Pendekatan Iklim Sosio – Emosional

A. Pendekatan Iklim Sosio – Emosional
Pendekatan iklim sosio – emosional dalam manajemen kelas berakar pada psikologis penyuluhan klinis. Pendekatan ini dibangun atas dasar asumsi bahwa manajemen kelas yang efektif sangat tergantung kepada hubungan yang positif antara guru dan peserta didik. Menurut Glasser (1969), menekankan pentingnya keterlibatan guru dengan menggunakan strategi manajemen yang disebut terapi kenyataan. Perilaku siswa yang menyimpang adalah buah kegagalannya mengembangkan keberadaan dirinya. Glasser mengemukakan 8 langkah untuk membantu mengubah perilaku menyimpang peserta didik, yaitu:
1. Melibatkan dirinya dengan siswanya dengan menunjukkan kesediannya membantu siswa, memecahkan masalah.
2. Memberikan uraian tentang perilaku siswa.
3. Membantu siswa membuat pendapat tentang perilakunnya yang menjadi masalah.
4. Membantu siswa merencanakan tindakan yang lebih baik.
5. Membimbing siswa.
6. Mendorong siswa untuk melaksanakan rencananya.
7. Tidak menerima pernyataan maaf siswa apabila rencana siswa gagal.
8. Memberikan kesempatan kepada siswa merasakan akibat wajar dari perilakunya yang menyimpang.
Sementara itu, Dreikurs (1982) mengemukakan gagasan – gagasan penting yang mempunyai implikasi bagi manajemen kelas yang efektif, yaitu:
1. Penekanan pada kelas yang demokratis dengan kondisi siswa dan guru berbagi tanggung jawab, baik dalam proses maupun dalam langkah maju.
2. Pengakuan akan pengaruh konsekuensi wajar dan logis dari perilaku siswa.
B. Pendekatan Proses Kelompok
Pendekatan proses kelompok didasarkan pada asumsi – asumsi berikut:
1. Kehidupan sekolah berlangsung dalam lingkungan kelompok, yakni kelompok kelas.
2. Tugas pokok guru adalah menciptakan dan membina kelompok kelas yang efektif dan produktif.
3. Kelompok kelas adalah suatu system social yang mengandung ciri – ciri yang terdapat pada semua system social.
4. Pengelolaan siswa oleh guru adalah menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang menunjang terciptanya suasana belajar yang menguntungkan.
Schmuck dan Schmuck dalam Weber (1986) mengemukakan 6 ciri pendekatan proses kelompok, yaitu:
1. Harapan adalah persepsi yang dimiliki oleh guru dan siswa mengenai hubungan mereka satu sama lain.
2. Kepemimpinan dapat diartikan sebagai perilaku yang membantu kelompok bergerak menuju pencapian tujuannya serta memelihara dan / atau meningkatkan kepaduan.
3. Daya tarik menunjuk pada pola – pola persahabatan dalam kelompok kelas.
4. Norma adalah pengharapan bersama mengenai cara berfikir, cara berperasaan, dan cara berperilaku para anggota kelompok. Norma sangat mempengaruhi hubungan antar pribadi karena norma tersebut memberikan pedoman yang membantu para anggota memahami orang lain.
5. Komunikasi, baik verbal maupun non – verbal adalah dialog antara anggota – anggota kelompok, komunikasi yang efektif berarti menerima pesan dan menafsirkan dengan tepat pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan.
6. Keterpaduan menyangkut perasaan kolektif yang dimiliki oleh para anggota kelas mengenai kelompok kelasnya. Keterpaduan menekankan hubungan individu dengan kelompok sebagai suatu keseluruhan.

C. Pendekatan Eklektik
. Perilaku pengelolaan tertentu yang sesuai dengan situasi disebut pendekatan eklektik.
Hal yang perlu dikuasai oleh seorang guru dalam menerapkan pendekatan eklektik yaitu:
1. Menguasai pendekatan manajemen kelas yang potensial, seperti pendekatan pengubahan perilaku, penciptaan iklim sosio – emosional, dan proses kelompok.
2. Dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai baik dalam masalah manajemen kelas.

D. Pendekatan Analitik Pluralistik
Beberapa 4 tahap pendekatan analitik pluralistic:
1. Menentukan kondisi kelas yang diinginkan
Keuntungan dari pendekatan ini adalah:
a. Guru tidak memandang kelas semata – mata hanya sebagai reaksi atas masalah yang timbul.
b. Guru akan memiliki seperangkat tujuan yang mengarahkan dan yang menjadi tolak ukur penilaian atas hasil upayanya.
2. Menganalisis kondisi kelas yang nyata
Dengan mengadakan analisis ini, akan memungkinkan guru mengetahui:
a. Kesenjangan antara kondisi sekarang dan yang diharapkan.
b. Kesenjangan yang timbul jika guru gagal mengambil tindakan pencegahan.
c. Kondisi sekarang yang perlu dipelihara dan dipertahankan karena dianggap kurang baik.
3. Memilih dan menggunakan strategi pengelolaan
Guru yang efektif adalah guru yang menguasai berbagai strategi manajerial dan mampu memilih dan menggunakan strategi yang paling sesuai dalam situasi tertentu yang dianalisis sebelumnya.
4. Menilai keefektifan pengelolaan
Proses penilaian ini memusatkan perhatian kepada 2 perangkat perilaku, yaitu:
a. Perilaku guru yaitu sejauh mana guru telah menggunakan perilaku manajemen yang direncanakan akan dan dilakukan.
b. Perilaku peserta didik yaitu sejauh mana peserta didik berperilaku yang sesuai, yakni apakah mereka telah melakukan apa – apa yang diharapkan untuk dilakukan.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: