BAHASANYA “NAN” JUJUR

K
MODUL 1
PEMEROLEHAN BAHASA ANA
Kegiatan Belajar 1
Tahap-tahap Perkembangan Bahasa Anak

Pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman ataupun pengungkapan, secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal. Dengan kata lain, kegiatan ini dilakukan anak tanpa sadar, tanpa beban, serta berlangsung secara informal dan dalam konteks berbahasa yang bermakna.

Bagi umumnya anak Indonesia, bahasa Indonesia merupakan bahasa pertama atau kedua. Bahasa Indonesia akan menjadi bahasa pertama apabila anak dibesarkan oleh orang tua yang hanya menguasai bahasa Indonesia, orang tua yang berasal dari bahasa daerah yang berlainan, lingkungan masyarakat sekitar berbahasa Indonesia atau bahasa daerah yang tidak dikuasai, dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang berbahasa daerah.

Kemampuan berbahasa anak tidak diperoleh sekaligus. Keterampilan berbicara misalnya, dimiliki anak melalui tahap-tahap berikut ini.

  1. Tahap pralinguistik, yaitu fase perkembangan bahasa di mana anak belum mampu menghasilkan bunyi-bunyi yang bermakna. Bunyi yang dihasilkan seperti tangisan, rengekan, dekutan, dan celotehan hanya merupakan sarana anak untuk melatih gerak artikulatorisnya sampai ia mampu mengucapkan kata-kata yang bermakna.
  2. Tahap satu-kata, yaitu fase perkembangan bahasa anak yang baru mampu menggunakan ujaran satu-kata. Satu-kata itu mewakili ide dan tuturan yang lengkap.
  3. Tahap dua-kata, yaitu fase anak telah mampu menggunakan dua kata dalam pertuturannya.
  4. Tahap banyak-kata, yaitu fase perkembangan bahasa anak yang telah mampu bertutur dengan menggunakan tiga-kata atau lebih dengan penguasaan gramatika yang lebih baik.

Pada tahap-tahap di atas secara implisit berkembang pula pengetahuan anak tentang subsistem-subsistem bahasa seperti fonologi, gramatika, semantik, dan pragmatik.

Kemampuan berbahasa lisan reseptif, seperti menyimak atau memahami, diperoleh anak lebih cepat daripada kemampuan berbicara. Ketika anak baru mampu menggunakan ujaran dengan satu kata, misalnya kemampuan memahaminya lebih tinggi. Ia mampu mengerti dan merespon tuturan yang lengkap dan relatif panjang. Begitulah seterusnya.

Kegiatan Belajar 2
Strategi Pemerolehan Bahasa Anak

Perkembangan bahasa anak dipengaruhi banyak faktor, seperti faktor biologis, lingkungan sosial, intelegensi, dan motivasi. Faktor-faktor itu memiliki peran yang sama pentingnya, satu sama lain saling terkait erat.

Hanya dalam usia 3 – 4 tahun, umumnya anak-anak normal telah dapat menguasai bahasa ibunya dengan baik. Perolehan bahasa yang cepat seperti itu ditempuh anak secara informal dengan strategi berikut ini.

  1. Mengingat masukan bahasa yang didengar dari anggota sosial anak seperti ayah, ibu, saudara, dan tetangga.
  2. Meniru bahasa yang didengarnya. Peniruan ini tidak terlalu persis. Penyebabnya, selain karena kemampuan otak, alat ucap, dan penguasaan kaidah bahasa anak masih berkembang, juga karena anak memiliki kreativitas berbahasa. Jadi, peniruan ini bersifat kreatif.
  3. Mengalami langsung kegiatan berbahasa dalam konteks yang sesungguhnya. Pengalaman ini merupakan sarana latihan berbahasa anak yang tak jarang diwarnai oleh eksperimen atau uji coba.
  4. Bermain sendiri atau dengan orang lain. Kegiatan bermain ini sekaligus berfungsi sebagai sarana anak dalam berlatih bahasa.
  5. Penyederhanaan atas tuturan orang dewasa yang didengar, diingat, dan dicontohnya.

MODUL 2
HAKIKAT KOMUNIKASI LISAN DAN TERTULIS

Kegiatan Belajar 1
Hakikat Komunikasi

Komunikasi adalah segala proses kegiatan antardua orang (dua pihak) atau lebih untuk berbagi informasi, ide, dan perasaan. Sesuatu itu dinamai komunikasi karena karakteristiknya yang unik, merupakan suatu proses dinamis, terikat konteks, simbolik, dan transaksional.

Paling tidak komunikasi memiliki enam fungsi, yaitu fungsi personal, instrumental, interaksional, informatif, heuristik, dan imajinatif. Dalam praktiknya, fungsi-fungsi tersebut dapat muncul bersamaan. Dengan kata lain, setiap peristiwa komunikasi memiliki satu fungsi atau lebih.

Proses komunikasi melibatkan serangkaian kegiatan yang berlangsung terusmenerus. Kegiatan itu meliputi penyandian atau pengkodean, pengiriman kode, serta penerimaan dan pemahaman kode. Unsur-unsur yang terlibat dalam komunikasi adalah komunikator dan komunikan, pesan, saluran, konteks, balikan, serta gangguan. Agar komunikasi dapat berhasil dengan baik maka pelaku komunikasi hendaknya memperhatikan unsur paralinguistik, nonlinguistik, dan metalinguistik.

Dalam berkomunikasi, suatu kondisi yang berbeda menuntut perlakuan yang berlainan. Atas dasar itu maka komunikasi dapat dikelompokkan atas beberapa jenis sesuai sudut pandangnya. Ditinjau dari situasinya, komunikasi terbagi atas komunikasi formal, informal, dan semiformal. Dilihat dari simbol yang dipakainya, komunikasi dapat dikelompokkan atas komunikasi verbal dan nonverbal. Dipandang dari ada tidaknya media yang digunakan, komunikasi terdiri atas komunikasi bermedia dan tak bermedia. Bertolak dari sasarannya, komunikasi dapat digolongkan atas komunikasi intrapersonal, interpersonal, wawancara, serta komunikasi dalam kelompok kecil dan besar (komunikasi massa/publik).

Kegiatan Belajar 2
Hakikat dan Proses KOmunikasi Lisan dan Tertulis

Komunikasi merupakan penyampaian dan penerimaan pesan di antara dua orang atau lebih yang dilakukan melalui simbol verbal dan nonverbal. Simbol verbal adalah bahasa yang merupakan sistem lambang yang dipergunakan oleh suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Bertolak dari definisi itu, bahasa memiliki ciri sistemik, simbolik, arbitrer atau manasuka, konvensional, sarana ekspresi diri dan interaksi sosial, serta lambang identitas suatu kelompok masyarakat.

Simbol nonverbal atau lambang komunikasi selain bahasa merupakan sarana komunikasi nonverbal. Termasuk ke dalamnya adalah unsur pralinguistik, kinesik atau gerak unsur tubuh, tipe tubuh, keatraktifan, pakaian, sentuhan, ruang dan jarak, serta waktu.

Dalam komunikasi lisan, kedua simbol itu muncul bersamaan karena sifatnya saling mendukung dan melengkapi. Fungsi utamanya adalah untuk menunjukkan sikap dan emosi yang sebenarnya dari komunikator (pembicara) dan komunikan (penyimak).

Dilihat dari ragamnya, komunikasi verbal terdiri atas komunikasi lisan dan tertulis. Komunikasi lisan adalah suatu kegiatan komunikasi yang menggunakan suara sebagai sarananya. Termasuk ke dalamnya adalah berbicara dan menyimak.

Berbicara adalah suatu proses penyampaian pesan yang dilakukan secara lisan. Sebagai proses, di dalam kegiatan berbicara terdapat lima unsur yang terlibat, yaitu pembicara, isi pembicaraan, saluran, penyimak, dan tanggapan penyimak.

Menyimak adalah suatu proses penerimaan pesan yang disampaikan oleh orang lain. Sebagai proses, kegiatan menyimak terdiri atas tahap penerimaan rangsangan lisan, pemusatan perhatian, serta pemahaman makna atas pesan yang disampaikan. Penyimak akan dapat menyimak dengan baik apabila ia memiliki kemampuan berkonsentrasi, menangkap bunyi tuturan, mengingat hal-hal penting, serta memahami unsur linguistik dan nonlinguistik secara memadai.

Komunikasi tertulis adalah kegiatan komunikasi yang menggunakan sarana tulisan yang dapat menggambarkan atau mewakili komunikasi lisan termasuk ke dalamnya adalah menulis dan membaca.

Menulis adalah proses penyampaian pesan kepada pihak lain secara tertulis. Sebagai proses, menulis terdiri atas tahap prapenulisan, menulis, dan pascapenulisan. Adapun membaca merupakan proses penyampaian pesan secara tertulis dari pihak lain. Sebagai proses, membaca merupakan kegiatan pemaknaan yang terus-menerus berdasarkan apa yang tersaji dalam teks karangan serta pengetahuan yang dimiliki oleh pembacanya.


MODUL 3
PENDEKATAN PENGAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

Kegiatan Belajar 1
Pendekatan ,Metode dan Teknik Pengajaran Bahasa Indonesia

Pendekatan adalah seperangkat asumsi yang bersifat aksiomatik mengenai hakikat bahasa, pengajaran bahasa, dan belajar bahasa yang digunakan sebagai landasan dalam merancang, melakukan dan menilai proses belajar-mengajar bahasa. Metode merupakan rencana keseluruhan pengajaran bahasa secara ajeg dan tertib, tidak ada bagian-bagiannya yang kontradiktif berdasarkan pendekatan yang dipilih. Dalam perkembangan berikutnya dalam metode ini ditambahkan peranan guru, siswa, bahan pembelajaran, tujuan, dan kegiatan pengajaran, sehingga namanya berubah menjadi desain. Teknik adalah suatu muslihat, daya upaya dalam menyajikan bahan. Teknik harus sejalan dengan metode dan serasi dengan pendekatan. Teknik bersifat implementasi.

Pendekatan-pendekatan yang pernah digunakan dalam pengajaran bahasa Indonesia, antara lain:

  1. pendekatan tujuan,
  2. pendekatan-pendekatan komunikatif,
  3. pendekatan CBSA,
  4. pendekatan keterampilan proses,
  5. pendekatan spiral,
  6. pendekatan lintas materi.

Kurikulum 1994 menggunakan pendekatan tujuan, pendekatan komunikatif dan pragmatik, pendekatan CBSA, dan pendekatan keterampilan proses.

Menurut Macky ada lima belas metode pengajaran bahasa seperti berikut.

  1. Metode langsung.
  2. Metode alami.
  3. Metode psikologikal.
  4. Metode fonetik.
  5. Metode membaca.
  6. Metode tata bahasa.
  7. Metode terjemahan.
  8. Metode terjemahan tata bahasa.
  9. Metode ekletik.
  10. Metode unit.
  11. Metode kendali bahasa.
  12. Metode mimikri-memorasi.
  13. Metode teori-praktik.
  14. Metode kognate.
  15. Metode ceramah.

Beberapa teknik pengajaran bahasa yang biasa digunakan guru bahasa Indonesia, termasuk di sekolah dasar, seperti tertulis berikut.

  1. Teknik penugasan.
  2. Teknik diskusi.
  3. Teknik dramatisasi.
  4. Teknik tanya-jawab.
  5. Teknik latihan.
  6. Teknik bercerita.
  7. Teknik bermain peran.
  8. Teknik karyawisata.
  9. Teknik bisik berantai.
  10. Teknik bertanya.
  11. Teknik wawancara.

Kegiatan Belajar 2
Ciri-ciri Pengajaran Bahasa Terpadu dan Komunikatif

Frasa ciri-ciri pengajaran bahasa terpadu dan komunikatif sebenarnya berisi dua frasa. Frasa pertama adalah ciri-ciri pengajaran bahasa terpacu. Frasa kedua adalah ciri-ciri pengajaran bahasa (secara) komunikatif. Ini berarti bahasa ciri-ciri pengajaran bahasa terpadu dan komunikatif harus digali, diidentifikasi, dan dirumuskan dari kedua frasa itu dengan kata kunci pengajaran terpadu dan pengajaran komunikatif.

Dari frasa pengajaran bahasa terpadu ditemukan ada empat ciri-ciri pengajaran bahasa terpadu. Dari frasa pengajaran komunikatif ditemukan tujuh ciri-ciri pengajaran bahasa komunikatif. Kesimpulannya, ciri-ciri pengajaran bahasa terpadu dan komunikatif ada sebelas butir seperti tertulis berikut.

Ciri-ciri Pengajaran Bahasa Terpadu dan Komunikatif

  1. Terpadu dalam tujuan.
  2. Terpadu dalam bahan dengan mata pelajaran lain.
  3. Terpadu dalam kegiatan belajar.
  4. Terpadu dalam wadah pembelajaran (Tematis).
  5. Belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi.
  6. Pembelajaran bahasa berlangsung secara kontekstual dan fungsional.
  7. Makna lebih dipentingkan daripada struktur bahasa.
  8. Membaca dan menulis dapat dimulai sejak dini.
  9. Cara belajar aktif.
  10. Kesalahan berbahasa adalah bagian dari proses belajar.
  11. Keanekaan sumber belajar.

MODUL 4
TELAAH GBPP PELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR

Kegiatan Belajar 1
Rambu-rambu Pembelajaran Bahasa Indonesia

Perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses belajar-mengajar bahasa dan sastra Indonesia di SD berdasarkan aturan, petunjuk, atau pedoman tertentu. Pedoman ini dalam GBPP dikenal dengan istilah rambu-rambu pembelajaran.

Rambu-rambu pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SD berisi dua puluh enam butir. Butir-butir tersebut dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok. Dasar pengelompokannya ialah tujuan, bahan, pengelolaan, metode, dan penilaian.

Kelompok pertama berisi butir-butir no. 1, 2, 4, 6, 8, dan 9. Pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa siswa

sebagai sarana berkomunikasi. Ada tiga komponen tujuan pengajaran bahasa, yakni, komponen khusus kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan. Pembelajaran kebahasaan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman dan penggunaan bahasa. Pembelajaran bahasa juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar, perluasan wawasan, dan mengembangkan kepekaan perasaan siswa. Sedangkan pembelajaran sastra diarahkan untuk meningkatkan apresiasi sastra siswa.

Kelompok kedua berisi butir-butir no. 5, 12, 15, 16, 17, 18, 19, 20, dan 25. Penyusunan bahan pelajaran berdasarkan prinsip-prinsip pengajaran, harus aktual, bermakna, sesuai dengan tingkat perkembangan siswa, dan tema. Bahan pembelajaran sastra dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan dengan tema. Bahan pembelajaran dapat dipadukan dengan bahan pelajaran lain seperti IPA, IPS, dan Matematika. Di kelas-kelas rendah SD, bahan pembelajaran bahasa mencakup bahan IPA dan IPS.

Bahan pembelajaran kebahasaan mencakup lafal, ejaan dan tanda baca, struktur, kosa kata, paragraf, dan wacana. Bahan pembelajaran pemahaman adalah bahan simakan, bahan bacaan, termasuk karya sastra. Bahan pembelajaran penggunaan adalah bahan berbicara dan menulis. Sumber penyusunan bahan pembelajaran beraneka seperti buku-buku pelajaran, media cetak dan elektronik, lingkungan, nara sumber, pengalaman dan minat anak, serta hasil karya siswa.

Kelompok ketiga berisi butir-butir no. 3, 7, 10, 11, 13, 14, 21, 22, dan 23. Alokasi waktu ditetapkan berdasarkan keluasan dan kedalaman bahan. Satu pertemuan dapat digunakan untuk dua pembelajaran atau seluruhnya untuk satu pembelajaran, pembelajaran lainnya pada waktu berikutnya. Tema digunakan sebagai sarana pengembangan kosa kata dan pemersatu pembelajaran.

Pembelajaran kosa kata berlangsung dalam konteks wacana berupa berbagai pembelajaran seperti membaca, menulis, dan pembelajaran sastra. Fungsi-fungsi bahasa dilatihkan melalui kegiatan bermain peran, percakapan, menulis dan sebagainya. Urutan pelaksanaan pembelajaran dapat diubah sepanjang tujuan kelas tercapai. Pembelajaran pun dapat dimodifikasi ditambah, atau dikurangi. Kegiatan pembelajaran berupa kegiatan berbahasa yang dilaksanakan secara berimbang dan terpadu. Bobot pembelajaran bahasa dan sastra sebaiknya berimbang. Bahan pembelajaran sastra dapat digunakan untuk bahan pembelajaran bahasa.

Kelompok keempat dan kelima berisi butir no. 24 (metode pengajaran) dan no. 26 (penilaian). Metode pengajaran harus bervariasi agar pembelajaran menarik. Metode itu harus sesuai dengan tujuan dan keadaan siswa. Penilaian proses dan hasil belajar mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap berbahasa siswa.

Kegiatan Belajar 2
Pengembangan Pembelajaran

Sebagian besar isi GBPP Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD, Kurikulum 1994, adalah pembelajaran. Beberapa pembelajaran telah dikembangkan, sedang bagian terbesar belum dikembangkan menjadi perangkat kegiatan belajar.

Pembelajaran adalah kegiatan belajar yang dialami siswa dalam proses menguasai tujuan pembelajaran. Pembelajaran bersinonim dengan pengalaman belajar aktivitas belajar, proses belajar, dan kegiatan belajar. Ciri-ciri Pembelajaran adalah berupa kegiatan siswa, kegiatan berbahasa, dimulai dengan kata kerja, dapat dikembangkan secara kreatif, relevan dengan komponen PBM dan pendekatan pengajaran bahasa.

Pengembangan pembelajaran menghasilkan seperangkat kegiatan belajar atau langkah-langkah pembelajaran. Langkah-langkah pembelajaran itu haruslah terperinci, sistematis, menunjang pencapaian tujuan khusus pembelajaran, beraneka dalam kegiatan berbahasa, serta efisiensi dan efektif. Pembelajaran beserta hasil pengembangannya berfungsi sebagai titik tolok penentuan komponen PBM, alokasi waktu, dan sebagai sarana penerapan pendekatan pengajaran bahasa.

Kegiatan Belajar 3
Unit Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar

Suatu bahan pembelajaran yang dikaji dengan kegiatan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis secara terpadu disebut unit pelajaran. Ciri-ciri unit pelajaran terlihat pada bahan yang terpadu atau bahan yang sama dan kegiatan belajar berupa kegiatan berbahasa yang terpadu.

Tema atau konteks dalam unit pelajaran berfungsi sebagai sarana pengembangan dan perluasan kosakata, dan pemersatu kegiatan berbahasa. Wadah yang tepat untuk mewujudkan tema adalah wacana yang berfungsi sebagai bahan pembelajaran. Tema bukanlah bahan yang harus diajarkan. Tema hanyalah sekedar alat mempersatukan kegiatan berbahasa itu berlangsung dalam suasana yang wajar.

Unit pelajaran secara umum bertujuan meningkatkan keterampilan berbahasa. Hal terlihat pada kegiatan belajar berupa kegiatan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis secara terpadu. Secara eksplisit hanya ada satu tujuan khusus dalam unit pelajaran sesuai dengan pembelajaran yang menjadi landasan pelaksanaannya. Tujuan khusus pembelajaran dalam pelaksanaan unit pelajaran berfungsi sebagai pedoman merancang kegiatan pembelajaran.

Apabila suatu pembelajaran dengan fokus tertentu dilaksanakan sebagai unit pelajaran maka perlu dipersiapkan hal-hal berikut. Susun tujuan khusus pembelajaran, dijabarkan dari pembelajaran. Kemudian susun bahan pembelajaran sesuai dengan tuntutan pembelajaran. Setelah itu jabarkanlah pembelajaran menjadi seperangkat langkah-langkah pembelajaran, atau kegiatan belajar.

Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran unit pelajaran disusun dengan mempertimbangkan hal-hal berikut.

  1. Pertama-tama menjawab pertanyaan penuntun “Kegiatan belajar apa yang harus dilaksanakan oleh siswa agar tujuan khusus pembelajaran dapat tercapai?
  2. Langkah-langkah pembelajaran itu harus sejalan atau relevan dengan tujuan khusus pembelajaran.
  3. Langkah-langkah pembelajaran harus mencakup kegiatan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis secara terpadu.
  4. Urutan langkah-langkah pembelajaran harus sistematis.

MODUL 5
MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN (MMP)

Kegiatan Belajar 1
Metode MMP

Sajian pertama pada awal-awal anak memasuki lingkungan sekolah adalah program MMP (Membaca Menulis Permulaan).

Dalam pelaksanaannya di dalam kelas di kenal bermacam-macam metode pembelajaran MMP, yakni metode eja, metode bunyi, metode suku kata, metode kata, metode global, dan metode SAS.

Pembelajaran MMP dengan metode eja atau metode bunyi dimulai dengan pengenalan unsur bahasa terkecil yang tidak bermakna, yakni huruf. Berbekal pengetahuan tentang huruf-huruf tersebut, kemudian pembelajaran MMP bergerak menuju satuan-satuan bahasa di atasnya, yakni suku kata, kata dan akhirnya kalimat. Perbedaan dari kedua metode ini terletak pada cara pelafalan abjadnya.

Metode suku kata dan metode kata memulai pembelajaran MMP dari suku-suku kata (metode suku kata) dan dari kata (metode kata). Proses pembelajaran melalui kedua metode ini dilaksanakan dengan teknik mengupas dan teknik merangkai.

Metode global dan metode SAS memiliki kesamaan dalam hal pengambilan titik tolak pembelajaran MMP. Proses pembelajaran dimaksud diawali dengan memperkenalkan struktur kalimat sebagai dasar bagi pembelajaran MMP. Perbedaannya proses pembelajaran MMP dengan metode global tidak disertai dengan proses sintesis; sedangkan SAS menuntut proses analisis dan proses sintesis.

Kegiatan Belajar 2
Rancangan Pembelajaran MMP

Sebelum melaksanakan KBM MMP secara aktual di dalam kelas, guru perlu menyiapkan rancangan pembelajaran dalam bentuk persiapan tertulis.

Hal-hal yang perlu dikaji sebagai bahan pertimbangan untuk merancang proses KBM MMP di dalam kelas, sekurang-kurangnya guru harus mengkaji dan menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, memilih dan menetapkan materi pembelajaran, menetapkan metode MMP yang cocok dan tepat, serta merancang penilaian untuk mengukur tingkat pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Untuk kepentingan pembuatan persiapan tertulis, sekurang-kurangnya guru harus mempersiapkan format perencanaan KBM dan format persiapan mengajar sebagai rancangan konsep pelaksanaan KBM yang sesungguhnya di dalam kelas.

Kegiatan Belajar 3
Pelaksanaan Pembelajaran MMP

  1. Pembelajaran MMP terdiri atas pembelajaran membaca permulaan dan pembelajaran menulis permulaan.
  2. Pembelajaran membaca permulaan terbagi ke dalam dua tahap, yakni pembelajaran membaca tanpa buku dan pembelajaran dengan menggunakan buku.
  3. Terdapat bermacam variasi pembelajaran membaca permulaan, di antaranya: membaca buku pelajaran/paket, membaca buku/majalah anak, membaca bacaan susunan bersama guru-siswa, membaca bacaan hasil siswa.
  4. Pembelajaran menulis permulaan terbagi dalam dua tahap yakni tahap pengenalan huruf dan pelatihan menulis.
  5. Terdapat bermacam variasi bentuk latihan menulis permulaan di antaranya: latihan pramenulis (memegang pensil dan gerakan tangan), mengeblat, menghubungkan tanda-tanda titik, menatap, menyalin, menulis halus/indah, dikte/imla, melengkapi tulisan, dan mengarang sederhana.

MODUL 6
MERANCANG PEMBELAJARAN BAHASA MELALUI KARYA SASTRA

Kegiatan Belajar 1
Pembelajaran Bahasa melalui Prosa

  1. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan sewaktu merancang pembelajaran adalah:
    1. tujuan pembelajaran yang akan dicapai
    2. bahan-bahan yang diperlukan
    3. strategi yang akan digunakan
    4. sumber belajar yang diperlukan
  2. Memilih dan menentukan tujuan dilakukan dengan cara butir-butir pembelajaran yang terdapat di dalam GBPP. Bahasa Indonesia untuk SD kelas rendah (1-2) dengan mempertimbangkan kondisi siswa.
  3. Dalam menyiapkan bahan belajar berupa prosa, Anda perlu memilih bahan dengan mempertimbangkan:
    1. kesesuaian dengan tujuan;
    2. kesesuaian dengan kebutuhan anak;
    3. kesesuaian dengan tingkat perkembangan anak.
  4. Dalam memilih strategi kita perlu membayangkan proses pembelajaran berlangsung, dengan demikian kita juga membayangkan hal-hal berikut:
    1. kegiatan yang akan dilakukan guru;
    2. kegiatan yang akan dilakukan siswa.
  5. Sumber belajar. Sewaktu merancang pembelajaran perlu dipikirkan sumber-sumber belajar apa yang akan digunakan? Sumber belajar tidak hanya berupa buku, melainkan dapat berupa alat pelajaran, alat peraga, media, guru, dan siswa.

Kegiatan Belajar 2
Pembelajaran Bahasa Melalui Puisi dan Drama

  1. Rancangan pembelajaran bahasa melalui puisi dan drama, memiliki kesamaan dalam hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu:
    1. tujuan pembelajaran yang akan dicapai;
    2. bahan;
    3. strategi; dan
    4. sumber
  2. Puisi yang sangat bagus adalah hasil penyulingan pengalaman yang tertangkap pikiran dan perasaan dari suatu objek
  3. Ciri-ciri sajak yang lemah menurut Sumardi dan kawan-kawan adalah sebagai berikut:
    1. sajak yang mengandung kata-kata yang berlebihan atau bombastis;
    2. yang menampilkan masalah atau tema yang terlalu kecil, jika dibandingkan alat ekspresinya yang kuat;
    3. yang mengandung kelemahan penalaran;
    4. yang mengandung sisipan objek, sehingga penonjolan objek utama dan keutuhan sajak terganggu;
    5. yang mengandung lebih dari satu sudut pandang;
    6. pemakaian suatu gaya pengucapan atau gaya bahasa yang kurang tepat;
    7. yang mengandung kelemahan rima;
    8. yang prosais;
    9. yang bersifat mengekor.
  4. Pembelajaran puisi dapat menggunakan model-model pembelajaran sebagai berikut:
    1. membaca nyaring tunggal;
    2. membaca nyaring bersama;
    3. membaca nyaring dengan iringan musik;
    4. membaca nyaring dengan nyanyi dan senandung;
    5. membaca nyaring dengan dramatisasi;
    6. bermain kata atau sajak
  5. Kegiatan drama bagi anak-anak harus merupakan langkah rekreasi, senilai dengan kegiatan bermain kelereng, layang-layang, sekolah-sekolahan, rumah-rumahan, bermain boneka.
  6. Pembelajaran drama dapat menggunakan model-model berikut:
    1. berpantomim meniru perilaku nyata;
    2. bersosio drama;
    3. berekspresi dengan topeng;
    4. bermain boneka.

MODUL 7
PROGRAM PEMBELAJARAN BAHASA LINTAS KURIKULUM

Kegiatan Belajar 1
Topik-topik Lintas Kurikulum yang Berpusat pada Siswa

Bahasa Indonesia mempunyai posisi strategis dalam kurikulum sekolah. Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar dalam penyajian setiap mata pelajaran. Bahasa Indonesia diajarkan mulai dari sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi

Sebagai bahasa pengantar, bahasa Indonesia menembus setiap mata pelajaran yang ada dalam kurikulum sekolah yang dikenal dengan istilah bahasa lintas kurikulum. Bahan pelajaran bahasa dapat berpadu dengan setiap bahan pengajaran mata pelajaran lain.

Bahan pembelajaran harus memenuhi berbagai persyaratan. Bahan pengajaran bahasa harus sesuai dengan tema, pembelajaran, tujuan khusus pembelajaran, pengalaman, minat, kebutuhan, lingkungan, dan taraf kemampuan siswa. Bila bahan pembelajaran bahasa dipadukan dengan bahan pengajaran mata pelajaran lain maka persyaratan tersebut ditambahi sesuai dengan bahan pengajaran mata pelajaran terkait.

Pedoman pemilihan topik (bahan pembelajaran) lintas kurikulum seperti tertulis berikut.

  1. Sesuai dengan tema pembelajaran
  2. Sesuai dengan pembelajaran
  3. Sesuai dengan tujuan khusus pembelajaran
  4. Sesuai dengan:
    1. pengalaman
    2. minat
    3. kebutuhan
    4. lingkungan, dan
    5. taraf kemampuan siswa.
  5. Sesuai dengan bahan pengajaran mata pelajaran terkait.

Topik (bahan pembelajaran) lintas kurikulum disusun dengan langkah-langkah seperti berikut.

  1. Membaca GBPP SD, kelas dan caturwulan tertentu dengan cermat.
  2. Memilih salah satu pembelajaran yang diperlukan sesuai dengan bahan pengajaran mata pelajaran tertentu.
  3. Menjabarkan tujuan khusus pembelajaran dari pembelajaran yang telah dipilih.
  4. Memilih terra kegiatan belajar yang dianggap tepat.
  5. Mengembangkan bahan pembelajaran dengan memperhatikan tema dan keadaan siswa.
  6. Maka tersusunlah bahan pembelajaran lintas kurikulum.

Kegiatan Belajar 2
Program Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa

Kurikulum 1994 menuntut guru berpikir apa yang perlu dipelajari oleh siswa dan bagaimana cara siswa belajar. Orientasi pengajaran bahasa Indonesia dari guru ke siswa, dari mengajar ke pembelajaran. Ini berarti pembelajaran bahasa berpusat pada siswa.

Dalam merancang program pembelajaran yang berpusat pada siswa harus diperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan siswa seperti hal-hal berikut:

  1. pengalaman siswa
  2. minat siswa
  3. lingkungan siswa
  4. kebutuhan siswa
  5. kemampuan siswa.

Komponen program pembelajaran yang berpusat pada siswa ada sembilan butir seperti tertulis berikut ini.

  1. Pembelajaran.
  2. Tujuan khusus pembelajaran.
  3. Tema.
  4. Bahan pembelajaran.
  5. Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran.
  6. Teknik/Metode pengajaran.
  7. Media/Sarana pengajaran.
  8. Alokasi waktu.
  9. Penilaian.

MODUL 8
PENILAIAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS I DAN II SEKOLAH DASAR

Kegiatan Belajar 1
Hakikat Penilaian Pembelajaran Bahasa Holistik

Evaluasi atau penilaian adalah suatu proses pengumpulan, pengolahan, dan pemaknaan data (informasi) untuk menentukan nilai atau kualitas sesuatu yang terkandung di dalam data tersebut. Di dalam kegiatan itu terkandung fase pengumpulan data, pengolahan data menjadi informasi, dan menggunakan informasi itu untuk mengambil keputusan. Dalam pembelajaran, hasil evaluasi digunakan untuk menilai kesesuaian dan ketercapaian tujuan, kegunaan bahan ajar, dan keefektifan pembelajaran. Dengan kata lain, evaluasi ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Berdasarkan tuntutan Kurikulum 1994, penilaian pembelajaran bahasa Indonesia yang tampaknya paling sesuai dilakukan secara holistik. Penilaian holistik berpandangan bahwa pengetahuan unsur bahasa dan keterampilan berbahasa merupakan kemampuan saling terkait erat. Kemampuan itu diperoleh siswa secara bertahap, terus-menerus, terjadi di dalam konteks berbahasa yang otentik, dan hasilnya dipengaruhi oleh latar belakang dan bawaan siswa itu sendiri.

Atas dasar itu, praktik penilaian holistik dilakukan dengan cara berikut.

  1. Dilaksanakan secara terus-menerus dengan memperhatikan tingkat perkembangan kemampuan siswa.
  2. Didasarkan atas pengalaman keseharian berbahasa yang wajar.
  3. Bertolak dari kegiatan pembelajaran yang sesungguhnya terjadi di dalam kelas.
  4. Diarahkan pada proses dan hasil belajar.
  5. Hasil penilaian lebih dimaksudkan untuk membandingkan kemajuan belajar siswa dengan pencapaian sebelumnya dari siswa itu sendiri, daripada membandingkannya dengan siswa lain.
  6. Melibatkan siswa di dalam penilaian

Berdasarkan prosedurnya, penilaian terbagi atas dua jenis.

  1. Penilaian proses, yaitu penilaian yang diarahkan untuk memperoleh informasi mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain, penilaian ini ditujukan untuk mengevaluasi usaha-usaha dan kemajuan yang dicapai siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
  2. Penilaian hasil, yaitu penilaian yang dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai pencapaian hasil belajar siswa.

Ditinjau dari segi alat yang digunakan, penilaian ini terbagi atas dua jenis.

  1. Tes, yaitu serangkaian pertanyaan atau tugas untuk mengukur pencapaian hasil belajar. Dari cara yang dilakukannya, tes terbagi atas tes lisan, tes tertulis, dan tes perbuatan.
  2. Nontes, yaitu alat penilaian selain tes. Termasuk ke dalamnya adalah observasi, wawancara, tugas, dan portofolio. Alat penilaian ini biasanya digunakan untuk mengevaluasi sikap, usaha, tanggapan, dan perkembangan kemajuan siswa. Kedua alat penilaian di atas berfungsi saling melengkapi dan digunakan bersama-sama untuk memperoleh hasil evaluasi yang utuh, menyeluruh, dan bermakna.

Kegiatan Belajar 2
Pelaksanaan Penilaian Holistik

Sebagai sesuatu yang masih baru, penerapan holistik hendaknya dilakukan secara bertahap. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk persiapan pelaksanaan penilaian tersebut.

  1. Memahami hakikat dan prosedur pelaksanaannya.
  2. Menentukan atau membatasi aspek pelajaran bahasa yang akan dinilai secara holistik.
  3. Memahami kebiasaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sendiri.
  4. Memantapkan tujuan penilaian holistik.
  5. Mengembangkan rencana pembelajaran dan penilaian.
  6. Menentukan alat penilaian tes dan nontes yang sesuai.
  7. Merancang alat penilaian tes dan nontes yang sesuai.
  8. Menyiapkan perangkat pendukung kelas.

Dalam pelaksanaannya, penilaian dilakukan dalam pembelajaran dengan memperhatikan kondisi dan kemajuan individual serta kelompok. Alat penilaian yang digunakan adalah tes dan nontes. Dalam proses penilaian, guru melibatkan anak dan orang tuanya sehingga perkembangan, kemajuan, hasil, dan masalah belajar anak dapat diketahui dan diatasi bersama-sama. Pada akhir caturwulan, nilai hasil tes dan nontes dapat digabungkan sebagai laporan akhir belajar siswa.


MODUL 9
PROGRAM REMIDIAL DAN PENGAYAAN BAHASA INDONESIA UNTUK KELAS I DAN II SEKOLAH DASAR

Kegiatan Belajar 1
Mengidentifikasi Adanya Kebutuhan Pengajaran Remedial dan Pengayaan

Pengajaran remedial diadakan untuk siswa yang lambat belajar dibandingkan teman-teman sekelasnya, sedangkan pengajaran pengayaan disediakan bagi siswa yang cepat belajar dibandingkan teman-temannya yang mengikuti program biasa. Gejala kesulitan belajar bahasa yang mungkin timbul ialah: mengenal huruf, meran

  • Trackback are closed
  • Komentar (0)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: