RENCANA PENELITIAN KUALITATIF NATURALISTIK

RENCANA PENELITIAN

Secara definitif, rencana penelitian adalah gambaran se-cara rinci (detaile) tentang proses yang akan dilakukan oleh para peneliti untuk dapat memecahkan permasalahan penelitian. Tujuan rencana penelitian adalah untuk memberitahukan secara jelas, kepada pembimbing, tim peneliti, para key informan dan orang lain yang berkepentingan di tempat penelitian tentang tujuan penelitian, siapa yang hendak ditemui, dan apa yang hendak dilakukan maupun dicari di tempat penelitian.
Secara umum perencanaan penelitian dibuat oleh para pe-neliti sebelum mereka pergi melakukan penelitian di lapangan, sehingga para peneliti maupun pihak-pihak yang berkepentingan (pembimbing, anggota tim peneliti dan para pejabat di tempat di mana penelitian dilakukan) mengetahui apa maksud dan tujuan kegiatan yang hendak dilakukan oleh para peneliti. Demikian da-lam penelitian kualitatif nautralistik, para peneliti sebaiknya te¬lah membuat rencana penelitian. Walaupun demikian sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif naturalistik, di mana rencana maupun desain penelitian dapat diubah secara fleksibel dengan menyesuaikan situasi dan kondisi di tempat penelitian, maka para peneliti yang telah menetapkan untuk menggunakan pendekatan penelitian kualitatif naturalistik juga dapat mengaplikasikan prinsip-prinsip tersebut.
Rencana penelitian kualitatif naturalistik berisi tentang komponen-komponen penting, yang menggambarkan urutan tindak¬an yang harus dilakukan untuk mendapatkan data peneliti-an, sehingga pada akhirnya dapat digunakan sebagai masukan utama dalam pemecahan masalah penelitian. Untuk penelitian kuali¬tatif naturalistik komponen-komponen tersebut dapat di-gunakan sebagai tindakan awal yang berguna baik bagi peneliti, sponsor maupun para key informan di tempat penelitian.

F. Desain penelitian
Desain penelitian tidak lain adalah sebagian dari ren¬ca-na penelitian yang menunjukkan sebagai gambaran men¬dalam tentang proses penelitian yang hendak dilakukan pene¬liti guna memecahkan permasalahan. Unsur-unsur penting da¬lam desain penelitian kualitatif-naturalistik di antaranya ter¬masuk:
1. Menentukan fokus penelitian yang pada umumnya berisi tentang uraian latar belakang permasalahan, permasalahan yang muncul, identifikasi fenomena permasalahan yang menunjukkan realitas permasalahan, menentukan fokus penelitian yang dapat berfungsi sebagai guide atau pe-tunjuk dalam eksplorasi data.
2. Membangun paradigma penelitian yang sesuai dengan kondisi di lapangan guna mengembangkan landasan teori.
3. Menentukan kesesuaian antara paradigma dengan teori yang dikembangkan, sehingga peneliti tetap yakin ter-hadap kebenaran teori yang dibangun yang pada umum-nya masih saling berkaitan dengan paradigma yang di-kembang¬kan.
4. Menentukan sumber data yang dapat digali dari masya¬ra-kat yang diteliti.
5. Menentukan tahapan-tahapan dalam proses penelitian.
6. Mengembangkan instrumen penelitian yang dituangkan se¬cara tertulis sebagai fungsi pertanggungjawaban peneliti kepada pribadi sponsor maupun kepada para peneliti lainnya.
7. Merencanakan teknik pengumpulan data yang digunakan dan cara pencatatannya.
8. Rencana analisis data yang di dalamnya mencakup komponen-komponen seperti: kategorisasi data sesuai dengan karakteristik ubahan, menilai pengelompokan dan checking di antara para anggota peneliti.
9. Merencanakan lokasi dan tempat penelitian agar peneliti memperoleh informasi dari tangan pertama (informasi primer).
10. Merencanakan lokasi penelitian yang sesuai dan relevan.
11. Menghormati etika penelitian dan, menghormati hak res-ponden.
12. Mempersiapkan laporan penulisan dan penyelesaian penelitian.

G. Setting Penelitian Naturalistik
Setting penelitian adalah lingkungan, tempat atau wilayah yang direncanakan oleh peneliti untuk dijadikan sebagai objek penelitian. Setting penelitian kualitatif natu-ralistik mempunyai tiga dimensi yaitu 1) dimensi tempat, 2) dimensi pelaku, 3) dimensi kegiatan.
1. dimensi tempat merupakan daerah atau wilayah di mana subjek atau objek penelitian yang hendak diteliti. Di¬mensi tempat ini, dibedakan menjadi tempat terbuka dan tempat tertutup. Dikatakan sebagai tempat terbuka, jika daerah atau wilayah tidak dibatasi secara nyata, agar terpisah dari subjek/objek lain. Tempat terbuka ini termasuk misalnya: terminal, pasar, pelabuhan. Dikatakan sebagai tempat ter-tutup, jika peneliti perlu menggunakan prosedur tertentu untuk dapat mengakses atau memasuki objek penelitian tersebut. Contoh tempat tertutup, misalnya kantor, lemba-ga, dan perusahaan.
2. dimensi pelaku yaitu subjek atau objek yang berperan dalam menentukan keberhasilan tahap pengambilan infor-masi dari suatu proses penelitian. Contoh dimensi pelaku ini misalnya, orang dan masyarakat yang tinggal bersama dalam suatu tempat/wilayah/daerah.
3. dimensi kegiatan, merupakan implikasi dari adanya hake-kat manusia atau binatang dan tumbuh-tumbuhan sebagai makhluk hidup. Contoh kegiatan dan implikasinya ter-masuk: manusia bekerja untuk mendapatkan upah atau gaji, agar dapat hidup layak. Binatang memakan rumput dan hidup berkelompok agar mereka dapat hidup dan me-ngembangkan keturunannya.

H. Observasi
Observasi merupakan salah satu alat pengumpul data yang menggunakan indera penglihatan sebagai media utama-nya (Sukardi 2003: 79). Dalam penelitian kualitatif observasi merupakan alat pengumpul data utama. Fungsi mata sebagai media utama dalam hal ini, juga dapat dilengkapi dengan adanya foto kamera, vidio record dan film record. Dalam penelitian kualitatif naturalistik, observasi dapat dibedakan menjadi tiga yaitu 1) observasi terbuka, b) observasi tertutup dan c) observasi tidak langsung.
1. Observasi dikatakan terbuka, apabila peneliti dalam meng-ambil data berinteraksi langsung dengan individual atau masyarakat sebagai responden. Keberadaan peneliti dalam melakukan observasi ini diketahui secara langsung oleh responden.
2. Observasi dikatakan tertutup, apabila keberadaan peneliti ketika melakukan kegiatan pengamatan posisinya, secara sistematis tidak diketahui oleh responden.
3. Observasi tidak langsung, apabila peneliti ketika meng-ambil data kepada responden tidak secara langsung hadir dan berinteraksi dengan mereka. Mereka dapat meng¬guna-kan media perantara lain yang dapat membantu dalam pengambilan data
Teknik pengambilan data dengan model observasi yang menjadi pilihan peneliti, hendaknya perlu diuraikan secara jelas dalam laporan penelitian.

I. Wawancara
Wawancara merupakan serangkaian proses bertemu muka antara peneliti dan responden, yang direncanakan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan. Peneliti menanya¬kan sesuatu yang telah direncanakan kepada responden. Hasil¬nya dicatat, diadministrasi untuk dapat menjadi materi atau informasi penting dalam penelitian. Dalam proses wa¬wan¬cara ini dimungkinkan terjadinya wawancara interkatif antara peneliti dan responden atau dari responden kepada peneliti. Akan tetapi posisi peneliti sebaiknya tetap yang mengendalikan situasi wawancara, sehingga informasi yang diperlukan dapat diperoleh secara maksimal.
Sebagai konsekuensi perkembangan teknologi infor¬ma-si seperti sekarang ini, wawancara juga mengalami per-kembangan sangat signifikan. Perkembangan tersebut yaitu tidak dipersyaratkannya tatap muka langsung antara peneliti dan responden. Dengan jarak jauh misal television conference seorang peneliti dari tempat yang berjauhan dapat ber-wawancara dengan responden dan mereka dapat meng¬hasil-kan informasi yang diperlukan.
Dalam penelitian kualitatif naturalistik, wawancara menjadi tumpuan pokok pengambilan data. Wawancara di samping itu juga dapat dilakukan oleh peneliti secara men-dalam dan memiliki karakteristik sendiri, di antaranya ter-masuk seperti berikut, a) melibatkan individual, b) bertatap muka dan menggunakan percakapan verbal, c) kadang menggunakan kuestioner sebagai pedoman wawancara, d) menggunakan information technology (IT).

J. Dokumentasi
Teknik pengumpulan data yang juga berperan besar dalam penelitian kualitatif naturalistik adalah dokumentasi. Dengan teknik dokumentasi ini, peneliti dapat memperoleh informasi bukan dari orang sebagai narasumber, tetapi mereka memperoleh inoformasi dari macam-macam sumber tertulis atau dari dokumen yang ada pada responden atau tempat, di mana responden bertempat tinggal atau melakukan kegiatan sehari-hari. Dokumen yang ada secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu dokumen resmi seperti surat keputusan, surat instruksi dan dokumen tidak resmi misalnya seperti surat nota, dan surat pribadi yang dapat memberikan informasi pendukung terhadap suatu peristiwa. Dokumentasi yang telah digunakan sebaiknya tidak dibuang tetapi di¬administrasi dengan sistematis dan bila diperlukan dapat dibuat sebagai lampiran data pendukung.

K. Refleksi
Refleksi merupakan satuan langkah di mana peneliti da¬pat melakukan kajian kembali terhadap fenomena yang mun¬cul sebagai akibat adanya tindakan yang telah dilakukan peneliti terhadap responden. Ketika berinteraksi dengan responden mungkin saja peneliti hanya melakukan pencatatan secara cepat, singkat, terpotong-potong dan tidak teratur. Catatan yang demikian pada umumnya hanya dipahami oleh si peneliti sendiri, karena dia mengetahui konteks dan urutan kejadiannya, tetapi mungkin saja terjadi bahwa orang lain sulit mengerti dan memahami.
Untuk mengatasi hal tersebut dalam kegiatan refleksi, perlu kiranya para peneliti untuk mengurutkan kembali data atau informasi yang diperoleh sesuai dengan konteks dan situasi yang sebenarnya, sehingga dapat dikembangkan alur kejadiannya, dan jika perlu simpul-simpul peristiwa dirangkai kembali sehingga menjadi rangkaian teori baru.

L. Narasumber
Seorang peneliti kualitatif-naturalistik yang terjun di lapangan, dapat ditamsilkan sebagai orang yang masuk dalam pasar malam, yang di dalamnya banyak sekali dijumpai aneka macam kegiatan, kesibukan dan banyak manusia berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesamanya. Untuk memperoleh in-formasi primer yang tepat dan relevan dengan keperluan penelitian, keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh ketajam¬an dan kejelian peneliti dalam memilih orang-orang yang benar-benar memiliki informasi, kemudian memelihara hubung¬an dengan responden tersebut, agar tetap dapat berhubungan dengan mereka. Orang yang memiliki informasi disebut sebagai narasumber. Dalam Penelitian kualitatif naturalistik, narasumber dibedakan menjadi dua macam yaitu, 1) key informan dan 2) informan.
1. Key Informan, identik dengan gate keepers atau juga sering pula disebut orang kunci adalah para pimpinan baik pimpinan formal maupun pimpinan non-formal. Tujuan pemilihan orang kunci adalah agar peneliti dapat mem-peroleh kemudahan dalam mencari data, mengakses objek-objek tertentu dan juga berhubungan dengan responden. Untuk mencapai tujuan tersebut para peneliti hendaknya memperhatikan tiga faktor penting berikut ini.
a. Menggunakan jasa atau dengan mencari keterangan dari orang yang berwenang baik secara formal mau¬pun secara informal.
b. Menggunakan teknik wawancara sebagai langkah awal penelitian
c. Melakukan observasi terbatas dengan fokus per¬tanya-an siapakah orang-orang yang menduduki jabatan pimpinan dalam struktur organisasi masyarakat.
2. Informan, yaitu orang-orang yang memiliki informasi tentang masyarakat yang diteliti. Di masyarakat, mereka adalah di antara seseorang atau sekelompok tokoh masya-rakat, tokoh agama dan atau tokoh pemuda yang men-dapat kepercayaan di masyarakatnya. Orang ini masih di-sebut seorang pemberi informasi manakala mereka masih berada dan menjadi satu dengan masyarakat yang hendak diteliti. Ketika orang tersebut sudah tinggal di tempat lain dalam jangka waktu tertentu, atau orang tersebut lama tidak berinteraksi dengan masyarakatnya, atau berpindah ke masyarakat lain dalam periodik waktu lama, mereka itu tidak tepat lagi disebut informan.

M. Analisis Data
Langkah penting setelah peneliti ada di lapangan dan mengumpulkan data adalah langkah analisis data sesuai de-ngan prinsip-prinsip analisis data kualitatif-naturalistik. Yang di¬mak¬sud dengan data kualitatif menurut Ryan dan Bernard: (2000), adalah semua informasi yang berupa tes, surat kabar, sit com, email, ceritera rakyat, sejarah kehidupan yang ber-guna untuk membangun dan mengarahkan pada pe¬ngem¬bang-an pengertian yang mendalam atas dasar setting orang-orang yang diteliti.
Data tersebut biasanya masih berupa data kasar di antara¬nya seperti: catatan kancah yang sumbernya bermacam-macam ter¬masuk sebagai tulisan tangan, tape recorder, ringkas¬¬an doku¬men dan sebagainya. Data yang ada tanpa melalui angka di¬adminis¬trasi secara sistematis dan selanjut¬nya dianalisis untuk dapat menemukan pattern theory yang didukung oleh data lapangan.
Analisis data dalam penelitian naturalistik, pada prinsip¬¬nya berbeda dengan analisis data pada penelitian kuanti¬tatif positivistik. Jika pada penelitian kuantitatif, anali-sis data dilakukan setelah proses pengumpulan dari lapangan selesai; maka pada penelitian naturalistik, langkah analisis atas dasar grounded theory yang dimulai sejak peneliti terjun ke kancah untuk mengambil data yang pertama kali melalui kegiatan refleksi. Pada saat itu secara kontinyu atau on going process peneliti mulai menggunakan data yang ada untuk mencapai tujuan penelitian yaitu memecahkan fokus penelitian.
Pada penelitian naturalistik menurut Moleong (1988), analisis data pada umumnya mengandung tiga kegiatan yang saling terkait yaitu a) kegiatan mereduksi data, b) me¬nampil-kan data, dan melakukan verifikasi untuk membuat kesimpul-an. Sedangkan. Taylor dan Bogdan (1984, 130) mengatakan walaupun seorang peneliti kualitatif akan menunjukkan cara mereka sendiri dalam memperlakukan data, mereka pada umumnya juga mengelompokkannya menjadi tiga tingkat kegiatan besar yaitu penemuan, koding, pengurangan data.
Tingkat pertama, adalah tingkat penemuan yang men-cakup kegiatan mengidentifikasi tema dari setiap catatan yang telah mereka administrasi, dan mengembangkan konsep serta proposisi dari catatan-catatan. Tingkat kedua, merupa¬kan ke-giatan setelah pengambilan data, biasanya mencakup kegiatan koding data dan menghaluskan pengertian subject matter. Pada tingkat ini sejumlah data agar dapat digunakan dengan mudah mereka disimpan dan diurutkan sesuai (diberi koding) sesuai dengan urutan kejadian dan konteksnya pengambilan di lapangan. Tingkat ketiga adalah tingkat pe¬ngurang¬an atau reduksi data. Pada tingkat pengurangan data ini peneliti ber-usaha mengurangi (discount) gejala yang mereka temukan untuk mengetahui data dalam konteks yang sejenis dari semua data yang mereka kumpulkan.
Di samping tiga tingkatan seperti tersebut di atas, ada beberapa elemen penting dalam analisis data yang perlu terus diingat oleh setiap peneliti dalam melakukan kegiatan analisis data adalah seperti berikut

1. Reduksi data
Proses analisis data yang mencakup reduksi data ini, dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Setelah dikaji langkah berikutnya ada¬lah membuat rangkuman untuk setiap kontak atau pertemuan dengan responden. Dalam merangkum data biasa¬nya ada satu unsur penting yang tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan tersebut. Kegiatan yang tidak dapat terpisahkan ini disebut membuat abstraksi yaitu usaha membuat ringkasan yang inti, proses, dan per¬syarat-an yang berasal dari responden tetap dijaga. Dari rangkum¬¬an yang dibuat ini kemudian peneliti melakukan reduksi data yang kegiatannya mencakup unsur-unsur spesifik termasuk: a) proses memilih data atas dasar ting-kat relevansi dan kaitannya dengan setiap kelompok data, b) menyusun data dalam satuan-satuan sejenis. Penge-lompokan data dalam satuan yang sejenis ini juga dapat diekuivalenkan sebagai kegiatan kategorisasi/variabel, c) membuat koding data sesuai dengan kisi-kisi kerja pe-nelitian.
Kegiatan lain yang juga masih termasuk dalam lingkup mereduksi data yaitu kegiatan memfokuskan, menyederhanakan dan mentransfer dari data kasar ke catatan lapangan. Dalam penelitian kualitatif-naturalistik, kegiatan ini merupakan kegiatan kontinyu dan oleh karena itu peneliti perlu sering memeriksa dengan cermat hasil catatan yang diperoleh dari setiap terjadi kontak antara peneliti dengan responden.

2. Menampilkan data
Pada langkah ini peneliti berusaha menyusun data yang relevan, sehingga menjadi informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu dengan cara menampilkan dan membuat hubungan antar variabel atau fenomena agar peneliti lain atau pembaca laporan pe¬neliti-an mengerti apa yang telah terjadi dan apa yang perlu ditindaklanjuti untuk mencapai tujuan penelitian. Penampilan atau display data yang baik dan tampak jelas alur pikirnya, adalah merupakan hal yang sangat didamba-kan oleh setiap peneliti karena dengan display yang baik merupakan satu langkah penting untuk menuju ke arah jalan lancar untuk mencapai analisis kualitatif yang valid dan handal.

3. Verifikasi data
Verifikasi atau penarikan kesimpulan merupakan kegiatan penting lainnya. Sejak awal pengumpulan data, peneliti sebaiknya juga mulai memutuskan antara gejala yang mempunyai makna termasuk data-data yang me-miliki pattern, konfigurasi, aliran penyebab dan preposisi dengan data yang tidak diperlukan atau tidak bermakna. Pada langkah verifikasi ini peneliti sebaiknya masih tetap mampu di samping tetap menuju ke arah ke¬simpul¬an yang sifatnya terbuka, juga peneliti masih dapat menerima masukan data dari peneliti lain. Bahkan pada langkah verifikasi ini sebagian peneliti juga masih kadang ragu-ragu untuk meyakinkan dirinya apakah mereka dapat mencapai pada tingkat final, di mana langkah pengumpul-an data dinyatakan berakhir.
Untuk dapat menggambarkan dan menjelaskan ke-simpulan yang memiliki makna, seorang peneliti pada umumnya dihadapkan pada dua kemungkinan strategi atau taktik penting yaitu a) memaknai analisis secara sepesifik dan b) menarik serta menjelaskan kesimpulan yang secara ringkas dapat dilihat pada uraian berikut.
a. Teknik Memaknai
Salah satu hakikat manusia yang perlu disadari oleh diri mereka, menurut Huberman adalah bahwa manusia merupakan penemu makna yaitu mereka bisa mendapatkan arti suatu gejala yang semula berserakan menjadi memiliki makna dan arti mendalam tertentu dalam waktu relatif cepat. Dan bila dicermati lebih jauh dia mengatakan bahwa ada beberapa cara cepat untuk mengerakkan dari semua gejala yang ada dan ber¬serak sehingga memiliki makna. Beberapa cara ter-sebut di antaranya yaitu 1) counting atau menghitung untuk menjelaskan apa yang ada di sana, 2) melihat ke¬mungkinannya, 3) mengelompokkan atau clustering, 4) membantu para peneliti melihat ‘what goes with what’ atau apa yang terjadi dengan apa, dan kemudian dikaitkan dengan metaphore gejala yang ada, 5) men-capai integrasi di antara data-data yang berbeda, 6) melihat keterikatan mereka secara abstrak termasuk dalam hal ini menjumlahkan dari particular kearah general, 7) faktoring, 8) analisis analogi seperti yang dilakukan dalam teknik kuantitatif, 9) menen¬tu¬kan variabel perantara atau intervening variable, 10) membangun rantai logika dari data yang ada, 11) dan kemudian akhirnya membangun konsep-konsep dari teori yang bervariasi.
b. Taktik Mengkonfirmasi Makna
Ketika peneliti terjun ke kancah, biasanya mereka mendapatkan bahwa sebenarnya banyak bentuk dan ragam gejala atau informasi yang ditemui, tetapi tidak semua data dapat diproses atau diambil sebagai pendukung fokus penelitian, atau mengarah pada tercapainya kesimpulan. Hanya data yang memiliki persyaratan tertentu saja yang peneliti perlukan. Persyaratan data yang dapat diproses dalam analisis lanjut termasuk seperti, absah, berbobot, dan kuat, sedangkan data lain yang tidak menunjang, lemah, dan menyimpang jauh dari kebiasaan atau “out liers” harus dipisahkan.
Memilih data yang memenuhi persyaratan se-perti di atas tidaklah mudah. Proses tersebut di sam-ping memerlukan ketelitian dan kecermatan profesi-onal, para peneliti harus menggunakan metoda yang variatif dan tepat agar diperoleh data yang dapat di-gunakan untuk tujuan reduksi. Untuk mencapai tujuan tersebut beberapa taktik penting termasuk: testing atau mengkonfirmasi makna, menghindari bias dan me-yakin¬kan kualitas kesimpulan perlu dilakukan selama melakukan analisis data.
Untuk dapat mengetahui kualitas data, seorang peneliti dapat menilai melalui beberapa metode seperti berikut. 1) mengecek representativeness atau keter-wakil¬an data, 2) mengecek dari pengaruh peneliti, 3) mengecek melalui trianggulasi 4) melakukan pem-bobotan bukti dari sumber data-data yang dapat di-percaya 5) membuat perbandingan atau meng¬kontras-kan antar variabel, 6) penggunaan kasus ekstrim yang direalisasi dengan memaknai data out liers.
Dengan mengkonfirmasi makna dari data-data yang diperoleh dengan menggunakan satu cara atau lebih, diharapakan peneliti akan memperoleh infor¬ma¬si yang dapat digunakan untuk mendukung tercapai¬nya tujuan penelitian

  1. Terima kasih..banyak membantu..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: