Archive for the ‘ Kajian Bahasa Indonesia I ’ Category

Pembelajaran Inovatif Bahasa Indonesia

PEMBELAJARAN INOVATIF BAHASA INDONESIA

  1. Hakikat Bahasa
    1. Pengertian Bahasa

    Secara universal bahasa ialah suatu bentuk ungkapan yang bentuk dasarnya ujaran atau suatu ungkapan dalam bentuk bunyi ujaran. Bahasa dapat dilihat dari sifatnya, yaitu :
    a. sistematik, artinya memiliki sistem yaitu sistem bunyi (arus ujaran) dan makna;
    b. manasuka, artinya unsur-unsur bahasa dipilih secara acak tanpa dasar atau tidak ada hubungan logis antara bunyi (arus ujaran) dengan maknanya;
    c. ujar, artinya berbentuk ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia;
    d. manusiawi, artinya bahasa berfungsi selama manusia memanfaatkannya;
    e. komunikatif, artinya bahasa sebagai penyatu keluarga, masyarakat, dan bangsa dalam kegiatannya.
    Berdasarkan sifat-sifat tersebut, maka bahasa dapat dimaknai sebagai alat komunikasi antar manusia (anggota masyarakat) berupa lambang bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

    2. Bentuk dan Makna Bahasa

    Bahasa memiliki bentuk (arus ujaran) dan makna (isi). Bentuk bahasa terdiri dari (a) unsur segmental (bagian dari unsur bahasa yang terkecil sampai dengan yang terbesar), yaitu : fonem, suku kata, morfem, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana; (b) unsur suprasegmental (bagian bahasa yang berupa intonasi) yang terdiri dari : tekanan, nada, durasi, dan perhentian. Sedangkan makna bahasa terdiri dari : makna morfemis, makna leksikal, makna sintaksis, dan makna wacana.

    3. Fungsi Bahasa

    Bahasa memiliki fungsi
    a. fungsi informasi, yaitu untuk menyampaikan informasi timbal balik antar anggota masyarakat;
    b. fungsi ekspresi, yaitu menyalurkan perasaan, sikap, gagasan, emosi atau tekanan-tekanan perasaan pembicara;
    c. fungsi adaptasi dan integrasi, yaitu untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota masyarakat;
    d. fungsi kontrol sosial, yaitu untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain.
    Fungsi khusus bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yaitu : (a) fungsi untuk menjalankan administrasi negara, (b) fungsi sebagai alat pemersatu, dan (c) fungsi sebagai wadah penampung kebudayaan.

    4. Ragam Bahasa

    Bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan :
    a. bentuk wacana, terdiri dari ragam ilmiah dan ragam populer;
    b. bentuk sarana, terdiri dari ragam lisan dan ragam tulisan;
    c. sudut pendidikan, terdiri dari ragam bahasa baku dan ragam bahasa tidak baku.
    Bahasa baku memiliki ciri : (a) sifat kemantapan dinamis, (b) sifat kecendikiaan, dan (c) sifat penalaran yang teratur dan logis.

  2. Belajar Bahasa
  3. Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar

    Keberhasilan belajar bahasa dipengaruhi oleh faktor eksternal (guru, lingkungan, teman, keluarga, orang tua, masyarakat, dan lain-lain) dan faktor internal (motivasi, minat, bakat, sikap, kecerdasan, dan lain-lain).
    Berdasarkan faktor eksternal, ada tiga prinsip belajar bahasa, yaitu :

    (a) memberikan situasi dan materi belajar sesuai respon yang diharapkan siswa

    (b) ada pengulangan belajar agar sempurna dan tahan lama

    (c) ada penguatan respon belajar siswa.
    Berdasarkan faktor internal, belajar bahasa dapat dibantu dengan berbagai media visual, audio, atau audio visual.

  4. Jenis Keterampilan dan Perilaku dalam Belajar Bahas

    Secara umum keterampilan belajar bahasa meliputi :

    (a) keterampilan menyimak,

    (b) keterampilan berbicara,

    (c) keterampilan membaca,

    (d) keterampilan menulis.
    Menurut Valette dan Disk, keterampilan belajar bahasa diurutkan secara hirarkis dari yang paling sederhana kepada yang paling kompleks (luas), yang dibedakan pula atas perilaku internal dan perilaku eksternal, yaitu sebagai berikut :
    a. Keterampilan mekanis berupa hapalan atau ingatan (perilaku internal), yaitu menghapal atau mengingat bentuk-bentuk bahasa dari yang sederhana sampai ke yang kompleks. Perilaku eksternalnya (produktif) siswa meniru ajaran atau tulisan.
    b. Keterampilan pengenalan (metacognition) berupa mengenal kaidah kebahasaan (perilaku internal) dan perilaku eksternalnya adalah mengingat kaidah bahasa.
    c. Keterampilan transfer berupa menggunakan pengetahuan bahasa dalam situasi baru (perilaku internal). Perilaku eksternalnya (produktif) yaitu aplikasi pengetahuan/kaidah bahasa.
    d. Keterampilan komunikasi berupa penggunaan pengetahuan/kaidah bahasa dalam berkomunikasi. Perilaku eksternalnya (produktif) adalah ekspresi diri baik lisan atau tulisan.

  5. Strategi Pembelajaran Bahasa
    1. Pengertian Strategi Pembelajaran Bahasa

    Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, strategi bermakna sebagai rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Strategi dapat diartikan pula sebagai upaya untuk mensiasati agar tujuan suatu kegiatan dapat tercapai.
    Salah satu unsur dalam strategi pembelajaran adalah menguasai berbagai metoda/teknik pembelajaran. ciri suatu metoda/teknik pembelajaran yang baik adalah :
    a. mengundang rasa ingin tahu murid;
    b. menantang murid untuk belajar;
    c. memngaktifkan mental, fisik, dan psikis murid;
    d. memudahkan guru;
    e. mengembangkan kreativitas murid;
    f. mengembangkan pemahaman murid terhadap materi yang dipelajari.
    Beberapa metode/teknik yang perlu dikuasai guru dalam mengajarkan bahasa antara lain : diskusi, inkuiri, sosiodrama (bermain peran), tanya jawab, penugasan, latihan, dan bercerita.

    2. Contoh Penerapan Teknik Penyajian dalam Strategi Pembelajaran Bahasan

    a. Teknik diskusi
    Tujuan penggunaan :
    1) mengembangkan pengetahuan untuk pemecahan masalah;
    2) menyampaikan pendapat dengan bahasa yang baik dan benar;
    3) menghargai pendapat orang lain;
    4) berpikir kreatif dan kritis


    Teknik diskusi melatih siswa :
    1) merumuskan masalah;
    2) menetapkan tema;
    3) menyampaikan pendapat dengan tanggung jawab;
    4) menghargai pendapat orang lain;
    5) menarik kesimpulan;
    6) menyusun laporan diskusi


    Langkah-langkah pembelajaran :
    1) guru menyiapkan kartu-kartu masalah untuk setiap kelompok;
    2) guru membagi siswa dalam beberapa kelompok dan menetapkan ketua, moderator, dan penulis;
    3) guru memberi petunjuk cara berdiskusi;
    4) murid membaca kartu masalah;
    5) guru membimbing murid berdiskusi memecahkan masalah;
    6) murid mengakhiri diskusi dengan menulis jawaban masalah;
    7) laporan setiap kelompok;
    8) guru membimbing siswa menyimpulkan jawaban penegasan, dan penguatan.


    b. Teknik inkuiri
    Teknik inkuiri siswa diberi kesempatan untuk meneliti suatu masalah sehingga dapat menemukan cara pemecahannya.


    Tujuan penggunaan :
    1) mengembangkan percaya diri;
    2) mendorong siswa berpikir dan bekerja menurut inisiatifnya;
    3) mengembangkan bakat dan kecakapan hidup;
    4) memberi kesempatan belajar mandiri;
    5) mendorong murid memperoleh informasi.


    Teknik inkuiri melatih siswa :
    1) menyusun rencana kegiatan;
    2) menentukan sasaran dan target kegiatan;
    3) berkomunikasi dengan orang lain;
    4) mencari sumber informasi


    Langkah-langkah pembelajaran (siswa melakukan wawancara) :
    1) guru memberi contoh sebuah teks wawancara;
    2) guru mengarahkan kegiatan siswa dan menjelaskan sopan santun berwawancara;
    3) murid merencanakan wawancara : menetapkan topik dan nara sumber;
    4) murid menyusun pertanyaan (pedoman) untuk wawancara;
    5) guru mengundang nara sumber atau menyuruh siswa mendatangi nara sumber;
    6) murid berbagi tugas dalam kelompoknya : pewawancara, penulis, dan pengamat;
    7) murid menyusun laporan hasil wawancara

Hakikat, Fungsi, dan Ragam Bahasa Indonesia

Hakikat, Fungsi, dan Ragam Bahasa Indonesia

Tujuan mempelajari kajian bahasa indonesia :

  1. menjelaskan hakikat bahasa Indonesia,
  2. menjelaskan fungsi bahasa Indonesia,
  3. menjelaskan ragam bahasa Indonesia.
  4. membedakan ragam baku dan tidak baku
  5. membedakan ragam tulis dan lisan
  6. membedakan bahasa Indonesia yang baik dan benar

Hakikat dan fungsi bahasa Indonesia

Pengertian bahasa.

Manusia adalah makhluk sosial, sehingga manusia perlu berinteraksi

dengan manusia yang lainnya. Pada saat manusia membutuhkan eksistensinya

diakui, maka interaksi itu terasa semakin penting. Kegiatan berinteraksi ini

membutuhkan alat, sarana atau media, yaitu bahasa. Sejak saat itulah bahasa

menjadi alat, sarana atau media. Bentuk dasar bahasa adalah ujaran. Ujaranlah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

Bahasa = sarana komunikasi mencakup aspek bunyi dan makna

Sifat – sifat bahasa :

  • Sistematik karena bahasa memiliki pola dan kaidah yang harus ditaati agar dapat dipahami oleh pemakainya
  • Mana suka karena unsur-unsur bahasa dipilih secara acak tanpa dasar
  • Ujar , karena bentuk dasar bahasa
  • Manusiawi, karena dimanfaatkan manusia.

Fungsi bahasa :

  • Fungsi informasi, yaitu untuk menyampaikan informasi timbal-balik antar anggota keluarga ataupun anggota-anggota masyarakat.
  • Fungsi ekspresi diri, yaitu untuk menyalurkan perasaan, sikap, gagasan,emosi atau tekanan-tekanan perasaan pembaca.
  • Fungsi adaptasi dan integrasi, yaitu untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota masyarakat, melalui bahasa seorang anggota masyarakat sedikit demi sedikit belajar adat istiadat, kebudayaan, pola hidup, perilaku, dan etika masyarakatnya.
  • Fungsi kontrol sosial. Bahasa berfungsi untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain.

Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi :

  • Fungsi instrumental, yakni bahasa digunakan untuk memperoleh sesuatu
  • Fungsi regulatoris, yaitu bahasa digunakan untuk mengendalikan prilaku orang lain
  • Fungsi intraksional, bahasa digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain
  • Fungsi personal, yaitu bahasa dapat digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain
  • Fungsi heuristik, yakni bahasa dapat digunakan untuk belajar dan menemukan sesuatu
  • Fungsi imajinatif, yakni bahasa dapat difungsikan untuk menciptakan dunia imajinasi
  • Fungsi representasional, bahasa difungsikan untuk menyampaikan  informasi

Fungsi bahasa Indonesia :

  • Bahasa resmi kenegaraan
  • Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan
  • Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan   pelaksanaan pembangunan nasional serta  kepentingan pemerintah
  • Alat pengembangan kebudayaan

Fungsi bahasa indonesia sebagai bahasa baku :

  • Fungsi Pemersatu, artinya bahasa Indonesia mempersatukan suku bangsa yang berlatar budaya dan bahasa yang berbeda-beda
  • Fungsi pemberi kekhasan, artinya bahasa baku memperbedakan bahasa itu dengan bahasa yang lain
  • Fungsi penambah kewibawaan, penggunaan bahasa baku akan menambah kewibawaan atau prestise.
  • Fungsi sebagai kerangka acuan, mengandung maksud bahwa bahasa baku merupakan kerangka acuan pemakaian bahasa

Ragam Bahasa Indonesia

Manusia adalah makhluk social yang saling berinteraksi dalam masyarakat menggunakan bahasa, dan dalam masyarakat tersebut terdapat bermacam – macam bahasa yang disebut Ragam Bahasa. Indonesia merupakan Negara  yang terdiri atas beribu-ribu pulau, yang dihuni

oleh ratusan suku bangsa dengan pola kebudayaan sendiri-sendiri, pasti melahirkan berbagai ragam bahasa yang bermacam-macam dan ini disebut Ragam Bahasa Indonesia.

Ragam bahasa menurut sudut pandang penutur :

  • Ragam daerah ( logat / dialek)
  • Ragam pendidikan :        1. Bahasa baku

2. Bahasa tidak baku

  • Ragam bahasa menurut sikap penutur , gaya  atau langgam yang digunakan penutur terhadap orang yang diajak bicara.

Ragam bahasa menurut jenis pemakaiannya :

  • ragam dari sudut pandangan bidang atau pokok persoalan
  • ragam menurut sarananya : 1. Lisan : dengan intonasi yaitu  tekanan, nada, tempo            suara, dan perhentian.

2. Tulisan : dipengaruhi oleh

bentuk, pola kalimat, dan tanda baca.

  • ragam yang mengalami gangguan pencampuran

Ragam bahasa menurut bidang wacana :

  • Ragam ilmiah : bahasa yang digunakan dalam kegiatan ilmiah,ceramah, tulisan-tulisan ilmiah
  • Ragam populer : bahasa yang digunakan dalam pergaulan seharihari dan dalam tulisan populer

Ragam bahasa baku dan tidak baku

Ciri – ciri ragam bahasa baku :

  • kemantapan dinamis, memiliki kaidah dan aturan yang relatif tetap dan luwes.
  • Kecendekiaan, sanggup mengungkap proses pemikiran yang rumit diberbagai ilmu dan tekhnologi
  • Keseragaman kaidah adalah keseragaman aturan atau norma

Proses pembakuan bahasa terjadi karena keperluan komunikasi. Dalam proses pembakuan atau standardisasi variasi bahasa, bahasa itu disebut bahasa baku atau standard. Pembakuan tidak bermaksud untuk mematikan variasi-variasi bahasa tidak baku. Untuk mengatasi keanekaragaman pemakaian bahasa yang merupakan variasi dari bahasa tidak baku maka diperlukan bahasa bahasa baku atau bahasa standard.

Bahasa Indonesia baku adalah ragam bahasa yang dipergunakan dalam:

  • komunikasi resmi, yakni surat-menyurat resmi, pengumuman yang dikeluarkan oleh instansi resmi, penamaan dan peristilahan resmi, perundang-undangan, dan sebagainya.
  • wacana teknis, yakni dalam laporan resmi dan karangan ilmiah.
  • pembicaraan di depan umum yakni dalam ceramah, kuliah, khotbah
  • pembicaraan dengan orang yang dihormati yakni orang yang lebih tua, lebih tinggi status sosialnya dan orang yang baru dikenal.

Ciri struktur (unsur-unsur) bahasa Indonesia baku adalah sebagai berikut.

  1. Pemakaian awalan me- dan ber- (bila ada) secara eksplisit dan konsisten.
  2. b. Pemakaian fungsi gramatikal (subyek, predikat, dan sebagainya secara eksplisit dan konsisten.
  3. c. Pemakaian fungsi bahwa dan karena (bila ada) secara eksplisit dan konsisten (pemakaian kata penghubung secara tepat dan ajeg.
  4. d. Pemakaian pola frase verbal aspek + agen + verba (bila ada) secara konsisten (penggunaan urutan kata yang tepat).
  5. e. Pemakaian konstruksi sintesis (lawan analitis).
  6. f. Pemakaian partikel kah, lah, dan pun secara konsisten.
  7. g. Pemakaian preposisi yang tepat.
  8. h. Pemakaian bentuk ulang yang tepat menurut fungsi dan tempatnya.
  9. i. Pemakaian unsur-unsur leksikal berikut berbeda dari unsur-unsur yang menandai bahasa Indonesia baku.
  10. j. Pemakaian ejaan resmi yang sedang berlaku (EYD).
  11. k. Pemakaian peristilahan resmi.
  12. Pemakaian kaidah yang baku

Ragam Bahasa Tulis dan Bahasa Lisan

Ada dua perbedaan yang mencolok mata yang dapat diamati antara ragam bahas tulis dengan ragam bahasa lisan, yaitu :

  1. a. Dari segi suasana peristiwa

Jika menggunakan bahasa tulisan tentu saja orang yang diajak berbahasa tidak ada dihadapan kita. Olehnya itu, bahasa yang digunakan perlu lebih jelas. Fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat, objek, dan hubungan antara setiap fungsi itu harus nyata dan erat. Sedangkan dalam bahasa lisan, karena pembicara berhadapan langsung dengan pendengar, unsur (subjek-predikat-objek) kadangkala dapat diabaikan.

  1. b. Dari segi intonasi

Yang membedakan bahasa lisan dan tulisan adalah berkaitan dengan intonasi (panjang-pendek suara/tempo, tinggi-rendah suara/nada, keras-lembut suara/tekanan) yang sulit dilambangkan dalam ejaan dan tanda baca, serta tata tulis yang dimiliki.

Goeller (1980) mengemukakan bahwa ada tiga krakteristik bahasa tulisan yaitu acuracy, brevety, claryty (ABC).

  • Acuracy (akurat) adalah segala informasi atau gagasan yang dituliskan dapat memberi keyakinan bagi pembaca bahwa hal tersebut masuk akal atau logis.
  • Brevety (ringkas) yang berarti gagasan tertulis yang disampaikan bersifat singkat karena tidak menggunakan kata yang mubazir dan berulang, seluruh kata yang digunakan dalam kalimat ada fungsinya.
  • Claryty (jelas) adalah tulisan itu mudah dipahami, alur pikirannya mudah diikuti oleh pembaca. Tidak menimbulkan salah tafsir bagi pembaca.

Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Berbahasa Indonesia yang baik adalah berbahasa Indonesia yang sesuai dengan tempat tempat terjadinya kontak berbahasa, sesuai dengan siapa lawan bicara, dan sesuai dengan topic pembicaraan. Bahasa Indonesia yang baik tidak selalu perlu beragam baku. Yang perlu diperhatikan dalam berbahasa Indonesia yang baik adalah pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa. Ada pun berbahasa Indonesia yang benar adalah berbahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia.

PEMBELAJARAN KREATIF DAN PRODUKTIF

Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok

Mata kuliah : Bahasa Indonesa

Dosen Pengampu : Drs. Umar Samadhy,M.Pd

Penyaji : Sri Marwati, M. Yuda sasmitho, Joko S.

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pendidikan harus dikembalikan pada kithahnya. Di dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (Bab II/Pasal 3) menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Proses pembelajaran pada hakekatnya adalah untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik, melalui berbagai interaksi dan berbagai pengalaman belajar. Namun dalam pelaksanaannya masih banyak kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan justru menghambat aktivitas dan kreativitas peserta didik.

Kondisi ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran di kelas, umumnya guru lebih menekankan pada aspek kognitif. Kemampuan intelektual yang dipelajari sebagian besar berpusat pada pemahaman materi pelajaran yang bersifat ingatan. Guru lebih sering menggunakan komunikasi satu arah, yakni dengan menggunakan metode ceramah. Dalam situasi yang demikian, biasanya peserta didik dituntut untuk menerima apa-apa yang dianggap penting oleh guru dan menghafalnya. Siswa diibaratkan sebagai kaset kosong yang siap dijejali dengan berbagai rekaman informasi, tanpa siswa banyak mengetahui tentang siapa, mengapa, bagaimana, dan untuk apa materi itu diberikan. Guru pada umumnya kurang menyenangi situasi dimana para peserta didik banyak bertanya mengenai apa-apa yang berada diluar konteks yang dibicarakan saat itu. Dengan kondisi yang demikian maka aktivitas dan kreativitas para peserta didik terhambat atau tidak dapat berkembang secara optimal.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apakah yang dimaksud pembelajaran kreatif dan produktif?
  3. Bagaimana karakteristik model pembelajaran kreatif dan produktif?
  4. Bagaimana penerapan model pembelajaran kreatif dan produktif?


BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Pembelajaran kreatif dan produktif

Pembelajaran kreatif dan produktif merupakan model yang dikembangkan dengan mengacu kepada berbagai teori atau pendekatan pembelajaran yang diasumsikan mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar.Teori pendekatan tersebut,antara lain:

  1. Belajar Aktif

Konsep dasar pendekatan ini antara lain :

  1. Belajar terjadi hanya jika siswa aktif
  2. Siswa mempunyai potensi yang dapat dikembangkan jika guru mampu menyediakan kondisi belajar yang kondusif
  3. Keaktifan siswa dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk.

Pendekatan ini yang diistilahkan oleh Candy (1994) sebagai pembelajaran orang dewasa, adalah pembelajaran yang sengaja didesain agar peserta didik dapat secara aktif dan bertanggung jawab atas apa yang dipelajarinya. Pembelajaran di sini tidak lagi menempatkan mahasiswa sebagai objek pembelajaran, sebagaimana yang selama ini terjadi, namun mahasiswa diposisikan sebagai subjek pembelajaran yang memiliki tanggung jawab sendiri dalam keberhasilan proses pembelajarannya. Sistem ini tidak lagi memposisikan pengajar sebagai pusat (teacher- centred), akan tetapi mahasiswa harus mampu mengembangkan pembelajarannya sendiri (self directed learning). Pengujian seberapa besar peserta didik mampu mengikuti proses pembelajaran juga dilakukan oleh peserta didik sendiri. Jadi, mahasiswa sebagai peserta didik merupakan “arsitek” pendidikannya sendiri yang bertanggung jawab terhadap isi dan struktur kurikulum. (Candy, 1994: 127-128).

  1. Pendekatan Konstruktivisme

Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:

  1. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
  2. Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
  3. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
  4. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
  5. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
  6. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik miknat pelajar.

Pandangan konstruktivisme juga sejalan  sejalan dengan pandangan Ki Hadjar yang menekankan pentingnya siswa menyadari alasan dan tujuan ia belajar. Baginya perlu dihindari pendidikan yang hanya menghasilkan orang yang sekadar menurut dan melakukan perintah (dalam bahasa Jawa = dhawuh). Ki Hadjar mengartikan mendidik sebagai “berdaya-upaya dengan sengaja untuk memajukan hidup-tumbuhnya budi-pekerti (rasa-fikiran, rokh) dan badan anak dengan jalan pengajaran, teladan dan pembiasaan…” Menurutnya, jangan ada perintah dan paksaan dalam pendidikan.

  1. Belajar Kooperatif dan Kolaboratif

Landasan teoretik dan konseptual pembelajatan ini berakar dari pandangan filosofis dan perspektif psikologis.  Masing-masing kawasan psikologi memiliki perspektifyang khas berdasarkan hasil pelacakannya terhadap pembela-jaran kooperatif selama ini.Kawasan-kawasan psikologi yang banyak memberikan perhatian adalah psikologibehavioristik, psikologi sosial, dan psikologi kognitif, pada tipe belajar kooperatif dan kolaboratif memungkinkan terbentuknya kebiasaan bekerja sama.berbagi tanggung jawab dan saling menghargai.

  1. Belajar Kreatif

Erwin Segal (dalam black,2003) menyatakan bahwa untukmenjadi kreatif, seseorang harus mempunyai komitmen yang tinggi ,kemampuan bekerja keras,bersemangat dan percaya diri. Dalam penerapanya keempat pendekatan ini di integrasikan kedalam suatu model, adapun rancangan explisitnya adalah sebagai berikut :

  1. Mengfasilitasi keterlinatan siswa secara intelektual dan emosional
  2. Mendorong siswa untuk mengkonstruksi atau menemukan sendiri konsep
  3. Memberi kesempatan siswa untuk bertanggung jawab
  4. Membuat suasana kelas yang kondusif.
  1. B. Sosok Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif

Sosok model mengacu kepada komponen-komponen pembelajaran, yang pada dasarnya terdiri dari :

  1. Tujuan

Dampak instruksional yang dapat dicapai melalui model pembelajaran ini antara lain:

1. pemahaman terhadap suatu nilai, konsep, atau masalah tertentu,

2. kemampuan menerapan konsep / memecahkan masalah, serta

3. kemampuan mengkreasikan sesuatu berdasarkan pemahaman tersebut.

Dari segi dampak pengiring (nurturant effects), melalui model pembelajaran kreatif dan produktif diharapkan dapat dibentuk kemampuan berpikir kritis dan kreatif, bertanggung jawab, serta bekerja sama; yang semuanya merupakan tujuan pembelajaran jangka panjang. Tentu saja dampak pengiring hanya mungkin terbentuk, jika kesempatan untuk mencapai/menghayati berbagai kemampuan tersebut memang benar-benar disediakan secara memadai. Hal itu akan tercapai, jika model pembelajaran ini diterapkan secara benar dan memadai.

  1. Materi

Materi yang sesuai disajikan dengan model kreatif dan produktif merupakan materi yang menuntut pemahaman yang tinggi terhadap nilai, konsep, atau masalah aktual di masyarakat; serta keterampilan menerapkan pemahaman tersebut dalam bentuk karya nyata. Materi ini dapat berasal dari berbagai bidang studi, seperti apresiasi sastra dari bidang studi Bahasa Indonesia, masalah sosial ekonomi dari IPS, masalah kehidupan demokrasi dari Pendidikan Kewargaannegara, atau masalah polusi dari IPA.

  1. Kegiatan

Pada dasarnya, kegiatan pembelajaran dibagi menjadi empat langkah, yaitu: orientasi, eksplorasi, interpretasi, dan re-kreasi. Setiap langkah dapat dikembangkan lebih lanjut dengan berpegang pada hakikat setiap langkah, sebagai berikut.

  1. Orientasi

Sebagaimana halnya dalam setiap pembelajaran, kegiatan pembelajaran diawali dengan orientasi untuk mengkomunikasikan dan menyepakati tugas dan langkah pembelajaran. Guru mengkomunikasikan tujuan, materi, waktu, langkah, hasil akhir yang diharapkan dari siswa, serta penilaian yang akan diterapkan. Pada kesempatan ini siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya tentang langkah/cara kerja serta hasil n penilaian. Negosiasi tentang aspek-aspek tersebut dapat terjadi antara guru dan siswa, namun pada akhir orientasi diharapkan sudah terjadi kesepakatan antara guru dan siswa.

  1. Eksplorasi

Pada tahap ini, mahasiswa melakukan eksplorasi  terhadap masalah/konsep yang akan dikaji terhadap masalah/konsep yang akan dikaji. Eskplorasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti membaca, melakukan observasi, wawancara, menonton satu pertunjukan, melakukan percobaan, browsing lewat internet, dan sebagainya. Kegiatan ini dapat dilakukan baik secara individual maupun kelompok. Waktu untuk eksplorasi disesuaikan dengan luasnya bidang yang harus dieksplorasi.

  1. Interprestasi

Dalam tahap analisis, diskusi, tanya jawab, atau bahkan berupa percobaan kembali, jika hal itu memang diperlukan. Interpretasi sebaiknya dilakukan pada jam tatap muka, meskipun persiapannya sudah dilakukan oleh mahasiswa di luar jam tatap muka. Jika eksplorasi dilakukan oleh kelompok, setiap kelompok yajikan hasil pemahamannya tersebut di depan kelas dengan caranya masing-masing, diikuti oleh tanggapan dari mahasiswa lain. Pada akhir tahap interpretasi, diharapkan semua siswa sudah memahami konsep/ topik/masalah yang dikaji

  1. Re- Kreasi

Siswa ditugaskan untuk menghasilkan sesuatu yang pemahamannya tentang pen kan secara individual atau kelompok sesuai dengan pilihan mahasiswa. Hasil re-kreasi merupakan produk kreatif dapat dipresentasikan, Panduan harus memuat tujuan, materi, waktu, cara kerja, serta hasil akhir yang diharapkan. Misalnya, mahasiswa diharapkan mengumpulkan tiga cerita rakyat selama satu minggu, atau diminta mencari informasi mengenai penggusuran penduduk di satu daerah, yang meliputi: nama dan alamat tempat penggusuran, jumlah keluarga yang digusur, alasan penggusuran, sikap penduduk yang digusur, serta proses penggusuran. Eksplorasi dapat dilakukan secara individual atau kelompok sesuai dengan kesepakatan pada waktu orientasi. Dalam tahap analisis, diskusi, tanya jawab, atau bahkan berupa percobaan kembali, jika hal itu memang diperlukan. Interpretasi sebaiknya dilakukan pada jam tatap muka, meskipun persiapannya sudah dilakukan oleh mahasiswa di luar jam tatap muka. Jika eksplorasi dilakukan oleh kelompok, setiap kelompok yajikan hasil pemahamannya tersebut di depan kelas dengan caranya masing-masing, diikuti oleh tanggapan dari mahasiswa lain. Pada akhir tahap interpretasi, diharapkan semua mahasiswa sudah memahami konsep/ topik/masalah yang dikaji. Pada tahap mencerminkan pemahamannya terhadap konsep/ topik/masalah yang dikaji menurut kreasinya masing-masing.

  1. Evaluasi

Evaluasi belajar dilakukan selama proses pembelajaran dan pada akhir pembelajaran. Selama proses pembelajaran, evaluasi dilakukan dengan mengamati sikap dan kemampuan berpikir mahasiswa. Kesungguhan mengerjakan tugas, hasil eksplorasi, kemampuan berpikir kritis dan logis dalam memberikan pandangan/ argumentasi, kemauan untuk bekerja sama dan memikiul tanggung jawab bersama, merupakan contoh aspek-aspek yang dapat dinilai selama proses pembelajaran. Evaluasi pada akhir pembelajaran adalah evaluasi terhadap produk kreatif yang iteria penilaian dapat disepakati bersama pada waktu orientasi.

  1. C. Kekuatan dan Kelemahan
    1. Kekuatan Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif
      1. Dalam setiap kegiatan, siswa terlibat secar aktif, baik intelektual maupun emosional
      2. Mencapai dampak instruksional dan memungkinkan terbentuknya dampak pengiring.
      3. Siswa mendapat kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan sumber belajar.
      4. Memacu kreatifitas melalui kegiatan re-kreasi
      5. Memungkinkan dilakukanya penilaian secara utuh dan komprehensif
      6. Kelemahan Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif

Kelemahan-kelemahan model ini tertuju pada kelemahan dilapangan, antara lain :

  1. Memerlukan kesiapan guru dan siswa
  2. Memerlukan adaptasi pendidik
  3. Memerlukan waktu yang panjang dan fleksibel
  4. D. Prinsip-prinsip Penerapan

Sejalan dengan karakteristik teori/pendekatan yang melandasi model ini prinsip-prinsip moodel pembelajaran kreatif dan produktif adalah sebagai berikut.

  1. Perubahan pola pikir (midnd-set)

Penerapan model ini menuntut perubahan pola pikir yang mendasar dari para guru, administrator, dan juga orang tua/masyarakat. Guru harus mampu dan mau mengubah pola pikir yang selama ini digunakan.

  1. Pemahaman konsep yang benar

Agar mampu menerapkan konsep yang benar, guru harus menguasai hakikat model pembelajaran kreatif dan produktif tersebut. Pemahaman yang kurang mantap dan setengah-setengah akan berdampak pada ketidak tercapaian kompetensi oleh siswa.

  1. Keyakinan pada potensi siswa (students centered learning)

Tanpa keyakinan, model ini hanya akan tetap menjadi wacana yang tidak pernah diterapakan secara benar.

  1. Kreativitas

Makin kreatif seorang guru, maka akan makin kaya variasi kegiatan yang dapat dirancangnya, dimikian pula makin kaya variasi sumber belajar yang dapat dimanfaatkan.

  1. Kurikulum yang fleksibel

Penerapan kurukulum tentunya disesuaikan dengan perkembangan minat dan kebutuhan siswa

  1. E. Lagkah-langkah Penerapan
  2. Perencanaan
    1. Identifikasi kompetensi dan topik pada kurikulum yang meliputi:
  • Identifikasi kompetensi yang akan dikuasai siswa
  • Identifikasi topik-topik yang mendukung ketercapaian kompetensi tersebut
  • Identifikasi topik-topik yang sesuai
  1. Identifikasi sumber balajar yang terkait dengan topik yang akan diajarkan
  2. Kembangkan kegiatan belajar untuk keempat tahap dalam pembelajaran (orientasi, eksplorasi, interpretasi, dan re-kreasi) dengan tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa baik individu maupun kelompok.
  3. Rancang prosedur alat evaluasi yang akan digunakan untuk menilai pencapaian siswa
  4. Pelaksanaan
    1. Tahap orientasi
      1. Sajikan tujuan/kompetensi topik, kegiatan, tugas-tugas, dan evaluasi
      2. Pada akhir sajian, beri kesempatan kepada siswa untuk memberi respon (pertanyaan/saran/prakarsa)
      3. Periksa pemahaman siswa terhadap topik yang sedang dikaji
      4. Kelompok saling berbagi informasi dan merencanakan kegiatan eksplorasi
      5. Tahap eksplorasi
        1. Guru bertanya pada siswa apakah sudah memulai eksplorasi, apa pengalamanya dan bagaimana kemajuan setiap kelompok
        2. Memonitor secara periodik
        3. Partisipasi guru dalam eksplorasi
        4. Tahap Interpretasi

Tahap ini merupakan tahap yang sangat menentukan dalam pembentukan kemampuan siswa untuk memahami konsep/masalah yang sedang dikaji.

  1. Tahap re-kreasi

Tahap ini merupakan tahap kulimanasi dari kegiatan pembelajaran kreatif dan produktif

  1. Evaluasi

Setelah melakukan pembelajarn kreatif dan produktif guru perlu menilai keefektifan model ini. Ada beberapa cara untuk mengevaluasi, yaitu :

  1. Melihat hasil belajar siswa
  2. Melakukan refleksi
  3. Membuat catatan pelaksanaan
  4. Bertanya kepada siswa

BAB III

PENUTUP

  1. A. Simpulan

Dari pembahasan mengenai model pembelajaran Kreatif dan produktif  yang sudah sebelumnya, maka ada beberapa point simpulan yang dapat kami rangkum :

  1. Model pembelajaran kreatif dan produktif merupakan model pembelajaran yang mengintegrasikan empat pendekatan belajar (belajar aktif, konstruktivisme, kooperatif dan kolaboratif) secara kreatif.
  2. Belajar aktif mempersyaratkan keterlibatan siswa secara optimal, sedang konstruktivisme menekankan pada peran siswa dalam pembentukan makna.
  3. Esensi keempat teori tersebut diintegrasikan pada setiap kegiatan
  4. Penerapan model pembelajaran kreatif dan produktif dikemas dalam lima prinsip yaitu :
    1. Perubahan pola pikir
    2. Pemahaman konsep yang benar
    3. Keyakinan guru akan potensi siswa dan “students centered learning”
    4. Kreativitas guru
    5. Kurikulum yang fleksibel
    6. Penerapan model kreatif dan produktif sebaiknya dilaksanakan dalam tiga langkah yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
  5. C. Saran

Sebuah model yang luar biasa semacam model pembelajaran kreatif dan produktif ini tiada berarti dan tiada berguna serta tak akan memberi faedah maksimal apabila tidak diterapkan secara optimal dan pengkajian berkala. Karena pada hakikatnya sebuah teori akan menjadi luar biasa jika dipraktekan dan sebaliknya teori akan tetap menjadi teori jika tidak di terapkan

Pendekatan Iklim Sosio – Emosional

A. Pendekatan Iklim Sosio – Emosional
Pendekatan iklim sosio – emosional dalam manajemen kelas berakar pada psikologis penyuluhan klinis. Pendekatan ini dibangun atas dasar asumsi bahwa manajemen kelas yang efektif sangat tergantung kepada hubungan yang positif antara guru dan peserta didik. Menurut Glasser (1969), menekankan pentingnya keterlibatan guru dengan menggunakan strategi manajemen yang disebut terapi kenyataan. Perilaku siswa yang menyimpang adalah buah kegagalannya mengembangkan keberadaan dirinya. Glasser mengemukakan 8 langkah untuk membantu mengubah perilaku menyimpang peserta didik, yaitu:
1. Melibatkan dirinya dengan siswanya dengan menunjukkan kesediannya membantu siswa, memecahkan masalah.
2. Memberikan uraian tentang perilaku siswa.
3. Membantu siswa membuat pendapat tentang perilakunnya yang menjadi masalah.
4. Membantu siswa merencanakan tindakan yang lebih baik.
5. Membimbing siswa.
6. Mendorong siswa untuk melaksanakan rencananya.
7. Tidak menerima pernyataan maaf siswa apabila rencana siswa gagal.
8. Memberikan kesempatan kepada siswa merasakan akibat wajar dari perilakunya yang menyimpang.
Sementara itu, Dreikurs (1982) mengemukakan gagasan – gagasan penting yang mempunyai implikasi bagi manajemen kelas yang efektif, yaitu:
1. Penekanan pada kelas yang demokratis dengan kondisi siswa dan guru berbagi tanggung jawab, baik dalam proses maupun dalam langkah maju.
2. Pengakuan akan pengaruh konsekuensi wajar dan logis dari perilaku siswa.
B. Pendekatan Proses Kelompok
Pendekatan proses kelompok didasarkan pada asumsi – asumsi berikut:
1. Kehidupan sekolah berlangsung dalam lingkungan kelompok, yakni kelompok kelas.
2. Tugas pokok guru adalah menciptakan dan membina kelompok kelas yang efektif dan produktif.
3. Kelompok kelas adalah suatu system social yang mengandung ciri – ciri yang terdapat pada semua system social.
4. Pengelolaan siswa oleh guru adalah menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang menunjang terciptanya suasana belajar yang menguntungkan.
Schmuck dan Schmuck dalam Weber (1986) mengemukakan 6 ciri pendekatan proses kelompok, yaitu:
1. Harapan adalah persepsi yang dimiliki oleh guru dan siswa mengenai hubungan mereka satu sama lain.
2. Kepemimpinan dapat diartikan sebagai perilaku yang membantu kelompok bergerak menuju pencapian tujuannya serta memelihara dan / atau meningkatkan kepaduan.
3. Daya tarik menunjuk pada pola – pola persahabatan dalam kelompok kelas.
4. Norma adalah pengharapan bersama mengenai cara berfikir, cara berperasaan, dan cara berperilaku para anggota kelompok. Norma sangat mempengaruhi hubungan antar pribadi karena norma tersebut memberikan pedoman yang membantu para anggota memahami orang lain.
5. Komunikasi, baik verbal maupun non – verbal adalah dialog antara anggota – anggota kelompok, komunikasi yang efektif berarti menerima pesan dan menafsirkan dengan tepat pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan.
6. Keterpaduan menyangkut perasaan kolektif yang dimiliki oleh para anggota kelas mengenai kelompok kelasnya. Keterpaduan menekankan hubungan individu dengan kelompok sebagai suatu keseluruhan.

C. Pendekatan Eklektik
. Perilaku pengelolaan tertentu yang sesuai dengan situasi disebut pendekatan eklektik.
Hal yang perlu dikuasai oleh seorang guru dalam menerapkan pendekatan eklektik yaitu:
1. Menguasai pendekatan manajemen kelas yang potensial, seperti pendekatan pengubahan perilaku, penciptaan iklim sosio – emosional, dan proses kelompok.
2. Dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai baik dalam masalah manajemen kelas.

D. Pendekatan Analitik Pluralistik
Beberapa 4 tahap pendekatan analitik pluralistic:
1. Menentukan kondisi kelas yang diinginkan
Keuntungan dari pendekatan ini adalah:
a. Guru tidak memandang kelas semata – mata hanya sebagai reaksi atas masalah yang timbul.
b. Guru akan memiliki seperangkat tujuan yang mengarahkan dan yang menjadi tolak ukur penilaian atas hasil upayanya.
2. Menganalisis kondisi kelas yang nyata
Dengan mengadakan analisis ini, akan memungkinkan guru mengetahui:
a. Kesenjangan antara kondisi sekarang dan yang diharapkan.
b. Kesenjangan yang timbul jika guru gagal mengambil tindakan pencegahan.
c. Kondisi sekarang yang perlu dipelihara dan dipertahankan karena dianggap kurang baik.
3. Memilih dan menggunakan strategi pengelolaan
Guru yang efektif adalah guru yang menguasai berbagai strategi manajerial dan mampu memilih dan menggunakan strategi yang paling sesuai dalam situasi tertentu yang dianalisis sebelumnya.
4. Menilai keefektifan pengelolaan
Proses penilaian ini memusatkan perhatian kepada 2 perangkat perilaku, yaitu:
a. Perilaku guru yaitu sejauh mana guru telah menggunakan perilaku manajemen yang direncanakan akan dan dilakukan.
b. Perilaku peserta didik yaitu sejauh mana peserta didik berperilaku yang sesuai, yakni apakah mereka telah melakukan apa – apa yang diharapkan untuk dilakukan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.