan serius dalam mengikuti proses pembelajaran Sosiologi dengan penerapan model partisipatif berbasis poster.

Dari wawancara yang ditujukan pada 40 siswa diperoleh infor-masi bahwa 32 siswa atau 80% menganggap model pembelajaran partisipastif berbasis poster ini baik sekali dilakukan, dan dianggap mempercepat penguasaan pemahaman konsep interaksi sosial para siswa. Akan tetapi masih ada 2 siswa atau 5% yang menyatakan bah-wa penerapan model pembelajaran partisipatif berbasis poster sangat sederhana dan terkesan seperti gambar mainan. Sisanya yang berjum-lah 6 siswa atau 15% lebih  memilih tidak berkomentar.

Data jurnal menunjukkan bahwa model pembelajaran dengan penerapan model partisipatif berbasis poster disambut baik oleh se-bagian besar siswa yaitu 35 siswa atau 87.5% menunjukkan reaksi positif. Disamping itu 32 siswa atau 80% menyatakan bahwa model pembelajaran partisipatif berbasis poster sangat tepat untuk mening-katkan pemahaman konsep interaksi sosial dalam pembelajran Sosio-logi para siswa kelas X SMA.

PEMBAHASAN

Pembahasan akan meliputi hasil tes dan nontes yang telah di-peroleh dari penelitian pada siklus I dan II. Hasil tes berupa skor tingkat pemahaman konsep interaksi sosial para siswa setelah pene-rapan model pembelajaran partisipatif berbasis poster. Sedangkan ha-sil nontes berupa perilaku dan sikap siswa yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan jurnal.

Hasil tes yang terfokus pada aspek peningkatan pemahaman konsep interaksi sosial para siswa dalam pembelajaran Sosiologi, pa-da siklus pertama hanya ada 5 siswa yang mencapai kategori sangat paham, sedangkan pada siklus kedua ada 10 siswa yang tercatat mampu mencapai kategori sangat paham. Siswa yang berkategori pa-ham sebanyak 27 siswa atau 67.5% pada siklus pertama menjadi 26 siswa atau 65% pada siklus kedua. Untuk kategori sedang pada siklus pertama ada 6 siswa atau 15% menjadi 5 atau 12.5% pada siklus ke-dua. Siswa yang berkategori kurang pada siklus pertama ada 2 siswa, sedang pada siklus kedua tidak ada. Secara umum rata-rata hasil tes pada siklus pertama dan kedua tetap pada kategori paham, tetapi dili-hat dari skor mengalami kenaikan sebesar 2,0 dari jumlah 28.47 men-jadi 30.47. Dengan hitungan persentase, kenaikan itu adalah sebesar 5% dari 71% menjadi 76%.

Secara klasikal pemahaman konsep interaksi sosial para siswa dalam pembelajaran sosiologi pada siklus pertama mencapai 71% dan meningkat 5% pada siklus kedua menjadi 76%. Pada siklus per-tama target ketuntasan belum tercapai karena masih di bawah 75% sedang pada siklus kedua telah dapat dilampaui yakni 76% atau satu persen di atas target yang dicanangkan sebelumnya.

Dari model pembelajaran Sosiologi berbasis poster ini, terlihat bahwa terdapat peningkatan pemahaman interaksi sosial. Dengan de-mikian model ini merupakan salah satu model yang dapat dijadikan sebagai pegangan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Sosio-logi khususnya pokok bahasan interaksi sosial. Model pembelajaran ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Mulyasa (2002) dan Sudja-na (2001) bahwa perlu mengaktifkan siswa dalam pembelajaran, yang cocok dengan tuntutan kurikulum berbasis kompetensi.

Dari hasil observasi, wawancara dan jurnal diketahui bahwa ada 6 siswa atau 15% yang terekam suka berbincang-bincang saat pro-ses pembelajaran berlangsung pada siklus I, sedang pada siklus kedua tinggal 2 siswa atau 5%. Ada 2 siswa atau 5% yang bersikap pasif bah-kan acuh tak acuh pada siklus I sedang pada siklus II tinggal 1 siswa atau 2,5%, sebagian besar siswa yaitu 32 atau 80% sangat aktif dan serius berpartisipasi dalam proses pembelajaran Sosiologi pada siklus I  pada siklus II naik menjadi 37 siswa atau 92,5%.

Dari wawancara yang ditujukan pada 40 siswa diperoleh infor-masi bahwa 32 siswa atau 80% menganggap bahwa penerapan model pembelajaran partisipatif berbasis poster ini baik sekali dilakukan, dan dianggap mempercepat penguasaan pemahaman konsep interaksi so-sial bagi para siswa. Akan tetapi masih ada 2 siswa atau 5% yang me-nyatakan bahwa penerapan model pembelajaran partisipatif berbasis poster ini  dianggap amat sederhana dan terkesan seperti mainan anak-anak. Sisanya yang berjumlah 6 siswa atau 15% lebih masih memilih tidak berkomentar.

Data jurnal menunjukkan bahwa penerapan model pembela-jaran partisipatif berbasis poster disambut baik oleh sebagian besar siswa yaitu 35 siswa atau 87,5% menunjukkan reaksi positif. Disam-ping itu 32 siswa atau 80% menyatakan bahwa penerapan model pembelajaran partisipatif berbasis poster sangat tepat untuk mening-katkan pemahaman konsep interaksi sosial dalam pembelajaran So-siologi di kelas XA SMA.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpul-kan bahwa:

Pertama, dengan penerapan model pembelajaran partisipatif berbasis poster dalam pembelajaran Sosiologi dapat meningkatkan pemahaman konsep interaksi sosial para siswa kelas XA SMA Ne-geri 1 Polanharjo tahun pelajaran 2004/2005.

Kedua, dengan penerapan model pembelajaran partisipatif berbasis poster dalam pembelajaran Sosiologi, ternyata mendapat re-aksi yang positif dari para siswa. Hal ini ditunjukkan dengan data 80% siswa menyatakan bahwa dengan penerapan model pembela-jaran partisipatif berbasis poster sangat tepat untuk meningkatkan pe-mahaman konsep interaksi sosial dalam pembelajaran Sosiologi di kelas X SMA.

Saran

Untuk meningkatkan pemahaman konsep interaksi sosial da-lam pembelajaran sosiologi, guru dapat menerapkan berbagai model pembelajaran, diantaranya dengan menerapkan model pembelajaran partisipatif  berbasis poster.

DAFTAR RUJUKAN

Borich.G.D. 1988. Effective Teaching Methods. Collumbus: Merril Publishing.

Meier, D.2000. The Accelerated Learning Hand Book. Bandung: Pe-nerbit Kaifa.

Muhibbin, S. 1995. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Remaja    Rosda Karya. Bandung.

Mulyasa.E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Rema-ja Rosda Karya.

Nursisto.2002. Peningkatan Prestasi Sekolah Menengah. Jakarta: Insan Cendekia.

Porter, B. & M.Hernacki. 2000. Quantum Learning. Bandung: Pener-bit Kaifa.

Priyono A.1999. Penulisan Proposal Penelitian Classroom Based Action Research. Semarang: Departemen Pendidikan dan Ke-budayaan Kanwil Depdikbud Provinsi Jawa Tengah.

Semiawan, C. dkk. 1985 Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: PT Gramedia.

Soenarya. E. 2000. Teori Perencanaan Pendidikan. Jakarta: Adi Cita.

Sudjana H.D.2001. Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif. Bandung: Falah.

Usman. M.U.1996. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Wilis, D.R. 1989. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga

“University Compaign Conservation with Culture ” Kampanye Perilaku Konservatif Melalui Kesenian Rakyat Integrasi Budaya Gambang Semarang

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah lingkungan hidup adalah masalah dengan multi sumber, multi penyebab dan multi dampak, yang bisa mengakibatkan terjadinya degradasi lingkungan di seluruh bagian bumi. Dalam acara pengarahan dan penjelasan terkait dengan visi “Universitas Konservasi” pada tanggal 10 Juni 2009 Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan UNNES, Masrukhi, yang juga merupakan Ketua Tim Universitas Konservasi. Menyatakan UNNES menuju universitas konservasi diperlukan dengan kenyataan bahwa kawasan kampus merupakan bagian dari ekosistem lingkungan yang lebih luas, tanggapan terhadap isu-isu lingkungan global (e.g., Global Warming, lubang ozon, keanekaragaman hayati), pencemaran lingkungan, bencana alam, menurunnya kualitas lingkungan kampus, dan UNNES bertanggung jawab mengusung misi pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
Sebuah program ataupun proyek sosial yang ditujukan untuk perubahan memerlukan instrumen pewartaan. Salah satu jalan pewartaan dilakukan dengan kampanye untuk menginformasikan, mengajak dan mempengaruhi khalayak dalam jumlah yang lebih besar untuk turut dan andil dalam kegiatan yang diinisiatifkan atau dijalankan.
Penulis mengusulkan kegiatan “University Compaign Conservation with Culture ” Kampanye Perilaku Konservatif Melalui Kesenian Rakyat Integrasi Budaya Gambang Semarang yang selain bertujuan sebagai wahana kampanye konservasi, juga mempererat visi dan misi hidup terlebih lagi menstimulasi kesadaran akan kepemilikan dan indentitas budaya sebagaimana instruksi presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada pemerintahanya untuk mendata hasil seni dan budaya di seluruh tanah air sehingga dapat di legalisasi atau dipatenkan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) hasil karya budaya. TV One, Kabar Nusantara, 27/09/2009.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep pelaksanaan “ University Compaign Conservation with Culture” Kampanye Perilaku Konservatif Melalui Kesenian Rakyat Integrasi Budaya Gambang Semarang?
2. Bagaimana sosialisasi atau perubahan perilaku kegiatan ini?

C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Peserta
a. Sebagai wahana untuk mengaktualisasikan ekspresi diri, perkembangan jiwa (mind), watak (character), kemampuan fisik (physical ability) individu.Melalui bermain kesenian rakyat Gambang Semarang.
b. Penanaman pendidikan humanis ( humanizing human being )
c. Sebagai latihan untuk meningkatkan self efficacy, self regulation dan pembangunaan karakter berwawasan lingkungan dan budaya.
2. Bagi Masyarakat kampus
a. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi dalam lingkungan kampus.
b. Pemberdayaan sikap mencintai, menghargai dan menghormati konservasi lingkungan kampus sebagaimana konservasi kesenian sebagai identitas bangsa.
c. Memberdayakan nilai-nilai nurani (values of being) dan nilai-nilai memberi (values of giving).
d. Sebagai konservasi, rekonstruksi, dan revitalisasi masyarakat kampus.

3. Bagi Masyarakat umum
a. Memberikan interprestasi atau dan penguatan ( reinforcement ) yang bersifat implementatif terhadap perilaku konservatif.
b. Meningkatkan kesadaran nilai-nilai konservasi akan situasi lingkungan nasional maupun global

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Hakekat Konservasi
1. Pengertian Konservasi
Konservasi adalah segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultural yang dikandungnya terpelihara dengan baik (Piagam Burra, 1981). Konservasi adalah pemeliharaan dan perlindungan terhadap sesuatu yang dilakukan secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan cara pengawetan (Peter Salim dan Yenny Salim, 1991).
2. Kegiatan Konservasi
Kegiatan konservasi selalu berhubungan dengan suatu kawasan, kawasan itu sendiri mempunyai pengertian yakni wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya (UU No. 24 Tahun 1992). Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam, sumber daya buatan, dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan
3. Konservasi Sumber Daya Alam Hayati
Mulai tahun 1970-an konservasi sumber daya alam di Indonesia berkembang dan memiliki suatu strategi yang bertujuan untuk:
a. Memelihara proses ekologi yang penting dan sistem penyangga kehidupan.
b. Menjamin keanekaragaman genetik.
c. Pelestarian pemanfaatan jenis dan ekosistem.
Peranan kawasan konservasi dalam pembangunan meliputi:
a. Penyelamat usaha pembangunan dan hasil-hasil pembangunan.
b. Pengembangan Ilmu Pendidikan.
c. Pengembangan kepariwisataan dan peningkatan devisa.
d. Pendukung pembangunan bidang pertanian.
e. Keseimbangan lingkungan alam.
f. Manfaat bagi manusia.
Berdasarkan Pasal 5 UU No. 5 Tahun 1990 dan Strategi Konservasi Dunia kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya meliputi kegiatan:
a. Perlindungan proses-proses ekologis yang penting atau pokok dalam sistem-sistem penyangga kehidupan.
b. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya.
c. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Kawasan dan Kegiatan Konservasi Hayati
Menurut UU No. 5 Tahun 1990, Kawasan Suaka Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah penyangga kehidupan.
Kawasan Suaka Alam terdiri dari:
a. Cagar Alam.
b. Suaka Margasatwa.
c. Hutan Wisata.
d. Daerah perlindungan Plasma Nutfah.
e. Daerah pengungsian satwa.
Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Dalam kegiatan pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dapat dilaksanakan di dalam kawasan (konservasi insitu) ataupun di luar kawasan (konservasi exsitu). Konservasi insitu adalah konservasi jenis flora dan fauna yang dilakukan di habitat aslinya baik di hutan, di laut, di danau, di pantai, dan sebagainya. Konservasi exsitu adalah konservasi jenis flora dan fauna yang dilakukan di luar habitat aslinya.
4. Konservasi Sumber Daya Alam Non Hayati
4.1 Konservasi Tanah dan Air
Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sedangkan konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air yang jatuh ke tanah seefisien mungkin, dan pengaturan waktu aliran sehingga tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau. Persoalan konservasi tanah dan air adalah kompleks dan memerlukan kerjasama yang erat antara berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti ilmu tanah, biologi, hidrologi, dan sebagainya. Pembahasan tentang konservasi tanah dan air ini selalu tidak akan terlepas dari pembahasan tentang siklus hidrologi. Siklus hidrologi ini meliputi proses-proses yang ada di dalam tanah, badan air, dan atmosfer, yang pada intinya terdapat dua proses yaitu evaporasi dan presipitasi yang dikendalikan oleh energi matahari.
4.2 Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan wilayah yang dibatasi oleh batas alam (topografi) di mana aliran permukaan yang jatuh akan mengalir ke sungai-sungai kecil menuju ke sungai besar akhirnya mencapai danau atau laut. Pengelolaan DAS berupaya untuk menselaraskan dikotomi kepentingan ekonomi dan ekologi. Kepentingan ekonomi jangka pendek akan terancam bila kepentingan ekologi diabaikan. Sebaliknya gerakan perbaikan ekologi yang melibatkan masyarakat tidak akan terpelihara secara terus menerus tanpa memberi dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Untuk mencapai tujuan pengelolaan DAS diperlukan upaya pokok dengan sasaran:
a. Pengelolaan Lahan
b. Pengelolaan Air
c. Pengelolaan Vegetasi.
4.3 Erosi dan Metode Konservasi Tanah dan Air
Erosi merupakan proses pengikisan tanah yang kemudian diangkut dari suatu tempat ke tempat lain oleh tenaga seperti: air, gelombang atau arus laut, angin, dan gletser. Ada dua jenis utama erosi yaitu erosi normal/geologi dan erosi yang dipercepat. Erosi normal yaitu proses-proses pengangkutan tanah yang terjadi di bawah keadaan vegetasi alami. Proses erosi ini berlangsung sangat lama dan proses ini yang menyebabkan kenampakan topografi yang terlihat sekarang ini, seperti: tebing, lembah, dan sebagainya. Sedangkan erosi dipercepat adalah pengangkutan tanah yang menimbulkan kerusakan tanah akibat aktivitas manusia yang mengganggu keseimbangan antara proses pembentukan dan pengangkutan tanah. Menurut bentuknya erosi dibedakan menjadi: erosi lembar, erosi alur, erosi parit, erosi tebing sungai, longsor, dan erosi internal. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi erosi adalah iklim, topografi, tumbuh-tumbuhan, tanah, dan manusia. Eischemeier (1976) mengembangkan persamaan rata-rata tahunan kehilangan tanah yaitu: A = R K L S C P, di mana A adalah banyaknya tanah yang tererosi, R adalah faktor curah hujan dan aliran permukaan, K adalah faktor erodibilitas tanah, L adalah faktor panjang lereng, S adalah faktor kecuraman lereng, C adalah faktor vegetasi penutup tanah dan pengelolaan tanaman, dan P adalah faktor konservasi tanah. Beberapa metode konservasi tanah dapat dibagi dalam tiga golongan utama, yaitu: (1) metode vegetatif, (2) metode mekanik, dan (3) metode kimia.
5. Upaya konservasi
Saat ini upaya konservasi cenderung dipilah menjadi 2 kategori besar, yaitu konservasi in situ dan konservasi eksitu. Konservasi in situ adalah upaya konservasi suatu species di habitat aslinya, sebaliknya konservasi ek situ adalah upaya konservasi suatu species di luar habitat aslinya. Kalo melihat pengertian awalnya sebenarnya upaya konservasi sudah terbagi habis menjadi 2 kelompok tadi, dimana konservasi dibagi menjadi di dalam dan diluar habitat aslinya.
Pada perkembangannya, terminologi konservasi ek situ cenderung terspesialisasi menjadi suatu upaya konservasi yang dilakukan di luar habitat manusia dengan intervensi manusia yang cukup intensif, sehingga rujukan contoh kawasan konservasi eksitu adalah kebun binatang (zoos), kebun raya (botanical garden), sea world (aquaria), bank genetik, kebun plasma nutfah dsb.
Pendekatan konservasi eksitu memiliki kritik berkaitan dengan (1) minimnya jumlah jenis yang dikonservasi, karena terutama hanya berfokus pada mamalia, reptilia dan aves, sementara takson lain diabaikan, (2) membutuhkan pendanaan yang cukup besar, (3) membutuhkan keahlian khusus, sehingga cenderung ekslusif dimana tidak semua orang mampu melakukannya, hanya yang memiliki keahlian atau ketrampilan tertentu, (4) etika yang berkaitan dengan kesejahteraan hewan (animal welfare).
Sedangkan konservasi insitu juga memiliki kelemahan yang berkaitan dengan (1) kebutuhan luasan yang cukup luas, saat ini sulit mengalokasikan lahan yang cukup luas agar tidak bertabrakan dengan kepentingan ekonomi masyarakat setempat, dan (2) jaminan kelestarian populasi sulit dipertanggungjawabkan selama konflik sosial ekonomi masih ada.
6. Konservasi Sumber Daya Buatan Dan Cagar Budaya
Sumber daya buatan adalah hasil pengembangan buatan dari sumber daya alam hayati atau non hayati yang ditunjuk untuk meningkatkan kualitas, kuantitas dan atau kemampuan daya dukungnya. Pengertian tersebut di atas menggambarkan bahwa sumber daya buatan adalah sumber daya alam yang karena intervensi manusia telah berubah menjadi sumber daya buatan. Bentuk sumber daya buatan ini dapat dilihat pada kawasan budidaya, kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, maupun kawasan cagar alam. Fungsi kawasan-kawasan tersebut dapat sebagai pelindung kelestarian lingkungan hidup, dibudidayakan, permukiman, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan manusia dan kesinambungan pembangunan.
a. Benda Cagar Budaya
Benda Cagar Budaya adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Benda Cagar Budaya, juga dapat berupa benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Benda Cagar Budaya berada dalam suatu lokasi yang disebut dengan situs, sedangkan situs berada dalam suatu kawasan yang disebut dengan kawasan cagar budaya. Bentuk benda cagar budaya dalam konteks lingkungan kota atau kawasan perkotaan dapat berupa satuan areal, satuan visual atau landscape, dan satuan fisik.
b. Konservasi Sumber Daya Buatan dan Cagar Budaya
Konservasi sumber daya buatan dapat meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan yang mencakup preservasi, restorasi, rekonstruksi, adaptasi, dan revitalisasi. Adapun kriteria konservasi sumber daya buatan dapat ditinjau dari estetika, kejamakan, kelangkaan, peranan sejarah, memperkuat kawasan didekatnya, dan keistimewaan dari sumber daya buatan tersebut.
c. Strategi Konservasi Alam Indonesia
Strategi Konservasi Alam Indonesia sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan- ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (sekarang UU No. 23 Tahun 1997). Strategi konservasi sumber daya alam disusun dengan maksud untuk memberikan pedoman kepada para pengelolaan sumber daya alam dalam menggunakan sumber daya alam tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pembangunan. Menurut UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, Kewenangan daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan lain. Kewenangan lain yang dimaksud meliputi kebijaksanaan tentang antara lain pendayagunaan sumber daya alam serta konservasi. Kebijakan ini dijelaskan lebih lanjut dalam PP No. 25 Tahun 2000 tentang Tugas Pemerintah yang berkaitan dengan konservasi sumber daya hayati
d. Strategi Konservasi Alam Dunia
Sasaran Strategi Konservasi Dunia adalah untuk mencapai tiga tujuan utama:
1. Menjaga berlangsungnya proses ekologis yang esensial.
2. Pengawetan keanekaragaman plasma nutfah.
3. Menjamin kelestarian pemanfaatan jenis dan ekosistem.
Strategi Konservasi Alam Dunia meliputi:
1. Konservasi sumber daya hayati untuk pembangunan berkesinambungan.
2. Perlindungan Proses Ekologi yang terutama dan Sistem Penyangga Kehidupan.
3. Pengawetan Keanekaragaman Plasma nutfah.
4. Pemanfaatan Jenis dan Ekosistem secara lestari.
B. UNNES, Universitas Konservasi
Universitas Konservasi adalah Universitas yang dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi mengacu pada prinsip-prinsip konservasi, adapun prinsip konservasi tersebut adalah :
1. perlindungan,
2. pengawetan, dan
3. pemanfaatan
Banyak Universitas yang telah mengkampanyekan diri sebagai “ Conservatory Unniversity “ diantaranya adalah ITB, UI, UNNES dan sebagainya dengan program yang telah direncanakan dengan komprehensih dan terpadu melalui upaya kuratif maupun preventif. Universitas Negeri Semarang mempunyai potensi untuk mencapai “Universitas Konservasi”, denagan tinjauan beberapa hal. Diantaranya adalah letak Geografis dengan wilayah perbukitan sehingga berperan penting dalam fungsi hidrologis, serta memiliki berbagai tipe habitat dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, tidak hanya itu dipandang dari segi sumber daya alam ( SDA ) UNNES memiliki kekayaan flora dan fauna, diantarnya adalah ± 51 jenis tanaman di Kampus UNNES, 103 jenis tanaman, 3364 individu di Kebun Wisata Pendidikan Biologi dan 58 jenis kekayaan fauna, 14 jenis dilindungi Peraturan Perundangan Indonesia, 2 jenis : kategori CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora) appendix II, 1 jenis : kategori IUCN (International Union for Conservation of Nature) : Endangered Species, 5 jenis: endemik Jawa. Namun demikian lingkungan UNNES, selain itu ada beberapa alasan mendasar upaya konservasi di UNNES dijadikan komitmen yang implementatif diantaranya adalah :
1. Menurunnya kualitas lingkungan kampus
a) Turunnya debit air di Sekaran
b) Penurunan kualitas air tanah
c) Matinya beberapa sendang
d) Perubahan fungsi lahan
2. Kawasan kampus sebagai bagian dari ekosistem lingkungan yang lebih luas, sehingga sangat penting untuk menjaga kualitas lingkungan kawasan
3. Respons terhadap isu-isu lingkungan global (e.g., Global Warming, lubang ozon, keanekaragaman hayati), pencemaran lingkungan, bencana alam
4. UNNES bertanggung jawab mengusung misi pembangunan berkelanjutan (sustainable development).Agenda utama pembangunan berkelanjutan ini adalah upaya untuk menyinkronkan, mengintegrasikan, dan memberi bobot yang sama bagi tiga aspek utama pembangunan, yakni aspek ekonomi, sosial-budaya, dan melalui pembangunan berkelanjutan diharapkan titik berat yang selama ini hanya pada pembangunan ekonomi, dapat bergeser menjadi pembangunan yang meliputi pembangunan sosial-budaya, dan lingkungan hidup,” Dalam hal ini telah dipromosikan pendekatan konservasi di lingkungan UNNES. Salah satunya adalah dengan melakukan penanaman pohon di lingkungan UNNES.

C. Kesenian Gambang Semarang
Gambang Semarang adalah salah satu kesenian yang lahir dan berkembang di Semarang, kesenian ini merupakan indentitas budaya kota semarang. Bahkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang berencana membahas perlu tidaknya mematenkan budaya lokal Semarang ini, termasuk dengan menerbitkan peraturan daerah (Perda). Kabar Nusantara, 27/09/2009. Hal ini menegaskan Gambang Semarang adalah kesenian rakyat hasil integrasi budaya cina-jawa ( Semarang ) yang perlu dilestarikan. Selama ini Pemkot Semarang berusaha terus melestarikan budaya lokal Semarang di antaranya dengan memfasilitasi memberikan anggaran kepada paguyuban, kelompok-kelompok seniman, termasuk lewat Dinas Pariwisata dan Budaya. Bahkan Untuk merealisasikan konsep-konsep penataan kesenian Gambang Semarang sebagai identitas budaya Semarang pernah dilakukan pelatihan terhadap kelompok Gambang Semarang Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Hasil penataan dan pelatihan itu telah dipentaskan dalam lokakarya pada tanggal 8 Desember 1999 di Hotel Jatra Jasa Semarang.
Kesenian ini menampilkan unsur-unsur seni musik, vokal, tari dan lawak. Jika dilihat pola garapannya, Gambang Semarang dapat dikategorikan sebagai kesenian tradisional kerakyatan, karena ia berkembang di kalangan rakyat jelata,yang telah menempuh perjalanan sejarah yang cukup lama, dan perkembangannya tetap bertumpu pada unsur-unsur seni yang telah dimilikinya sejak dulu.
Pada umumnya kesenian tradisional diartikan sebagai suatu kesenian yang tumbuh dan berkembang di daerah tertentu, yang didukung oleh masyarakat setempat. Gambang Semarang pun lahir karena inisiatif dan dukungan masyarakat Semarang yang ingin memenuhi kebutuhannya akan kesenian. Dilihat dari fungsinya Gambang Semarang merupakan seni pertunjukan communal support, yang dipentaskan dalam berbagai event seperti perayaan tahun baru Cina di klenteng-klenteng, acara pernikahan, khitanan, karnaval “dugderan” (perayaan menyambut bulan suci Ramadhan), penyambutan turis mancanegara, pasar malam di berbagai kota, dan sebagainya. Dalam setiap pementasan tampak ada urutan penyajian.

BAB III
METODE PENULISAN

A. Pendekatan penulisan
Karya tulis ini menggunakan pendekatan diskriptif berdasarkan kajian kepustakaan. Pemilihan pendekatan ini diharapkan dapat mempermudah penulis untuk mencapai tujuan dari penulisan ini.
B. Sumber Kajian
Data-data yang dimanfaatkan penulis berasal dari kepustakaan, antara lain : berbagai buku, jurnal, surat kabar, majalah, hasil penelitian, internet, Televisi maupun wawancara.
C. Prosedur Penulisan Karya Tulis
Penulisan karya tulis ini dilakukan dengan tahapan-tahapan yang sesuai dengan panduan yang digunakan dalam Program Kreatifitas Mahasiswa Gagasan Tertulis ( PKM-GT ) tahun 2009, yaitu :
1. Menentukan dan merumuskan masalah
2. Mengumpulkan sumber pustaka
3. Mengkaji data
4. Menarik kesimpulan dan merumuskan saran
5. Menyusun karya tulis

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Kampanye Konservasi Melalui Kesenian Gambang
Definisi kampanye menurut id.wikipedia.org adalah sebuah tindakan sosialisasi yang bertujuan untuk mendapatkan dukungan. Usaha kampanye bisa dilakukan oleh peorangan atau sekelompok orang yang terorganisir. Kampanye biasa juga dilakukan guna mempengaruhi, penghambatan, pembelokan pecapaian atau untuk mengubah kebijakan dalam suatu institusi. sosialisasi tidak hanya proses bagaimana suatu program bisa dipahami dan dimengerti oleh masyarakat, bukan pula hanya sekedar media publikasi, tetapi merupakan bagian dari proses pemberdayaan.
Sebagai bagian dari proses pemberdayaan, tentunya sosialisasi tidak hanya dilakukan ketika awal pelaksanaan program, tetapi berkelanjutan sampai prinsip dan nilai yang diusung, diinternalisasikan menjadi sebuah kebiasaan masyarakat dalam memerangi ketidakberdayaannya. Sosialisasi diartikan sebagai kegiatan mengkomunikasikan keberadaan dan konsep-konsep, ketentuan, nilai dan norma, metodologi, serta pelaksanaan, sehingga terjadi pemahaman kritis pada masyarakat sasaran, dan dapat mengarah pada perubahan sikap dan perilaku.
Sedangkan menurut ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan, dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Menurut George Herbert Mead, sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan melalui empat tahap.
Pertama, tahap persiapan (preparatory stage). Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan. Saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru, meski tidak sempurna.
Kedua, tahap meniru (play stage). Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan lain-lain. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (significant other).
Ketiga, tahap siap bertindak (game stage). Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat, sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.
Keempat, tahap penerimaan norma kolektif (generalized stage). Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya, tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama, bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya, secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.
Sama halnya dengan sosialisasi dalam Conservatory University, keempat tahap ini juga harus berlaku. Dimana pada Tahap Persiapan, diibaratkan masyarakat yang menjadi sasaran, sebagai seorang anak kecil yang baru lahir, belum tahu sama sekali apa itu Conservatory University. Masyarakat sasaran mulai mempersiapkan diri untuk mengenal apa itu Conservatory University. Kemudian berlanjut kepada Tahap Meniru, yang diibaratkan dengan terbentuknya kesadaran di masyarakat intern maupun ekstern, tentang apa itu Conservatory University dan bagaimana prinsip dan nilai yang dibawa oleh Conservatory University.
Pada Tahap Bertindak, diibarakan masyarakat yang tadinya mempunyai kesadaran tentang prinsip dan nilai konservasi, secara langsung berperan dalam pelaksanaan prinsip dan nilai konservasi tersebut. Pada tahap terakhir, Tahap Penerimaan Norma Kolektif, diibaratkan masyarakat sasaran secara bersama-sama sudah menjadikan prinsip dan nilai yang diusung oleh Conservatory University sebagai norma, aturan dan bahkan menjadi budaya dalam kehidupan sehari-harinya.
Secara sekilas kita melihat begitu mudahnya melakukan perubahan sikap dan perilaku dari masyarakat sasaran. Tetapi, bukan berarti tidak akan ada hambatan dalam setiap tahap sosialisasi tersebut. Bisa jadi tahap persiapan berhasil, kemudian berhenti pada tahap keduanya, karena tidak muncul kesadaran tentang prinsip dan nilai konservasi. Atau mungkin muncul kesadaran, tapi berhenti pada tahap ke tiga, yaitu prinsip dan nilai konservasi yang telah disadari oleh masyarakat tersebut, yang ternyata tidak diperankan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pelaksanaan kegiatan konservasi tidak berjalan berdasarkan prinsip dan nilai yang diusung. Atau bisa jadi tahap ke tiga bisa dilalui dengan sempurna, sehingga pelaksanaan kegiatan konservasi di lapangan sesuai dengan prinsip dan nilai yang dibawa oleh Program, tetapi pada tahap keempat tidak berjalan. Artinya prinsip dan nilai konservasi tersebut tidak dijadikan aturan, norma atau budaya dari masyarakat tersebut, sehingga perubahan sikap dan perilaku tidak terjadi secara total.

1. Pelaksanaan
Pelaksanaan program “University Compaign Conservation with Culture ” Kampanye Perilaku Konservatif Melalui Kesenian Rakyat Integrasi Budaya Gambang Semarang kesenian Gambang Semarang adalah sebagai berikut. Pertunjukan dimulai dengan lagu pembukaan yang berupa instrumentalia. Lagu-lagu yang biasa disajikan untuk pembukaan adalah “Cepret Payung”, “Kicir-kicir”, “Jangkrik Genggong”, dan lagu-lagu lain. Setelah itu disajikan vokal-instrumental dengan lagu-lagu antara lain: “Awe-awe”, “Lenggang Surabaya”, “Puteri Solo”, “Aksi Kucing”, atau lagu-lagu yang cocok dengan iringan musik Gambang Semarang. Penyajian berikutnya adalah tari dengan iringan lagu “Empat Penari” atau lagu-lagu yang lain .
Apabila dilihat secara sepintas tari dalam seni pertunjukan Gambang Semarang tidak memiliki aturan-aturan gerak yang baku. Akan tetapi jika diperhatikan secara cermat, tari tersebut memiliki unsur-unsur gerak tari yang disebut lambeyan, genjot, ngondek, dan ngeyek. Dalam penataan tari, perkembanganya telah diciptakan dua buah komposisi yang berjudul Tari Gambang Semarang dan Tari Goyang Semarang. Musik iringan tari ditata dengan pembuatan aransemen lagu Gambang Semarang dan Gado-gado Semarang serta menciptakan lagu Tari Goyang Semarang, yang dapat mendukung perwujudan gerak tarinya.
Penataan lawak dilakukan dengan mengacu pada bentuk-bentuk lawakan Gambang Semarang, yaitu: lawakan verbal, nonverbal, dan musikal. Penggarapan lawak dilakukan dengan menggubah cerita lawak dalam tradisi Gambang Semarang. Media komunikasi yang digunakan dalam penataan lawak ini adalah bahasa rakyat Semarang yang bersifat multilingual. Selingan lawak ini dengan tema yang disesuaikan dengan kondisi aktual sehingga merupakan bagian stimulan untuk mempengaruhi penonton sesuai dengan tema “ UNNES menuju Universitas Konservasi “. Dalam penyajian lawak para pelawak juga menyanyikan lagu-lagu yang cocok untuk dibawakan secara bersahutan seperti lagu “Jali-jali”. Syair lagunya dengan diganti kata-kata sesuai dengan tema, sehingga alur ceritanya entertaining tapi bersifat education. Pertunjukan ini diakhiri dengan lagu-lagu penutup atau lagu-lagu yang memuat kata-kata “pamit” seperti “Walang Kekek” , “Keroncong Kemayoran”, dan “Jali-jali” sebagai mana pertunjukan pada umumnya dalam pentas budaya pada masyarakat semarang pada khususnya.

2. Sasaran Program
Khalayak sasaran ini dapat dibagi dalam 2 katagori, yakni :
1. Khalayak sasaran Primer, terdiri dari: Seluruh warga masyarakat Universitas Negeri Semarang.
2. Khalayak sasaran Skunder, terdiri dari:
2.I Sasaran intern
a. Kelompok Strategis yang terdiri dari:
Para pemegang posisi kunci yang dianggap dapat mempengaruhi atau mendorong terjadi-nya perubahan di masyarakat sasaran misalnya Team Universitas Konservasi.
b. Kelompok Peduli yang terdiri dari:
Orang-orang/ Organisasi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah konservasi, misalnya Mahapala, Green Community, “Pelatuk” Bird Study Club)‏
2.2 Sasaran Ekstern
Yakni masyarakat luar ( ekstern ) terutama masyarakat sekitar kampus, dan diharapkan dapat menjadi stimulan bagi masyarakat nasional maupun internasional terlebih lagi instansi-instansi pendidikan. hal ini penting mengingat kegiatan yang menyeluruh dan padu, dengan tidak hanya memiliki satu prinsip tapi beberapa prinsip yang terkait dengan kemandirian, efisiensi, keberlanjutan dan partisipasi dalam upaya konservasi.

B. Perubahan perilaku
Untuk memahami apakah yang dimaksud dengan sikap dan bagaimana hubungan sikap dengan perilaku, penulis memulai dengan sebuah renungan berikut ini. Di saat kita melihat seseorang mengalami suatu peristiwa tertentu, sering kita berpikir mengapa orang melakukan perilaku tertentu? Apabila perilaku tersebut tidak pernah dilakukan sebelumnya, muncul pertanyaan seputar mengapa orang tidak mau melakukannya. Pada saat seseorang berubah pikirannya dan dia melakukan perilaku yang selama ini tidak pernah dilakukannya, muncul pertanyaan berikutnya ‘bagaimana orang dapat mengubah pikirannya?’. ‘Mengapa dulu ia tidak suka melakukan hal itu tetapi sekarang tiba-tiba ia melakukannya?’. Sebagai contoh, dalam mencermati perilaku individu yang merusak lingkungan, mengapa ada individu yang sangat suka berbuat seperti itu?, mengapa individu yang lain tidak perduli dengan lingkunganya? Apabila selama ini individu tidak bersikap konservatif.Apakah yang menyebabkan perubahan perilaku tersebut?’. Apakah ini disebabkan oleh sikap seseorang yang berubah?.
Sikap adalah bagian yang penting di dalam kehidupan sosial, karena kehidupan manusia selalu dalam berinteraksi dengan orang lain. Menurut pendapat beberapa pakar, sikap menentukan perilaku seseorang. Misalnya Mitchell (1990) berpendapat bahwa sikap sekelompok orang terhadap orang lain dapat mempengaruhi kehidupan dan keberhasilan orang lain Pendapat yang dikemukakan oleh Mitchell ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Cockcoft (1982); dan NSW Department of School Education (1989). Selain itu ditegaskan Sikap seseorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi tentang objek tersebut, melalui persuasi serta tekanan dari kelompok sosialnya (Sarwono 1993).
Perilaku sebagai bentuk respons individu yang disengaja, dapat mengalami perubahan yang disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor penyebab perubahan perilaku adalah karena pemberian penguatan. Perilaku yang dapat berbentuk tertutup (covert behavior) sebagai bentuk respons psikis, dapat pula berbentuk terbuka (overt behavior) sebagai respons fisik. Perilaku tertutup terdiri dari kognitif sebagai produk intelegensi, penalaran; afektif sebagai cerminan perasaan, emosi; dan psikomotorik yang diidentikkan dengan konatif yakni kecenderungan atau kesiapan untuk melakukan sesuatu.
Dalam kampanye juga terjadi proses peniruan ( Modeling ), modeling lebih dari sekedar peniruan atau mengulangi perilaku model tetapi modeling melibatkan penambahan dan atau pengurangan tingkah laku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus melibatkan proses kognitif. Modelling dilakukan melalui empat proses yaitu perhatian, representasi, peniruan tingkah laku, motivasi dan penguatan. Perhatian dipengaruhi oleh asosiasi pengamat dengan orang yang diamati (model), sifat dari model tersebut, dan arti penting tingkah laku yang diamati. Representasi berarti tingkah laku yang akan ditiru harus disimbolisasikan dalam ingatan. Dalam peniruan tingkah laku, pengamat harus mempunyai kemampuan untuk menirukan perilaku dari model yang diamati. Modeling ini akan efektif jika orang yang mengamati mempunyai motivasi yang tinggi untuk meniru tokoh yang diamatinya.

C. Pemanfaatan teori yang dikemukakan B.F Skinner
Seorang tokoh ternama yang sangat berperan dalam teori pembelajaran perilaku adalah B.F. Skinner. Skinner mempelajari hubungan antara tingkah laku dan konsekuensinya. Menurut skinner, belajar merupakan perubahan perilaku (Bell Gredler, 1994 : 117). B.F. Skinner bersependapat dengan Pavlov ( Teori pelaziman klasik ), yakni setiap rangsangan akan menimbulkan gerak balas. Gerak balas bermaksud bentuk tingkah laku yang timbul akibat sesuatu rangsangan.Rangsangan ialah bentuk tenaga yang menimbulkan gerak balas, kemudian perlakuan harus diperhatikan dalam jangka masa yang panjang dan membentuk perlakuan yang kompleks daripada perlakuan yang mudah
B.F Skinner membedakan adanya dua macam respons, yaitu:
1) Respondent response (reflexive response): respon yang ditimbulkan oleh perangsang perangsang tertentu. Misalnya, keluar air liur setelah melihat makanan ter¬tentu. Pada umumnya, perangsang perangsang yang demikian itu mendahului respon yang ditimbulkannya.
2) Operant response (instrumental response): yaitu res¬pon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh pe¬rangsang perangsang tertentu. Perangsang yang demiki¬an itu disebut reinforcing stimuli atau reinforcer, kare¬na perangsang itu memperkuat respon yang telah di-lakukan oleh organisme.
Di dalam kenyataan, respon jenis pertama sangat terbatas adanya pada manusia. Sebaliknya operant response merupakan bagian terbesar dari tingkah laku, manusia dan kemungkin¬an untuk memodifikasinya hampir tak terbatas. Oleh karena itu, Skinner lebih memfokuskan pada respon atau jenis tingkah laku yang kedua ini.
Prinsip yang paling penting dalam teori belajar perilaku adalah bahwa perilaku berubah sesuai dengan konsekuensi-konsekuensi langsung dari perilaku-perilaku tersebut. Konsekuensi yang menyenangkan akan “memperkuat” perilaku, sedangkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan akan “memperlemah” perilaku. Dengan kata lain, konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan akan meningkatkan frekuensi seseorang untuk melakukan perilaku yang serupa, sedangkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan akan menurunkan frekuensi seseorang untuk melakukan perilaku yang serupa (Budayasa, 1998 : 14).
Konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan disebut penguat (reinforcer), sedangkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan disebut hukuman (punisher). Menurut Slavin (1994b : 157) penggunaan konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan untuk mengubah perilaku itu disebut pengkondisisan operant (operant conditioning).
Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia. juga tidak lain adalah hasil daripada conditi¬oning. Yakni hasil daripada latihan latihan atau kebiasaan-¬kebiasaan mereaksi terhadap syarat syarat/perangsang¬-perangsang tertentu yang dialaminya di dalam kehidup¬annya, hal ini dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satu diantaranya adalah dengan kampanye sebagai sosialisasi.

BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Kegiatan ini merupakan kampanye dengan mengacu pada beberapa aspek yakni masyarakat sasaran, aspek teknis, lingkungan, dan sosio-kultural ynag berpijak pada konservasi budaya dan konservasi lingkungan. Sosialisasi dalam suatu kegiatan mempunyai peranan penting. Artinya, ketika sosialisasi tersebut tidak berjalan dengan baik, maka yakinlah bahwa program tidak akan berhasil. Bahkan jika sosialisasi awal atau tahap persiapan dan tahap meniru tidak berjalan dengan benar, sehingga program yang dibawa ditolak mentah-mentah oleh masyarakat. Hal ini bisa saja terjadi karena agen sosialisasi tersebut tidak memahami secara menyeluruh tentang prinsip dan nilai yang dbawa oleh programnya
Program “ University Compaign Conservation with Culture ” Kampanye Perilaku Konservatif Melalui Kesenian Rakyat Integrasi Budaya Gambang Semarang. Merupakan instrumen pewartaan yang dilakukan untuk menginformasikan, mengajak dan mempengaruhi khalayak dalam jumlah yang lebih besar dengn syarat-syarat/perangsang sosiol, kultur, dan lingkungan untuk turut dan andil dalam kegiatan yang diinisiatifkan atau dijalankan dengan motivasi, orientasi dan kecenderungan yang dimilikinya, dan stimulant dengan faktor intelektual, logika, moralitas dan kemerdekaannya dengan memanfaatkan teori B.F Skinner. Sehingga Jika seseorang telah mengambil keputusan untuk menggapai sesuatu, maka ia akan memusatkan perhatian dan pekerjaannya pada pencapaian hal yang diinginkan itu. Dalam perspektif ini maka tingkahlaku manusia bisa diubah, tekad untuk memperbaiki diri bisa datang karena keinginannya yang kuat, bisa juga karena pengaruh positip yang datang dari luar, dari ajakan orang atau dari pengaruh lingkungan sosial yang kondusip, tetapi keputusan akhir untuk mengubah tingkahlaku tetap pada orang itu sendiri.

B. Saran
Bagi Mahasiswa
• Berpartisipasi dalam pelaksanaan “ University Compaign Conservation with Culture ” Kampanye Perilaku Konservatif Melalui Kesenian Rakyat Integrasi Budaya Gambang Semarang.
• Ikut menyukseskan program UNNES menuju Universitas konservasi.
Bagi Universitas
• Mempertimbangkan “ University Compaign Conservation with Culture” Kampanye Perilaku Konservatif Melalui Kesenian Rakyat Integrasi Budaya Gambang Semarang. Sebagai salah satu pewartaan/sosialisasi.
• Meningkatkan kegiatan sosialisasi dan tindakan nyata konservatif yang komprehensif dan terpadu.
Bagi Semua Pihak
• Berperan aktif dalam konservasi lingkungan maupun budaya.

DAFTAR PUSTAKA

Depari, Edward dan Collin Mac Andrews, 1991, Peranan Komunikasi Massa
Dalam Pembangunan, Gadjah Mada Press, Yogyakarta.
Fisher, B.Aubrey, 1990, Teori-Teori Komunikasi Massa, Remadja Karya,
Bandung.
Goldberg A Alvin, Carl E Larson, (diterjemahkan Koesdarini Soemiati dan Garry
Jusuf), 1985, Komunikasi Kelompok, Proses-Proses Diskusi dan Penerapannya,edisi pertama, UI Press, Jakarta.
Hardy, Malcom, (diterjemahkan Soenardji), 1988, Pengantar Psikologi,
Erlangga, Jakarta.
Hariyono, P. 1994. Kultur Cina dan Jawa. Pemahaman Menuju Asmiliasi
Jakarta : Universitas Indonesia Press.
Liliweri, Alo, 1991, Memahami Peran Komunikasi Dalam Masyarakat, Citra
Aditya Bakti, Bandung
Rakhmat, Jalaluddin, 2001, Psikologi Komunikasi, Remadja Karya, Bandung,
Semarang:Kerjasama Dati II Semarang, Dewan Kesenian Jawa Tengah, Aktor
Studio Semarang.
———————. 2005. Profil Kota Semarang. Semarang : Kantor Informasi dan KomunIkasi Kota Semarang.
Susanto. Hardhono. 2007. Serba Serbi Semarangan. The Variety Of Semarang.
Semarang : Mission Media..
Sears, O.David, Jonathan L Freedman dan L. Anne Peplau, 1992, Psikologi
Sosial, edisi lima, Erlangga, Jakarta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.