KITAB-KITAB SALAF DALAM MASALAH AQIDAH

KITAB-KITAB SALAF DALAM MASALAH AQIDAH

Wahai saudaraku yang mulia;

Sekarang kita sampai kepada pembahasan yang sesuai dengan judul tulisan ini. Kita telah mengetahui perbedaan antara manhaj salaf dengan khalaf dan mengetahui pula kedudukan dan pentingnya aqidah salaf yang garis besarnya adalah berpegang teguh dengan sunnah dan menjauhi kebid’ahan.

Di dalam bab ini, saya akan menyabutkan dua Imam yang mulia.

Imam Az Zuhri rahimahullah berkata: “Ulama-ulama kita berkata:

“Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan.”

Imam Malik rahimahullah berkata:

“As Sunnah adalah seperti perahunya Nabi Nuh. Barangsiapa yang menaikinya, ia akan selamat dan barangsiapa yang tidak mau menaikinya, maka ia akan tenggelam.”[24]

Seharusnya bagi (seorang) penuntut ilmu bersemangat untuk menyelamatkan aqidah dan manhajnya.

Caranya dengan cara membiasakan diri dengan membaca kitab-kitab sunnah dan kitab yang berisi aqidah salafus shalih serta bersungguh-sungguh dalam menelaahnya. Kemudian mempraktekkan apa yang telah diketahuinya dengan penuh keadilan dalam semua urusan. Tidak tafrith (menyepelekan) dan tidak pula ifrath (melampaui batas).

Hendaklah para penuntut ilmu menghindari sikap keras yang melampaui batas. Selalu bersama para ulama yang kokoh di atas sunnah dan mencontoh mereka untuk menghadapi (permasalahan) yang berada di sekitar kita.

Menjauhkan diri dari sikap menentang dan berpaling dari manhaj salaf serta kitab-kitabnya atau menjelek-jelekkan para ulama yang kokoh (di atas ilmu) atau menganggap mereka jahil dan lalai.

Jika semuanya ini telah kalian ketahui, maka ketahuilah wahai saudaraku, bahwa kitab-kitab yang menjelaskan tentyang aqidah salaf ada tiga bentuk, yaitu:

Pertama : Kitab-kitab Hadits.

Kedua : Kitab-kitab Tafsir.

Ketiga : Kitab-kitab khusus yang berbicara dalam masalah ijtihad.

Dan saya akan menjelaskan dari tiap-tiap bagian macam-macamnya, jika memungkinkan.

A. KITAB-KITAB HADITS

Kebanyakan kitab-kitab hadits sangat memperhatikan hadits-hadits yang berkaitan dengan masalah i’tiqad (keyakinan) dan mencakup juga di dalamnya bantahan terhadap penyelisihnya.

Diantara kitab-kitab hadits adalah:

Shahih Al Bukhari (Kitab hadits yang paling utama).
Imam Al Bukhari memasukkan dalam kitab Shahih beliau tiga kitab dalam masalah i’tiqad dan bantahan kepada kelompok Murji’ah.[25] Kitab Tauhid milik beliau rahimahullah mencakup di dalamnya bantahan terhadap kelompok Jahmiyah.[26]

Sedangkan kitab Al I’tisham bis Sunnah mencakup bantahan terhadap para pengagung akal dan orang-orang yang mengingkari hadits Ahad sebagai hujjah (di dalam agama, khususnya dalam masalah aqidah –ed).

Shahih Muslim.
Imam Muslim memasukkan di dalam kitab Al Iman (Permasalahan tentang aqidah) dan mencakup bantahan terhadap Qadariyah.[27]

Sunan Abu Dawud.
Abu Dawud memasukkan dalam Sunan-nya, kitab As Sunnah yang di dalamnya membahas bantahan terhadap Qadariyah, Murji’ah, Jahmiyah Al Mu’aththilah.

Beliau bahkan meletakkan judul dan nama-nama kelompok tersebut seperti ucapan beliau dalam bab: Ar Raddu ‘alal Jahmiyah.

4. Sunan Ibnu Majah.

Al Imam abu ‘Abdillah Muhammad Yazid bin Majah meletakkan di dalam mukadimah kitab Sunan mulik beliau tentang wajibnya mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan jumlah halaman kurang lebih sebanyak 100 halaman dengan jumlah hadits sebanyak 266 buah.

Beliau membuat banyak bab (di dalamnya), diantaranya: bab: Fima Unkiratil Jahmiyah. Beliau menyebutkan di dalam bab ini pengingkaran Jahmiyah terhadap ru’yatullah (Allah akan dilihat pada hari kiamat), Allah berbicara dan Allah beristiwa’ di atas ‘Asry-Nya.

Beliau membawakan hadits-hadits yang merupakan bantahan terhadap mereka. Baliau menjelaskan juga tentang Khawarij dan selain mereka dari kelompok-kelompok bid’ah. Bahkan beliau menulis satu bab (yang membahas) kewajiban untuk menjauhi ra’yu (pendapat-pendapat yang tidak memiliki dasar atau dalil).

B. KITAB-KITAB TAFSIR

Yang dimaksud di sini adalah kitab-kitab yang ma’tsur (memiliki sanad) dan tempat-tempat (permasalahan ini) pada ayat-ayat sifat, seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Ar Rahman (Allah) beristiwa di atas ‘Arsy.” (Thaha: 5)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Kemudian Dia (Allah) beristiwa di atas ‘Arsy.” (Al A’raf: 54; Yunus: 3; Ar Ra’d: 2; Al Furqan: 59; As Sajdah: 4; Al Hadiid: 4)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Kepada apa yang Aku telah menciptakannya dengan kedua tangan-Ku.” (Shad: 75)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Bahkan kedua tangan-Nya terhampar (terbuka).” (Al Maidah: 64)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Yang berlayar dengan mata-mata Kami.” (Al Qamar: 14)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan Rabb-mu telah datang dan malaikat dengan bershaf-shaf.” (Al Fajr: 22)

Dan selainnya dari ayat-ayat shifat (yakni ayat yang menyebutkan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala).

Termasuk dari sederetan tafsir salaf, yang sudah dicetak dan yang belum dicetak, dengan keistimewaannya yaitu bersanad artinya seorang musafir (ulama ahli tafsir) menyebutkan sand-sanad hadits sampai akhir.

Kitab-kitab tafsir tersebut antara lain:

Tafsir Ibnu abi Hatim.
tafsir Abd. Bin Humaid.
Tafsir Ibnu Mardawaih.
Tafsir Al Baghawi.
Tafsir Ath-Thabari.
Tafsir Ad Dural Mantsur, karya: Imam As Suyuthi.
Tafsir Ibnu Katsir.
C. KITAB-KITAB DALAM MASALAH AQIDAH

Wahai saudara-saudara yang kuucintai;

Jika disebutkan aqidah salaf Ahlus Sunnah dan tokohnya dalam menjelaskan aqidah tersebut serta gigih membelanya, maka Imam Ahmad bin Hanbal-lah sebagai imam mereka dan sekaligus sebagai pemimpinnya. Di tangan beliaulah aqidah salaf mencuat ke permukaan dan terbedakan dengan para penyelisihnya.

Beliau telah tampil menghadang Jahmiyah dan Mu’tazilah sebagaimana Abu Bakar tampil menghadang orang-orang murtad. Karena itu beliau adalah sebagai lambang sunnah dan digelari Imam Rabbani dan Ash Shiddiq yang kedua.[28]

Tidak asing lagi, bahwa beliau rahimahullah telah mendapat ujian demi ujian yang tidak akan bisa dipikul oleh selain beliau dan tidak akan bersabar untuk menerima ujian seperti yang beliau alami dalam mempertahankan keyakinan.

Imam Al Muhaddits Ali bin al Madini –Syaikh Imam al Bukhari- berkata: “Sesungguhnya Allah telah menjayakan Islam ini dengan dua tokoh dan tidak ada yang ketiganya, yaitu: Abu Bakar Ash shiddiq pada hari-hari pemurtadan dan Imam Ahmad pada hari-hari fitnah, yaitu fitnah perkataan Al qur’an adalah mahluk dan pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah.”

Al Imam Ishaq bin Rahawaih mengatakan tentang beliau: “Kalau bukan karena Imam ahmad dan pengorbanan beliau,niscaya Islam ini akan hilang.”

Bahkan cinta dan bencinya (seseorang) kepada beliau rahimahullah adalah sebagai barometer untuk mengetahui (apakah dia) Ahlus Sunnah atau Ahlul Bid’ah.

Imam Abi Hatim berkata: ‘Apabila kalian melihat seseorang mencintai Ahmad bin hanbal, ketahuilah bahwa dia adalah Ahlus Sunnah.”

Abu Ja’far Al Fallas berkata: “Apabila kalian melihat seseorang mencerca Ahmad bin Hanbal, maka sesungguhnya dia adalah seorang Mubtadi’ (pelaku bid’ah) yang sesat.”[29]

Imam Ahmad sangat membenci berdalam-dalam tentang masalah agama, banyak berbicara tentang sifat-sifat Allah (sebagaimana Ahlul Bid’ah) dan perkara-perkara yang berkaitan dengannya.

Ketika beliau melihat marabahaya yang akan menimpa agama yang didalangi oleh Mu’tazilah, maka beliau dalam keadaan terpaksa harus terjun ke medan pertarungan. Beliau mengorbankan segalanya demi terjaganya aqidah umat ini.

Karya-karya Imam Ahmad diantaranya:

Kitab As Sunnah.
Kitab Ar Raddu ‘alal Jahmiyah.
Beliau memberi kesempatan kepada para ulama di dalam menjelaskan aqidah yang benar dan membantah para penyelisih dengan kemampuan yang jelas. Diantara sederetan para ulama yang memiliki andil besar dalam membela aqidah salaf dan memegang kitab antara lain:

Al Imam Abdullah bin Al Mubarak (wafat pada tahun 181 H).
Yahya bin Said Al Qaththan, seorang ulama ahli hadits, ahli hujjah dan kritisi (wafat pada tahun 198 H).
Ibnu Abi syaibah, Abu Bakar abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Al Abbasi. Beliau telah menulis kitab As Sunnah dan kitab Al iman (wafat pada tahun 225 H).
Yahya bin Bukhair bin Abdurrahman al Hanzhali Al Hafizh. (wafat pada tahun 226 H).
Abu Abdillah Nu’aim bin Hammad. Beliau dan Murid-muridnya meninggal di penjara karena pukulan yang sangat keras (wafat pada tahun 228 H).
Abdul Aziz Al Kinani Al Makki, pengarang kitab Al Haidah.
Abdullah bin Muhammad Al Ju’fi, salah seorang guru Imam Al Bukhari (wafat pada tahun 229 H). Beliau menulis kitab yang berjudul Ar Raddu ‘alal Jahmiyah.
Imam Ishaq bin Ibrahim yang terkenal dengan nama “Ibnu Rahawaih” (wafat pada tahun 238 H).
Imam Muhammad bin Isma’il bin Al bukhari. Disamping menulis kitab Al Jami’, beliau juga menulis kitab Khalqu Af’alil ‘Ibad dan Ar Raddu ‘alal Jahmiyah.
Imam Abu Bakar ahmad bin Muhammad bin Hani’ Al Atsram, teman Imam Ahmad (wafat pada tahun 273 H). Beliau menulis kitab As Sunnah.
Imam Abdullah bin Imam Ahmad. Beliau menulis kitab As Sunnah dan telah dicetak dengan tahqiq DR. Muhammad Said Al Qaththani.
Imam Utsman bin said Ad Darimi (wafat pada tahun 280 H). Beliau memiliki kitab yang berjudul Ar Raddu ‘alal Jahmiyah dan Ar Raddu ‘alal Marisi.
Imam Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Said Al Marwazi (wafat pada tahun 292 H). Kitab beliau berjudul As Sunnah.
Imam Abu Bakar Muhammad bin Al Husain bin Abdillah Al Ajurri (wafat pada tahun 360 H). Diantara karya beliau adalah kitab Asy syari’ah dan kitab At tashdiq bin Nazhar ila Wajhillah wama A’adda li Auliya’uhu.
Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad Ath Thabrani. Beliau memiliki karya-karya Al Ma’ajim dan selainnya seperti kitab As sunnah (wafat pada tahun 360 H).
Imam Abu ali Haubal bin ishaq asy Syaibani, anak paman Imam ahmad dan murid beliau (wafat pada tahun 283 H). Beliau menulis kitab yang berjudul As Sunnah.
Imam Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Harun Al Khallaf, beliaulah yang telah menghimpun ilmu Imam Ahmad (wafat pada tahun 311 H). Beliau menulis kitab As Sunnah dalam tiga jilid dan telah ditahqiq satu jilid oleh DR. ‘Athiyah Adz Dzahrani.
Imam Abu syaikh abdullah bin Muhammad bin Ja’far bin Hayyan Al Ashbahani. Karyanya banyak, diantaranya adalah kitab As Sunnah (wafat pada tahun 369 H).
Imam Abu Bakar Ahmad bin ‘Amr bin Abi ‘Ashim An Nabil Asy Syaibani (wafat pada tahun 287 H). Beliau menulis kitab As Sunnah dan telah ditakhrij haditsnya oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani rahimahullah.
Imam Abu Hafizh Umar bin Ahmad bin Utsman Al Baghdadi, seorang penasehat dan terkenal dengan nama “Syahin.” Beliau seorang hafizh besar (wafat pada tahun 385 H). Beliau memiliki kitab As Sunnah.
Imam Abul Hasan Al Asy’ari (wafat pada tahun 324 H). Beliau menulis kitab Al Ibanah dan kitab Al Mujiz. Beliau mengarang kitab tersebut dengan mengikuti jalannya ahlul hadits dalam menetapkan sifat-sifat (bagi Allah) dan di dalamnya terdapat bantahan terhadap Jahmiyah dan selainnya serta orang yang menta’thilkan (menolak) sifat-sifat (bagi Allah).
Imam Khasyisy bin Asram (wafat pada tahun 253 H). Beliau menulis kitab yang berjudul Al Istiqamah dan Ar Raddu ‘alal Ahlil Bid’ah.
Imam Ishaq bin Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (wafat pada tahun 311 H), menulis kitab At Tauhid wa Itsbat sifat Irrabi Azza wa Jalla.
Imam abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath Thabari (wafat pada tahun 310 H). Beliau adalah penulis kitab tafsir yang besar dan kitab-kitab di atas manhaj ahli hadits dan sunnah, sebagaimana telah berlalu penjelasannya.
Abu Abdillah Muhammad bin Yahya bin Mundah, seorang hafizh dan banyak berjalan dalam rangka untuk menuntut ilmu. Karya beliau antara lain kitab As Sunnah (wafat pada tahun 301 H).
Imam Abu Al Qasim Hibatullah bin Hasan Al Lalikai (wafat pada tahun 481 H). Diantara kitab beliau adalah Syarah Ushulus Sunnah dan telah dicetak dengan ditahqiq oleh DR. Ahmad Sa’ad Hamdan.
Imam Al Hafizh Amirul Mukminin dalam ilmu hadits, Abul Hasan bin Umar Ad Daruquthni (wafat pada tahun 385 H). Diantara kitab beliau adalah kitab Ash Shifat, kitab An Nuzul dan kitab Ar Ru’yah.
Imam al Hafizh ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah Al ‘Akbari (wafat pada tahun 387 H). Diantara karya beliau adalah Al Ibanah ‘an Syari’atil Firqatunnajiyah wa Mujanabatul Firaqil Mazmumah, kitab Al Ibanah Ash shughra dan kitab As Sunnah.
Imam Muhyis Sunnah, Abu Muhammad Al Husain bin Mas’ud Al Baghawi (wafat pada tahun 516 H). Diantara karya beliau adalah Syarhus Sunnah dan di dalamnya mencakup kitab Al Iman. Diantara bab dalam kitab Al Iman adalah bab: Ar Raddu ‘alal Jahmiyah, bab: Bantahan terhadap Bid’ah-bid’ah dan hawa nafsu, bab: Menjauhi Ahlul Ahwa’. Dan telah lewat diisyaratkan kitab beliau dalam kitab-kitab tafsir.
Imam al Hafizh Abul Qasim Ismail bin Muhammad bin Al Fadl At Taimi Al Ashbahani (wafat pada tahun 535 H). Diantara kitab beliau adalah Al Hujjah fi Bayanil Mahajjah, dan Syarah Madzhab Ahlus Sunnah, dan telah diocetak dengan dua jilid dengan Muhaqqiq Muhammad Rabi’ Al Madkhali dan Muhammad Abu Rahim.
Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyyah (wafat pada tahun 728 H). Kitab-kitab beliau terkenal (di kalangan kaum muslimin) dan banyak dipakai oleh para penuntut ilmu.
Beliau telah mengarang kitab-kitab yang banyak, baik dalam masalah aqidah atau di dalam dakwah agar kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah, memerangi segala bentuk bid’ah dan hawa nafsu. Diantara kitab beliau, antara lain: Al aqidah Al Wasithiyah, Al aqidah Al Hamawiyah, At Tadmuriyah, Iqtidha Shirathal Mustaqim, Minhajus Sunnah, Daru Ta’arudhul ‘Aql wan Naql, Qaidatan Jalilatun fi At Tawassul wal Wasilah, Ar Raddu ‘ala Al Bakri dan Ar Raddu ‘ala Al Akhna’i.

Foot Note:

[24]. Lihat Fatawa Syaikhul Islam (4/57) dan kitab Al I’tisham (1/224-225).

[25]. Murji’ah adalah kelompok sesat yang memiliki keyakinan bahwa amal perbuatan bukan bagian dari Iman. Sebagian dari mereka berkata: “Iman tidak akan rusak karena perbuatan maksiat sebagaimana ketaatan (seseorang) tidak bermanfaat karena kekafirannya.”

[26]. Jahmiyah adalah kelompok sesat yang menolak nama dan sifat-sifat Allah. Pendiri kelompok ini adalah Jahm bin Shafwan –ed.

[27]. Pemahaman Qadariyah dinisbatkan kepada Mu’tazilah, dikarenakan mereka mengingkari taqdir. Qadariyah ada 2 macam yaitu Qadariyah pertama dan Qadariyah Mu’tazilah.

[28]. Lihat kitab Manaqib Imam Ahmad karya Ibnul jauzi (hal. 110 dan 116).

[29]. Lihat Muqaddimah Al Ma’rifah li Kitab Al Jarh wat Ta’dil (hal. 308-309).

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: