Archive for the ‘ KARYA TULIS ’ Category

“University Compaign Conservation with Culture ” Kampanye Perilaku Konservatif Melalui Kesenian Rakyat Integrasi Budaya Gambang Semarang

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah lingkungan hidup adalah masalah dengan multi sumber, multi penyebab dan multi dampak, yang bisa mengakibatkan terjadinya degradasi lingkungan di seluruh bagian bumi. Dalam acara pengarahan dan penjelasan terkait dengan visi “Universitas Konservasi” pada tanggal 10 Juni 2009 Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan UNNES, Masrukhi, yang juga merupakan Ketua Tim Universitas Konservasi. Menyatakan UNNES menuju universitas konservasi diperlukan dengan kenyataan bahwa kawasan kampus merupakan bagian dari ekosistem lingkungan yang lebih luas, tanggapan terhadap isu-isu lingkungan global (e.g., Global Warming, lubang ozon, keanekaragaman hayati), pencemaran lingkungan, bencana alam, menurunnya kualitas lingkungan kampus, dan UNNES bertanggung jawab mengusung misi pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
Sebuah program ataupun proyek sosial yang ditujukan untuk perubahan memerlukan instrumen pewartaan. Salah satu jalan pewartaan dilakukan dengan kampanye untuk menginformasikan, mengajak dan mempengaruhi khalayak dalam jumlah yang lebih besar untuk turut dan andil dalam kegiatan yang diinisiatifkan atau dijalankan.
Penulis mengusulkan kegiatan “University Compaign Conservation with Culture ” Kampanye Perilaku Konservatif Melalui Kesenian Rakyat Integrasi Budaya Gambang Semarang yang selain bertujuan sebagai wahana kampanye konservasi, juga mempererat visi dan misi hidup terlebih lagi menstimulasi kesadaran akan kepemilikan dan indentitas budaya sebagaimana instruksi presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada pemerintahanya untuk mendata hasil seni dan budaya di seluruh tanah air sehingga dapat di legalisasi atau dipatenkan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) hasil karya budaya. TV One, Kabar Nusantara, 27/09/2009.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep pelaksanaan “ University Compaign Conservation with Culture” Kampanye Perilaku Konservatif Melalui Kesenian Rakyat Integrasi Budaya Gambang Semarang?
2. Bagaimana sosialisasi atau perubahan perilaku kegiatan ini?

C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Peserta
a. Sebagai wahana untuk mengaktualisasikan ekspresi diri, perkembangan jiwa (mind), watak (character), kemampuan fisik (physical ability) individu.Melalui bermain kesenian rakyat Gambang Semarang.
b. Penanaman pendidikan humanis ( humanizing human being )
c. Sebagai latihan untuk meningkatkan self efficacy, self regulation dan pembangunaan karakter berwawasan lingkungan dan budaya.
2. Bagi Masyarakat kampus
a. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi dalam lingkungan kampus.
b. Pemberdayaan sikap mencintai, menghargai dan menghormati konservasi lingkungan kampus sebagaimana konservasi kesenian sebagai identitas bangsa.
c. Memberdayakan nilai-nilai nurani (values of being) dan nilai-nilai memberi (values of giving).
d. Sebagai konservasi, rekonstruksi, dan revitalisasi masyarakat kampus.

3. Bagi Masyarakat umum
a. Memberikan interprestasi atau dan penguatan ( reinforcement ) yang bersifat implementatif terhadap perilaku konservatif.
b. Meningkatkan kesadaran nilai-nilai konservasi akan situasi lingkungan nasional maupun global

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Hakekat Konservasi
1. Pengertian Konservasi
Konservasi adalah segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultural yang dikandungnya terpelihara dengan baik (Piagam Burra, 1981). Konservasi adalah pemeliharaan dan perlindungan terhadap sesuatu yang dilakukan secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan cara pengawetan (Peter Salim dan Yenny Salim, 1991).
2. Kegiatan Konservasi
Kegiatan konservasi selalu berhubungan dengan suatu kawasan, kawasan itu sendiri mempunyai pengertian yakni wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya (UU No. 24 Tahun 1992). Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam, sumber daya buatan, dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan
3. Konservasi Sumber Daya Alam Hayati
Mulai tahun 1970-an konservasi sumber daya alam di Indonesia berkembang dan memiliki suatu strategi yang bertujuan untuk:
a. Memelihara proses ekologi yang penting dan sistem penyangga kehidupan.
b. Menjamin keanekaragaman genetik.
c. Pelestarian pemanfaatan jenis dan ekosistem.
Peranan kawasan konservasi dalam pembangunan meliputi:
a. Penyelamat usaha pembangunan dan hasil-hasil pembangunan.
b. Pengembangan Ilmu Pendidikan.
c. Pengembangan kepariwisataan dan peningkatan devisa.
d. Pendukung pembangunan bidang pertanian.
e. Keseimbangan lingkungan alam.
f. Manfaat bagi manusia.
Berdasarkan Pasal 5 UU No. 5 Tahun 1990 dan Strategi Konservasi Dunia kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya meliputi kegiatan:
a. Perlindungan proses-proses ekologis yang penting atau pokok dalam sistem-sistem penyangga kehidupan.
b. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya.
c. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Kawasan dan Kegiatan Konservasi Hayati
Menurut UU No. 5 Tahun 1990, Kawasan Suaka Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah penyangga kehidupan.
Kawasan Suaka Alam terdiri dari:
a. Cagar Alam.
b. Suaka Margasatwa.
c. Hutan Wisata.
d. Daerah perlindungan Plasma Nutfah.
e. Daerah pengungsian satwa.
Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Dalam kegiatan pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dapat dilaksanakan di dalam kawasan (konservasi insitu) ataupun di luar kawasan (konservasi exsitu). Konservasi insitu adalah konservasi jenis flora dan fauna yang dilakukan di habitat aslinya baik di hutan, di laut, di danau, di pantai, dan sebagainya. Konservasi exsitu adalah konservasi jenis flora dan fauna yang dilakukan di luar habitat aslinya.
4. Konservasi Sumber Daya Alam Non Hayati
4.1 Konservasi Tanah dan Air
Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sedangkan konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air yang jatuh ke tanah seefisien mungkin, dan pengaturan waktu aliran sehingga tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau. Persoalan konservasi tanah dan air adalah kompleks dan memerlukan kerjasama yang erat antara berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti ilmu tanah, biologi, hidrologi, dan sebagainya. Pembahasan tentang konservasi tanah dan air ini selalu tidak akan terlepas dari pembahasan tentang siklus hidrologi. Siklus hidrologi ini meliputi proses-proses yang ada di dalam tanah, badan air, dan atmosfer, yang pada intinya terdapat dua proses yaitu evaporasi dan presipitasi yang dikendalikan oleh energi matahari.
4.2 Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan wilayah yang dibatasi oleh batas alam (topografi) di mana aliran permukaan yang jatuh akan mengalir ke sungai-sungai kecil menuju ke sungai besar akhirnya mencapai danau atau laut. Pengelolaan DAS berupaya untuk menselaraskan dikotomi kepentingan ekonomi dan ekologi. Kepentingan ekonomi jangka pendek akan terancam bila kepentingan ekologi diabaikan. Sebaliknya gerakan perbaikan ekologi yang melibatkan masyarakat tidak akan terpelihara secara terus menerus tanpa memberi dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Untuk mencapai tujuan pengelolaan DAS diperlukan upaya pokok dengan sasaran:
a. Pengelolaan Lahan
b. Pengelolaan Air
c. Pengelolaan Vegetasi.
4.3 Erosi dan Metode Konservasi Tanah dan Air
Erosi merupakan proses pengikisan tanah yang kemudian diangkut dari suatu tempat ke tempat lain oleh tenaga seperti: air, gelombang atau arus laut, angin, dan gletser. Ada dua jenis utama erosi yaitu erosi normal/geologi dan erosi yang dipercepat. Erosi normal yaitu proses-proses pengangkutan tanah yang terjadi di bawah keadaan vegetasi alami. Proses erosi ini berlangsung sangat lama dan proses ini yang menyebabkan kenampakan topografi yang terlihat sekarang ini, seperti: tebing, lembah, dan sebagainya. Sedangkan erosi dipercepat adalah pengangkutan tanah yang menimbulkan kerusakan tanah akibat aktivitas manusia yang mengganggu keseimbangan antara proses pembentukan dan pengangkutan tanah. Menurut bentuknya erosi dibedakan menjadi: erosi lembar, erosi alur, erosi parit, erosi tebing sungai, longsor, dan erosi internal. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi erosi adalah iklim, topografi, tumbuh-tumbuhan, tanah, dan manusia. Eischemeier (1976) mengembangkan persamaan rata-rata tahunan kehilangan tanah yaitu: A = R K L S C P, di mana A adalah banyaknya tanah yang tererosi, R adalah faktor curah hujan dan aliran permukaan, K adalah faktor erodibilitas tanah, L adalah faktor panjang lereng, S adalah faktor kecuraman lereng, C adalah faktor vegetasi penutup tanah dan pengelolaan tanaman, dan P adalah faktor konservasi tanah. Beberapa metode konservasi tanah dapat dibagi dalam tiga golongan utama, yaitu: (1) metode vegetatif, (2) metode mekanik, dan (3) metode kimia.
5. Upaya konservasi
Saat ini upaya konservasi cenderung dipilah menjadi 2 kategori besar, yaitu konservasi in situ dan konservasi eksitu. Konservasi in situ adalah upaya konservasi suatu species di habitat aslinya, sebaliknya konservasi ek situ adalah upaya konservasi suatu species di luar habitat aslinya. Kalo melihat pengertian awalnya sebenarnya upaya konservasi sudah terbagi habis menjadi 2 kelompok tadi, dimana konservasi dibagi menjadi di dalam dan diluar habitat aslinya.
Pada perkembangannya, terminologi konservasi ek situ cenderung terspesialisasi menjadi suatu upaya konservasi yang dilakukan di luar habitat manusia dengan intervensi manusia yang cukup intensif, sehingga rujukan contoh kawasan konservasi eksitu adalah kebun binatang (zoos), kebun raya (botanical garden), sea world (aquaria), bank genetik, kebun plasma nutfah dsb.
Pendekatan konservasi eksitu memiliki kritik berkaitan dengan (1) minimnya jumlah jenis yang dikonservasi, karena terutama hanya berfokus pada mamalia, reptilia dan aves, sementara takson lain diabaikan, (2) membutuhkan pendanaan yang cukup besar, (3) membutuhkan keahlian khusus, sehingga cenderung ekslusif dimana tidak semua orang mampu melakukannya, hanya yang memiliki keahlian atau ketrampilan tertentu, (4) etika yang berkaitan dengan kesejahteraan hewan (animal welfare).
Sedangkan konservasi insitu juga memiliki kelemahan yang berkaitan dengan (1) kebutuhan luasan yang cukup luas, saat ini sulit mengalokasikan lahan yang cukup luas agar tidak bertabrakan dengan kepentingan ekonomi masyarakat setempat, dan (2) jaminan kelestarian populasi sulit dipertanggungjawabkan selama konflik sosial ekonomi masih ada.
6. Konservasi Sumber Daya Buatan Dan Cagar Budaya
Sumber daya buatan adalah hasil pengembangan buatan dari sumber daya alam hayati atau non hayati yang ditunjuk untuk meningkatkan kualitas, kuantitas dan atau kemampuan daya dukungnya. Pengertian tersebut di atas menggambarkan bahwa sumber daya buatan adalah sumber daya alam yang karena intervensi manusia telah berubah menjadi sumber daya buatan. Bentuk sumber daya buatan ini dapat dilihat pada kawasan budidaya, kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, maupun kawasan cagar alam. Fungsi kawasan-kawasan tersebut dapat sebagai pelindung kelestarian lingkungan hidup, dibudidayakan, permukiman, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan manusia dan kesinambungan pembangunan.
a. Benda Cagar Budaya
Benda Cagar Budaya adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Benda Cagar Budaya, juga dapat berupa benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Benda Cagar Budaya berada dalam suatu lokasi yang disebut dengan situs, sedangkan situs berada dalam suatu kawasan yang disebut dengan kawasan cagar budaya. Bentuk benda cagar budaya dalam konteks lingkungan kota atau kawasan perkotaan dapat berupa satuan areal, satuan visual atau landscape, dan satuan fisik.
b. Konservasi Sumber Daya Buatan dan Cagar Budaya
Konservasi sumber daya buatan dapat meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan yang mencakup preservasi, restorasi, rekonstruksi, adaptasi, dan revitalisasi. Adapun kriteria konservasi sumber daya buatan dapat ditinjau dari estetika, kejamakan, kelangkaan, peranan sejarah, memperkuat kawasan didekatnya, dan keistimewaan dari sumber daya buatan tersebut.
c. Strategi Konservasi Alam Indonesia
Strategi Konservasi Alam Indonesia sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan- ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (sekarang UU No. 23 Tahun 1997). Strategi konservasi sumber daya alam disusun dengan maksud untuk memberikan pedoman kepada para pengelolaan sumber daya alam dalam menggunakan sumber daya alam tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pembangunan. Menurut UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, Kewenangan daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan lain. Kewenangan lain yang dimaksud meliputi kebijaksanaan tentang antara lain pendayagunaan sumber daya alam serta konservasi. Kebijakan ini dijelaskan lebih lanjut dalam PP No. 25 Tahun 2000 tentang Tugas Pemerintah yang berkaitan dengan konservasi sumber daya hayati
d. Strategi Konservasi Alam Dunia
Sasaran Strategi Konservasi Dunia adalah untuk mencapai tiga tujuan utama:
1. Menjaga berlangsungnya proses ekologis yang esensial.
2. Pengawetan keanekaragaman plasma nutfah.
3. Menjamin kelestarian pemanfaatan jenis dan ekosistem.
Strategi Konservasi Alam Dunia meliputi:
1. Konservasi sumber daya hayati untuk pembangunan berkesinambungan.
2. Perlindungan Proses Ekologi yang terutama dan Sistem Penyangga Kehidupan.
3. Pengawetan Keanekaragaman Plasma nutfah.
4. Pemanfaatan Jenis dan Ekosistem secara lestari.
B. UNNES, Universitas Konservasi
Universitas Konservasi adalah Universitas yang dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi mengacu pada prinsip-prinsip konservasi, adapun prinsip konservasi tersebut adalah :
1. perlindungan,
2. pengawetan, dan
3. pemanfaatan
Banyak Universitas yang telah mengkampanyekan diri sebagai “ Conservatory Unniversity “ diantaranya adalah ITB, UI, UNNES dan sebagainya dengan program yang telah direncanakan dengan komprehensih dan terpadu melalui upaya kuratif maupun preventif. Universitas Negeri Semarang mempunyai potensi untuk mencapai “Universitas Konservasi”, denagan tinjauan beberapa hal. Diantaranya adalah letak Geografis dengan wilayah perbukitan sehingga berperan penting dalam fungsi hidrologis, serta memiliki berbagai tipe habitat dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, tidak hanya itu dipandang dari segi sumber daya alam ( SDA ) UNNES memiliki kekayaan flora dan fauna, diantarnya adalah ± 51 jenis tanaman di Kampus UNNES, 103 jenis tanaman, 3364 individu di Kebun Wisata Pendidikan Biologi dan 58 jenis kekayaan fauna, 14 jenis dilindungi Peraturan Perundangan Indonesia, 2 jenis : kategori CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora) appendix II, 1 jenis : kategori IUCN (International Union for Conservation of Nature) : Endangered Species, 5 jenis: endemik Jawa. Namun demikian lingkungan UNNES, selain itu ada beberapa alasan mendasar upaya konservasi di UNNES dijadikan komitmen yang implementatif diantaranya adalah :
1. Menurunnya kualitas lingkungan kampus
a) Turunnya debit air di Sekaran
b) Penurunan kualitas air tanah
c) Matinya beberapa sendang
d) Perubahan fungsi lahan
2. Kawasan kampus sebagai bagian dari ekosistem lingkungan yang lebih luas, sehingga sangat penting untuk menjaga kualitas lingkungan kawasan
3. Respons terhadap isu-isu lingkungan global (e.g., Global Warming, lubang ozon, keanekaragaman hayati), pencemaran lingkungan, bencana alam
4. UNNES bertanggung jawab mengusung misi pembangunan berkelanjutan (sustainable development).Agenda utama pembangunan berkelanjutan ini adalah upaya untuk menyinkronkan, mengintegrasikan, dan memberi bobot yang sama bagi tiga aspek utama pembangunan, yakni aspek ekonomi, sosial-budaya, dan melalui pembangunan berkelanjutan diharapkan titik berat yang selama ini hanya pada pembangunan ekonomi, dapat bergeser menjadi pembangunan yang meliputi pembangunan sosial-budaya, dan lingkungan hidup,” Dalam hal ini telah dipromosikan pendekatan konservasi di lingkungan UNNES. Salah satunya adalah dengan melakukan penanaman pohon di lingkungan UNNES.

C. Kesenian Gambang Semarang
Gambang Semarang adalah salah satu kesenian yang lahir dan berkembang di Semarang, kesenian ini merupakan indentitas budaya kota semarang. Bahkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang berencana membahas perlu tidaknya mematenkan budaya lokal Semarang ini, termasuk dengan menerbitkan peraturan daerah (Perda). Kabar Nusantara, 27/09/2009. Hal ini menegaskan Gambang Semarang adalah kesenian rakyat hasil integrasi budaya cina-jawa ( Semarang ) yang perlu dilestarikan. Selama ini Pemkot Semarang berusaha terus melestarikan budaya lokal Semarang di antaranya dengan memfasilitasi memberikan anggaran kepada paguyuban, kelompok-kelompok seniman, termasuk lewat Dinas Pariwisata dan Budaya. Bahkan Untuk merealisasikan konsep-konsep penataan kesenian Gambang Semarang sebagai identitas budaya Semarang pernah dilakukan pelatihan terhadap kelompok Gambang Semarang Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Hasil penataan dan pelatihan itu telah dipentaskan dalam lokakarya pada tanggal 8 Desember 1999 di Hotel Jatra Jasa Semarang.
Kesenian ini menampilkan unsur-unsur seni musik, vokal, tari dan lawak. Jika dilihat pola garapannya, Gambang Semarang dapat dikategorikan sebagai kesenian tradisional kerakyatan, karena ia berkembang di kalangan rakyat jelata,yang telah menempuh perjalanan sejarah yang cukup lama, dan perkembangannya tetap bertumpu pada unsur-unsur seni yang telah dimilikinya sejak dulu.
Pada umumnya kesenian tradisional diartikan sebagai suatu kesenian yang tumbuh dan berkembang di daerah tertentu, yang didukung oleh masyarakat setempat. Gambang Semarang pun lahir karena inisiatif dan dukungan masyarakat Semarang yang ingin memenuhi kebutuhannya akan kesenian. Dilihat dari fungsinya Gambang Semarang merupakan seni pertunjukan communal support, yang dipentaskan dalam berbagai event seperti perayaan tahun baru Cina di klenteng-klenteng, acara pernikahan, khitanan, karnaval “dugderan” (perayaan menyambut bulan suci Ramadhan), penyambutan turis mancanegara, pasar malam di berbagai kota, dan sebagainya. Dalam setiap pementasan tampak ada urutan penyajian.

BAB III
METODE PENULISAN

A. Pendekatan penulisan
Karya tulis ini menggunakan pendekatan diskriptif berdasarkan kajian kepustakaan. Pemilihan pendekatan ini diharapkan dapat mempermudah penulis untuk mencapai tujuan dari penulisan ini.
B. Sumber Kajian
Data-data yang dimanfaatkan penulis berasal dari kepustakaan, antara lain : berbagai buku, jurnal, surat kabar, majalah, hasil penelitian, internet, Televisi maupun wawancara.
C. Prosedur Penulisan Karya Tulis
Penulisan karya tulis ini dilakukan dengan tahapan-tahapan yang sesuai dengan panduan yang digunakan dalam Program Kreatifitas Mahasiswa Gagasan Tertulis ( PKM-GT ) tahun 2009, yaitu :
1. Menentukan dan merumuskan masalah
2. Mengumpulkan sumber pustaka
3. Mengkaji data
4. Menarik kesimpulan dan merumuskan saran
5. Menyusun karya tulis

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Kampanye Konservasi Melalui Kesenian Gambang
Definisi kampanye menurut id.wikipedia.org adalah sebuah tindakan sosialisasi yang bertujuan untuk mendapatkan dukungan. Usaha kampanye bisa dilakukan oleh peorangan atau sekelompok orang yang terorganisir. Kampanye biasa juga dilakukan guna mempengaruhi, penghambatan, pembelokan pecapaian atau untuk mengubah kebijakan dalam suatu institusi. sosialisasi tidak hanya proses bagaimana suatu program bisa dipahami dan dimengerti oleh masyarakat, bukan pula hanya sekedar media publikasi, tetapi merupakan bagian dari proses pemberdayaan.
Sebagai bagian dari proses pemberdayaan, tentunya sosialisasi tidak hanya dilakukan ketika awal pelaksanaan program, tetapi berkelanjutan sampai prinsip dan nilai yang diusung, diinternalisasikan menjadi sebuah kebiasaan masyarakat dalam memerangi ketidakberdayaannya. Sosialisasi diartikan sebagai kegiatan mengkomunikasikan keberadaan dan konsep-konsep, ketentuan, nilai dan norma, metodologi, serta pelaksanaan, sehingga terjadi pemahaman kritis pada masyarakat sasaran, dan dapat mengarah pada perubahan sikap dan perilaku.
Sedangkan menurut ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan, dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Menurut George Herbert Mead, sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan melalui empat tahap.
Pertama, tahap persiapan (preparatory stage). Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan. Saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru, meski tidak sempurna.
Kedua, tahap meniru (play stage). Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan lain-lain. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (significant other).
Ketiga, tahap siap bertindak (game stage). Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat, sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.
Keempat, tahap penerimaan norma kolektif (generalized stage). Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya, tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama, bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya, secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.
Sama halnya dengan sosialisasi dalam Conservatory University, keempat tahap ini juga harus berlaku. Dimana pada Tahap Persiapan, diibaratkan masyarakat yang menjadi sasaran, sebagai seorang anak kecil yang baru lahir, belum tahu sama sekali apa itu Conservatory University. Masyarakat sasaran mulai mempersiapkan diri untuk mengenal apa itu Conservatory University. Kemudian berlanjut kepada Tahap Meniru, yang diibaratkan dengan terbentuknya kesadaran di masyarakat intern maupun ekstern, tentang apa itu Conservatory University dan bagaimana prinsip dan nilai yang dibawa oleh Conservatory University.
Pada Tahap Bertindak, diibarakan masyarakat yang tadinya mempunyai kesadaran tentang prinsip dan nilai konservasi, secara langsung berperan dalam pelaksanaan prinsip dan nilai konservasi tersebut. Pada tahap terakhir, Tahap Penerimaan Norma Kolektif, diibaratkan masyarakat sasaran secara bersama-sama sudah menjadikan prinsip dan nilai yang diusung oleh Conservatory University sebagai norma, aturan dan bahkan menjadi budaya dalam kehidupan sehari-harinya.
Secara sekilas kita melihat begitu mudahnya melakukan perubahan sikap dan perilaku dari masyarakat sasaran. Tetapi, bukan berarti tidak akan ada hambatan dalam setiap tahap sosialisasi tersebut. Bisa jadi tahap persiapan berhasil, kemudian berhenti pada tahap keduanya, karena tidak muncul kesadaran tentang prinsip dan nilai konservasi. Atau mungkin muncul kesadaran, tapi berhenti pada tahap ke tiga, yaitu prinsip dan nilai konservasi yang telah disadari oleh masyarakat tersebut, yang ternyata tidak diperankan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pelaksanaan kegiatan konservasi tidak berjalan berdasarkan prinsip dan nilai yang diusung. Atau bisa jadi tahap ke tiga bisa dilalui dengan sempurna, sehingga pelaksanaan kegiatan konservasi di lapangan sesuai dengan prinsip dan nilai yang dibawa oleh Program, tetapi pada tahap keempat tidak berjalan. Artinya prinsip dan nilai konservasi tersebut tidak dijadikan aturan, norma atau budaya dari masyarakat tersebut, sehingga perubahan sikap dan perilaku tidak terjadi secara total.

1. Pelaksanaan
Pelaksanaan program “University Compaign Conservation with Culture ” Kampanye Perilaku Konservatif Melalui Kesenian Rakyat Integrasi Budaya Gambang Semarang kesenian Gambang Semarang adalah sebagai berikut. Pertunjukan dimulai dengan lagu pembukaan yang berupa instrumentalia. Lagu-lagu yang biasa disajikan untuk pembukaan adalah “Cepret Payung”, “Kicir-kicir”, “Jangkrik Genggong”, dan lagu-lagu lain. Setelah itu disajikan vokal-instrumental dengan lagu-lagu antara lain: “Awe-awe”, “Lenggang Surabaya”, “Puteri Solo”, “Aksi Kucing”, atau lagu-lagu yang cocok dengan iringan musik Gambang Semarang. Penyajian berikutnya adalah tari dengan iringan lagu “Empat Penari” atau lagu-lagu yang lain .
Apabila dilihat secara sepintas tari dalam seni pertunjukan Gambang Semarang tidak memiliki aturan-aturan gerak yang baku. Akan tetapi jika diperhatikan secara cermat, tari tersebut memiliki unsur-unsur gerak tari yang disebut lambeyan, genjot, ngondek, dan ngeyek. Dalam penataan tari, perkembanganya telah diciptakan dua buah komposisi yang berjudul Tari Gambang Semarang dan Tari Goyang Semarang. Musik iringan tari ditata dengan pembuatan aransemen lagu Gambang Semarang dan Gado-gado Semarang serta menciptakan lagu Tari Goyang Semarang, yang dapat mendukung perwujudan gerak tarinya.
Penataan lawak dilakukan dengan mengacu pada bentuk-bentuk lawakan Gambang Semarang, yaitu: lawakan verbal, nonverbal, dan musikal. Penggarapan lawak dilakukan dengan menggubah cerita lawak dalam tradisi Gambang Semarang. Media komunikasi yang digunakan dalam penataan lawak ini adalah bahasa rakyat Semarang yang bersifat multilingual. Selingan lawak ini dengan tema yang disesuaikan dengan kondisi aktual sehingga merupakan bagian stimulan untuk mempengaruhi penonton sesuai dengan tema “ UNNES menuju Universitas Konservasi “. Dalam penyajian lawak para pelawak juga menyanyikan lagu-lagu yang cocok untuk dibawakan secara bersahutan seperti lagu “Jali-jali”. Syair lagunya dengan diganti kata-kata sesuai dengan tema, sehingga alur ceritanya entertaining tapi bersifat education. Pertunjukan ini diakhiri dengan lagu-lagu penutup atau lagu-lagu yang memuat kata-kata “pamit” seperti “Walang Kekek” , “Keroncong Kemayoran”, dan “Jali-jali” sebagai mana pertunjukan pada umumnya dalam pentas budaya pada masyarakat semarang pada khususnya.

2. Sasaran Program
Khalayak sasaran ini dapat dibagi dalam 2 katagori, yakni :
1. Khalayak sasaran Primer, terdiri dari: Seluruh warga masyarakat Universitas Negeri Semarang.
2. Khalayak sasaran Skunder, terdiri dari:
2.I Sasaran intern
a. Kelompok Strategis yang terdiri dari:
Para pemegang posisi kunci yang dianggap dapat mempengaruhi atau mendorong terjadi-nya perubahan di masyarakat sasaran misalnya Team Universitas Konservasi.
b. Kelompok Peduli yang terdiri dari:
Orang-orang/ Organisasi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah konservasi, misalnya Mahapala, Green Community, “Pelatuk” Bird Study Club)‏
2.2 Sasaran Ekstern
Yakni masyarakat luar ( ekstern ) terutama masyarakat sekitar kampus, dan diharapkan dapat menjadi stimulan bagi masyarakat nasional maupun internasional terlebih lagi instansi-instansi pendidikan. hal ini penting mengingat kegiatan yang menyeluruh dan padu, dengan tidak hanya memiliki satu prinsip tapi beberapa prinsip yang terkait dengan kemandirian, efisiensi, keberlanjutan dan partisipasi dalam upaya konservasi.

B. Perubahan perilaku
Untuk memahami apakah yang dimaksud dengan sikap dan bagaimana hubungan sikap dengan perilaku, penulis memulai dengan sebuah renungan berikut ini. Di saat kita melihat seseorang mengalami suatu peristiwa tertentu, sering kita berpikir mengapa orang melakukan perilaku tertentu? Apabila perilaku tersebut tidak pernah dilakukan sebelumnya, muncul pertanyaan seputar mengapa orang tidak mau melakukannya. Pada saat seseorang berubah pikirannya dan dia melakukan perilaku yang selama ini tidak pernah dilakukannya, muncul pertanyaan berikutnya ‘bagaimana orang dapat mengubah pikirannya?’. ‘Mengapa dulu ia tidak suka melakukan hal itu tetapi sekarang tiba-tiba ia melakukannya?’. Sebagai contoh, dalam mencermati perilaku individu yang merusak lingkungan, mengapa ada individu yang sangat suka berbuat seperti itu?, mengapa individu yang lain tidak perduli dengan lingkunganya? Apabila selama ini individu tidak bersikap konservatif.Apakah yang menyebabkan perubahan perilaku tersebut?’. Apakah ini disebabkan oleh sikap seseorang yang berubah?.
Sikap adalah bagian yang penting di dalam kehidupan sosial, karena kehidupan manusia selalu dalam berinteraksi dengan orang lain. Menurut pendapat beberapa pakar, sikap menentukan perilaku seseorang. Misalnya Mitchell (1990) berpendapat bahwa sikap sekelompok orang terhadap orang lain dapat mempengaruhi kehidupan dan keberhasilan orang lain Pendapat yang dikemukakan oleh Mitchell ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Cockcoft (1982); dan NSW Department of School Education (1989). Selain itu ditegaskan Sikap seseorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi tentang objek tersebut, melalui persuasi serta tekanan dari kelompok sosialnya (Sarwono 1993).
Perilaku sebagai bentuk respons individu yang disengaja, dapat mengalami perubahan yang disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor penyebab perubahan perilaku adalah karena pemberian penguatan. Perilaku yang dapat berbentuk tertutup (covert behavior) sebagai bentuk respons psikis, dapat pula berbentuk terbuka (overt behavior) sebagai respons fisik. Perilaku tertutup terdiri dari kognitif sebagai produk intelegensi, penalaran; afektif sebagai cerminan perasaan, emosi; dan psikomotorik yang diidentikkan dengan konatif yakni kecenderungan atau kesiapan untuk melakukan sesuatu.
Dalam kampanye juga terjadi proses peniruan ( Modeling ), modeling lebih dari sekedar peniruan atau mengulangi perilaku model tetapi modeling melibatkan penambahan dan atau pengurangan tingkah laku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus melibatkan proses kognitif. Modelling dilakukan melalui empat proses yaitu perhatian, representasi, peniruan tingkah laku, motivasi dan penguatan. Perhatian dipengaruhi oleh asosiasi pengamat dengan orang yang diamati (model), sifat dari model tersebut, dan arti penting tingkah laku yang diamati. Representasi berarti tingkah laku yang akan ditiru harus disimbolisasikan dalam ingatan. Dalam peniruan tingkah laku, pengamat harus mempunyai kemampuan untuk menirukan perilaku dari model yang diamati. Modeling ini akan efektif jika orang yang mengamati mempunyai motivasi yang tinggi untuk meniru tokoh yang diamatinya.

C. Pemanfaatan teori yang dikemukakan B.F Skinner
Seorang tokoh ternama yang sangat berperan dalam teori pembelajaran perilaku adalah B.F. Skinner. Skinner mempelajari hubungan antara tingkah laku dan konsekuensinya. Menurut skinner, belajar merupakan perubahan perilaku (Bell Gredler, 1994 : 117). B.F. Skinner bersependapat dengan Pavlov ( Teori pelaziman klasik ), yakni setiap rangsangan akan menimbulkan gerak balas. Gerak balas bermaksud bentuk tingkah laku yang timbul akibat sesuatu rangsangan.Rangsangan ialah bentuk tenaga yang menimbulkan gerak balas, kemudian perlakuan harus diperhatikan dalam jangka masa yang panjang dan membentuk perlakuan yang kompleks daripada perlakuan yang mudah
B.F Skinner membedakan adanya dua macam respons, yaitu:
1) Respondent response (reflexive response): respon yang ditimbulkan oleh perangsang perangsang tertentu. Misalnya, keluar air liur setelah melihat makanan ter¬tentu. Pada umumnya, perangsang perangsang yang demikian itu mendahului respon yang ditimbulkannya.
2) Operant response (instrumental response): yaitu res¬pon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh pe¬rangsang perangsang tertentu. Perangsang yang demiki¬an itu disebut reinforcing stimuli atau reinforcer, kare¬na perangsang itu memperkuat respon yang telah di-lakukan oleh organisme.
Di dalam kenyataan, respon jenis pertama sangat terbatas adanya pada manusia. Sebaliknya operant response merupakan bagian terbesar dari tingkah laku, manusia dan kemungkin¬an untuk memodifikasinya hampir tak terbatas. Oleh karena itu, Skinner lebih memfokuskan pada respon atau jenis tingkah laku yang kedua ini.
Prinsip yang paling penting dalam teori belajar perilaku adalah bahwa perilaku berubah sesuai dengan konsekuensi-konsekuensi langsung dari perilaku-perilaku tersebut. Konsekuensi yang menyenangkan akan “memperkuat” perilaku, sedangkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan akan “memperlemah” perilaku. Dengan kata lain, konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan akan meningkatkan frekuensi seseorang untuk melakukan perilaku yang serupa, sedangkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan akan menurunkan frekuensi seseorang untuk melakukan perilaku yang serupa (Budayasa, 1998 : 14).
Konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan disebut penguat (reinforcer), sedangkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan disebut hukuman (punisher). Menurut Slavin (1994b : 157) penggunaan konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan untuk mengubah perilaku itu disebut pengkondisisan operant (operant conditioning).
Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia. juga tidak lain adalah hasil daripada conditi¬oning. Yakni hasil daripada latihan latihan atau kebiasaan-¬kebiasaan mereaksi terhadap syarat syarat/perangsang¬-perangsang tertentu yang dialaminya di dalam kehidup¬annya, hal ini dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satu diantaranya adalah dengan kampanye sebagai sosialisasi.

BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Kegiatan ini merupakan kampanye dengan mengacu pada beberapa aspek yakni masyarakat sasaran, aspek teknis, lingkungan, dan sosio-kultural ynag berpijak pada konservasi budaya dan konservasi lingkungan. Sosialisasi dalam suatu kegiatan mempunyai peranan penting. Artinya, ketika sosialisasi tersebut tidak berjalan dengan baik, maka yakinlah bahwa program tidak akan berhasil. Bahkan jika sosialisasi awal atau tahap persiapan dan tahap meniru tidak berjalan dengan benar, sehingga program yang dibawa ditolak mentah-mentah oleh masyarakat. Hal ini bisa saja terjadi karena agen sosialisasi tersebut tidak memahami secara menyeluruh tentang prinsip dan nilai yang dbawa oleh programnya
Program “ University Compaign Conservation with Culture ” Kampanye Perilaku Konservatif Melalui Kesenian Rakyat Integrasi Budaya Gambang Semarang. Merupakan instrumen pewartaan yang dilakukan untuk menginformasikan, mengajak dan mempengaruhi khalayak dalam jumlah yang lebih besar dengn syarat-syarat/perangsang sosiol, kultur, dan lingkungan untuk turut dan andil dalam kegiatan yang diinisiatifkan atau dijalankan dengan motivasi, orientasi dan kecenderungan yang dimilikinya, dan stimulant dengan faktor intelektual, logika, moralitas dan kemerdekaannya dengan memanfaatkan teori B.F Skinner. Sehingga Jika seseorang telah mengambil keputusan untuk menggapai sesuatu, maka ia akan memusatkan perhatian dan pekerjaannya pada pencapaian hal yang diinginkan itu. Dalam perspektif ini maka tingkahlaku manusia bisa diubah, tekad untuk memperbaiki diri bisa datang karena keinginannya yang kuat, bisa juga karena pengaruh positip yang datang dari luar, dari ajakan orang atau dari pengaruh lingkungan sosial yang kondusip, tetapi keputusan akhir untuk mengubah tingkahlaku tetap pada orang itu sendiri.

B. Saran
Bagi Mahasiswa
• Berpartisipasi dalam pelaksanaan “ University Compaign Conservation with Culture ” Kampanye Perilaku Konservatif Melalui Kesenian Rakyat Integrasi Budaya Gambang Semarang.
• Ikut menyukseskan program UNNES menuju Universitas konservasi.
Bagi Universitas
• Mempertimbangkan “ University Compaign Conservation with Culture” Kampanye Perilaku Konservatif Melalui Kesenian Rakyat Integrasi Budaya Gambang Semarang. Sebagai salah satu pewartaan/sosialisasi.
• Meningkatkan kegiatan sosialisasi dan tindakan nyata konservatif yang komprehensif dan terpadu.
Bagi Semua Pihak
• Berperan aktif dalam konservasi lingkungan maupun budaya.

DAFTAR PUSTAKA

Depari, Edward dan Collin Mac Andrews, 1991, Peranan Komunikasi Massa
Dalam Pembangunan, Gadjah Mada Press, Yogyakarta.
Fisher, B.Aubrey, 1990, Teori-Teori Komunikasi Massa, Remadja Karya,
Bandung.
Goldberg A Alvin, Carl E Larson, (diterjemahkan Koesdarini Soemiati dan Garry
Jusuf), 1985, Komunikasi Kelompok, Proses-Proses Diskusi dan Penerapannya,edisi pertama, UI Press, Jakarta.
Hardy, Malcom, (diterjemahkan Soenardji), 1988, Pengantar Psikologi,
Erlangga, Jakarta.
Hariyono, P. 1994. Kultur Cina dan Jawa. Pemahaman Menuju Asmiliasi
Jakarta : Universitas Indonesia Press.
Liliweri, Alo, 1991, Memahami Peran Komunikasi Dalam Masyarakat, Citra
Aditya Bakti, Bandung
Rakhmat, Jalaluddin, 2001, Psikologi Komunikasi, Remadja Karya, Bandung,
Semarang:Kerjasama Dati II Semarang, Dewan Kesenian Jawa Tengah, Aktor
Studio Semarang.
———————. 2005. Profil Kota Semarang. Semarang : Kantor Informasi dan KomunIkasi Kota Semarang.
Susanto. Hardhono. 2007. Serba Serbi Semarangan. The Variety Of Semarang.
Semarang : Mission Media..
Sears, O.David, Jonathan L Freedman dan L. Anne Peplau, 1992, Psikologi
Sosial, edisi lima, Erlangga, Jakarta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.