PENELITIAN KUALITATIF NATURALISTIK

LANDASAN KONSEPTUAL
PENELITIAN KUALITATIF NATURALISTIK

A. Batasan
Membuat batasan atau definisi tentang penelitian kua-li¬ta¬tif naturalistik memang tidak mudah, mengingat banyak-nya per¬beda¬an pandangan yang ada. Sebagaimana telah kita maklumi bah¬wa dalam penelitian ilmiah terdapat dua paradigma penelitian yang sering digunakan, baik secara sendiri-sendiri, maupun se¬cara bersama-sama. Kedua para¬dig-ma penelitian itu adalah para¬digma kuantitatif, dan paradigma kualitatif. Pem¬beda¬an ini sering menjadi perdebatan di kalangan para pakar, apakah keduanya itu paradigma atau jenis atau pendekatan, atau bahkan metode dan teknik penelitian. Perbedaan itu se¬mesti¬nya tidak berkepanjangan manakala kita melihatnya dari sudut pandang yang sama. Per-beda¬an itu juga tidak akan se¬makin tajam manakala kita me-ngem¬balikannya pada akar filo¬so¬fis yang menjadi landasan-nya. Para¬dig¬ma kuantitatif berlandas¬kan pada filosofi posi-tivis¬tik Auguste Comte, yang mencoba menerapkan metodo-logi penelitian yang lazim dilakukan dalam ilmu-ilmu penge-tahuan alam ke dalam ilmu-ilmu pengetahuan sosial, sedang-kan paradigma kualitatif pada umumnya ber¬landas¬kan pada filosofi fenomenologik Edmund Husserl.

Sebelum membicarakan penelitian kualitatif naturalis-tik, kita perlu membicarakan lebih dahulu beberapa istilah yang di¬gunakan untuk penelitian kualitatif, yaitu penelitian atau inkuiri naturalistik atau alamiah, etnografi, interaksionis simbolik, per¬spektif ke dalam, etnometodologi, the Chicago School, feno¬meno¬logik, studi kasus, interpretatif, ekologis, dan deskriptif (Bogdan dan Biklen dalam Moleong, 1995: 2). Dengan demikian, jika kita menyebut penelitian kualitatif naturalistik, hal ini se¬kali¬gus menandaskan bahwa penelitian kualitatif sangat menekankan segi kealamiahan sumber data.
Apa yang dikatakan oleh Bogdan (1984) Wolf dan Tymiz (1977) (dalam Sukardi, 2003: 2) barangkali dapat mem-bantu kita dalam memahami pengertian penelitian kuali¬ta¬tif naturalistik. Mereka mengartikan penelitian kualitatif na-turalistik sebagai pe¬mahaman fenomena sosial dari sisi si pe-laku sendiri. Menurut mereka, penelitian kualitatif natu¬ralis¬¬tik bertujuan mengetahui aktualitas, realitas sosial dan persepsi manusia melalui pengakuan mereka, yang mungkin tidak dapat diungkap melalui penonjolan pengukuran formal atau pertanyaan penelitian yang telah di¬per¬siapkan terlebih dahulu. Dikatakan penelitian naturalistik karena dalam pe¬neliti¬an ini peneliti berusaha secara aktif melakukan interaksi dengan subyek atau responden yang diteliti dengan kondisi apa ada-nya dan tidak direkayasa agar data yang diperoeh merupakan fenomena yang asli dan natural (alamiah).

B. Asumsi Dasar Penelitian Kualitatif Naturalistik
Seorang peneliti kualitatif naturalistik perlu mema¬hami asumsi dasar yang dimiliki oleh penelitian kualitatif naturalistik. Pemahaman terhadap asumsi dasar ini akan sa-ngat bermanfaat ketika peneliti mengembangkan teori dasar. Beberapa asumsi dasar yang ada dalam penelitian kualitatif naturalistik adalah sebagai berikut:
1. Manusia hidup adalah manusia yang memiliki kemampu¬an un¬tuk mengungkapkan tindakan melalui perbuatan dan ba-ha¬sa, baik lisan (perkataan), maupun tulis kepada diri sendiri mau¬pun kepada orang lain.
2. Peneliti kualitatif naturalistik cenderung melihat gejala atau fenomena sebagai gejala atau fenomena yang di-vergen atau menyebar daripada sebagai gejala atau feno-mena yang convergen atau menyatu ke dalam satu titik.
3. Tindakan dan ucapan seseorang akan dapat membawa kepada situasi yang dapat merefleksikan maksud se¬se-orang maupun kelompok orang tersebut. Dalam masalah sosial-budaya, pe¬ngalaman aktor bukan hanya bersifat indi¬¬vidual, tetapi dapat pula merupakan jalinan inter-subjektif dalam kelompok ma¬sya¬rakat tersebut.
4. Makna tindakan pemakai bahasa pada prinsipnya tidak di-lepaskan dari konteks budaya dan lingkungannya.
5. Menggambarkan kehidupan manusia pada prinsipnya ku-rang tepat jika direduksi menjadi bagian-bagian yang ter-pisah. Kehidupan manusia secara keseluruhan mungkin lebih utama dan memiliki makna yang lebih komprehensif daripada me¬lihat kehidupan manusia dalam kondisi ter-pisah-pisah.
6. Tindakan dan penggunaan bahasa merupakan hukum yang sengaja diatur untuk lebih bermanfaat dalam kehidupan. Hu¬kum diciptakan oleh institusi sosial, dan dijunjung tinggi oleh para anggotanya yang hidup bersama mereka.
7. Jatidiri sebagai pemikir pada prinsipnya erat kaitannya de-ngan fungsi dirinya sebagai aktor dan pemakai bahasa. (Sukardi, 2004: 12-13).

C. Aksioma dalam Penelitian Kualitatif Naturalistik
Penelitian kualitatif naturalistik memiliki aksioma yang berbeda dari jenis penelitian yang berparadigma positivistik. Aksioma yang berlaku dalam penelitian kualitatif naturalistik adalah sebagai berikut.
1. Aksioma tentang Realitas atau kenyataan
a. Realitas atau kenyataan itu kompleks. Sistem dan organisme tidak dapat dipisah-pisahkan. Keber¬ada¬an-nya bergantung pada interaksi timbal-baliknya; Makna tidak atomistik melainkan kontekstual.
b. Ada tata dalam realitas. Semua yang nampak tertata itu ditentukan oleh alam pikir kita. Itu merupakan fung¬si tata pikir kita; Orientasi perilaku manusia itu pluralistik, baik orientasi pada nilai, pada politik dan lain-lain.
c. Realitas atau kenyataan itu tampil dalam berbagai per-spektif. Pespektif yang dipakai seseorang mempe¬nga-ruhi apa yang nampak sebagai realitas; Apa yang kita yakini mempengaruhi penampakan realitas; Reali¬tas ada sebagaimana dikenal manusia, dan bukan ada sebagaimana adanya.
d. Ada keterhubungan timbal-balik antara berbagai se-suatu. Segala sesuatu saling berhubungan. Ada jaring-an keterhubungan alam semesta. Ada keterkaitan timbal-balik antara yang mengenal dengan yang di-kenalnya.
2. Aksioma tentang interaksi antara yang mengenal dan yang di¬kenal
a. Hubungan itu indeterminatif. Ada keterlibatan timbal-balik antara yang mengenal dengan yang dikenalnya. Proses observasi mempengaruhi hasilnya.
b. Kausalitas itu timbal-balik.
c. Pengenalan kita itu sifatnya perspektif. Dari mana dan cara bagaimana akan mempengaruhi apa yang kita lihat; Pengetahuan dijaga (dari “bias”) bukan dengan mengabstraksikan dari semua perspektif, melainkan dengan membuat keseimbangan perspektif ganda untuk menghindarkan “bias”; sehingga objektivitas itu merupakan ilusi.
3. Aksioma tentang Keterkaitan pada waktu dan konteks
a. Keterkaitan pada waktu dan konteks menjadikan se-suatu itu kompleks. Sistem dan organisme tak dapat dipisahkan dari lingkungannya, karena makna dan ek-sistensinya terkait pada sistem dan organisme lain; Pengetahuan menjadi bermakna bila berada dalam konteks; Penelitian haruslah memperhitungkan seja¬rah-nya dan rinciannya daripada memperhitungkan sifat permanen dan generalisasinya.
b. Ada tata heterarkhik. Sistem dan organisme mana yang dominan bergantung pada keseluruhan situasi, dan ditentukan oleh interaksi sistem dan organisme.
c. Sesuatu itu besifat holographik. Informasi itu me-nyebar pada seluruh sistem, bukan terkonsentrasi pada titik tertentu.
d. Berlaku prinsip indeterminatif. Dalam sistem atau orga¬nisme yang kompleks kemungkinan masa yang akan datang dapat dikenal, tetapi akibatnya yang tepat sukar untuk dapat diketahui berdasarkan kondisi sekarang.
e. Ada kausalitas timbal-balik. Untuk memahami seluruh sistem diperlukan pengenalan sejarah atau prosesnya yang tidak dapat dipahami berdasarkan kondisi se¬ka-rang; Kausalitas timbal-balik cenderung meng¬hasil¬kan sesuatu yang tidak dapat diduga.
f. Terjadi proses morphogenetik. Perubahan itu tidak hanya berlangsung secara berkelanjutan dan kuanti-tatif, melainkan tak berkelanjutan dan kualitatif.
4. Aksioma tentang Pembentukan timbal-balik dan simultan.
a. Struktur tersusun heterarkhik. Struktur sistem dan organis¬me bekerja heterarkhik, membentuk jaringan pengaruh dan hambatan timbal-balik.
b. Ada kausalitas timbal-balik. Kausalitas deterministik kaku diganti dengan inovasi tak terduga, yang muncul secara morphogenetik melalui interaksi dan fluktuasi kausal timbal-balik; Kausalitas timbal-balik bukan mengarah ke stabilitas, melainkan ke perubahan sim¬bo-lik dan evolutif.
c. Sistem terbentuk secara morphogenetik. Sistem dan organisme baru dan berbeda terbentuk dari yang lama lewat proses yang kompleks; tata sistem dan organis-me yang lebih tinggi tersusun dari tata yang lebih rendah; tata juga dapat muncul dari tiada tata.
5. Aksioma tentang Keterkaitan pada nilai.
Kepentingan kita memberi perspektif pada pengetahuan kita. Semua pengetahuan kita pada hakekatnya merupakan pengetahuan atas kepentigan, meskipun kita tidak ber-maksud mengaitkan dengan kepentigan tertentu dalam mengembangkannya; suatu keharusan ilmiah untuk meng-adakan penelitian, bila manusia memang berkepentingan; Konsep paradigma bergeser dengan sendirinya. Hal ter-sebut membuka kemungkinan adanya program penelitian dengan asumsi yang sangat beragam.
Dari rincian penjelasan aksioma yang berlaku dalam penelitian kualitatif naturalistik sebagaimana dirangkum dari tulis¬an Guba dan Schwartz & Ogivly oleh Noeng Muhadjir (1990: 133-136) tersebut dapat disederhanakan menjadi se-bagai berikut (Lihat Moleong, 1995, Lincoln dan Guba, 1985: 37).

1. Aksioma tentang Hakekat Realitas
Realitas atau kenyataan adalah ganda, dibentuk, dan merupakan keutuhan.
2. Aksioma tentang Hubungan pencari tahu dengan yang tahu
Pencari tahu dan yang tahu aktif bersama, jadi tidak dapat dipisahkan.
3. Aksioma tentang Kemungkinan Generalisasi
Hanya waktu dan konteks yang mengikat hipotesis kerja (pernyataan idiografis) yang dimungkinkan.
4. Aksioma tentang Hubungan Sebab-Akibat
Setiap keutuhan berada dalam keadaan mempengaruhi secara bersama-sama, sehingga sukar membedakan mana sebab dan mana akibat.
5. Aksioma tentang Nilai
Inkuirinya terikat nilai, jadi tidak bebas nilai.

D. Karakteristik Penelitian Kualitatif Naturalistik
Penelitian Kualitatif Naturalistik memiliki karak¬teris¬tik tersendiri sehingga dapat membedakana dengan jenis pe¬ne-litian yang lain. Beberapa karakteristik tersebut menurut Bogdan dan Biklen (1995: 27-30) adalah:
1. Penelitian kualitatif memiliki setting (latar) alamiah sebagai sumber data langsung dan peneliti merupakan instrumen kunci.

2. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif
3. Peneliti kualitatif lebih memberikan perhatian pada proses daripada hasil.
4. Peneliti kualitatif cenderung menganalisis datanya secara induktif
5. “Makna” merupakan perhatian utama bagi pendekatan kualitatif.
Berbeda dengan Bogdan dan Biklen, Guba (dalam Noeng Muhadjir, 1990: 126-130) mengetengahkan empat be-las karakteristik yang dimiliki oleh penelitian naturalistik yang dapat disebutkan berikut ini.
1. Konteks natural, artinya suatu fenomena hanya dapat di-tangkap dan dipahami maknanya dalam keseluruhan dan tidak dapat dilepaskan dari konteksnya.
2. Manusia sebagai instrumennya, dalam hal ini si peneliti sen¬diri atau orang lain sebagai instrumen pengumpul data. Kelebihan manusia sebagai instrumen adalah karena ma-nusia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri de-ngan berbagai ragam realitas yang tidak dapat dikerjakan oleh instrumen selain manusia, seperti kuesioner dan se-macamnya. Di samping itu, instrumen manusia mampu me¬nangkap makna, interaksinya sarat nilai, lebih-lebih untuk menghadapi nilai lokal yang berbeda.
3. Pemanfaatan pengetahuan yang tak terkatakan. Sifat natu-ralistik memungkinkan kita mengangkat hal-hal yang tak terkatakan untuk memperkaya hal-hal yang ter¬ekspresi¬kan. Realitas itu memiliki nuansa ganda yang sukar di¬pahami tanpa memperkaya yang terekspresikan dengan yang tak terkatakan.
4. Metode kualitatif. Penelitian naturalistik lebih memilih me¬tode kualitatif daripada kuantitatif, karena lebih mam-pu mengungkap realitas ganda. Metode kualitatif juga lebih mengungkap hubungan wajar antara peneliti dengan responden; dan karena metode kualitatif lebih sensitif dan adaptif terhadap berbagai pengaruh timbal balik.
5. Pengambilan sampel secara “purposive”. Penelitian natu-ralis¬tik menghindari pengambilan sampel secara acak, yang menekan kemungkinan munculnya kasus me¬nyimpang. Dengan pengambilan secara “purposive”, hal-hal yang dicari dapat dipilih pada kasus-kasus ekstrim, sehingga hal-hal yang dicari tampil menonjol dan pada akhirnya dapat mudah dicari maknanya.
6. Analisis datanya secara induktif. Penelitian naturalistik lebih menyukai analisis induktif daripada deduktif, karena dengan cara tersebut konteksnya akan lebih mudah dideskripsikan.
7. Grounded theory. Penelitian naturalistik lebih mengarah-kan penyusunan teori (yang lebih mendasar) diangkat dari empiri, bukan dibangun secara apriori.
8. Desain penelitian bersifat sementara. Penelitian naturalis-tik cenderung memilih penyusunan desain sementara dari-pada mengkonstruksinya secara apriori, karena realitas ganda sulit dikerangkakan. Alasan lain, karena peneliti su-lit mempolakan lebih dahulu apa yang ada di lapangan; dan karena banyak sistem nilai yang terkait serta inter-aksinya tak terduga.
9. Hasil yang disepakati. Penelitian naturalistik cenderung menyepakatkan makna dan tafsir atas data yang diperoleh dengan sumbernya. Maksudnya peneliti perlu mencari kepastiannya pada penduduk yang tinggal dalam konteks-nya, karena responden lebih memahami konteks¬nya dari-pada si peneliti.
10. Modus laporan studi kasus. Penelitian naturalistik lebih menyukai modus laporan studi kasus daripada modus lain, karena dengan modus laporan studi kasus deskripsi reali-tas ganda yang tampil dari interaksi peneliti dengan res-ponden dapat terhindar dari “bias”.
11. Penafsiran idiografik. Penelitian naturalistik mengarah ke penafsiran data (termasuk penarikan kesimpulan) secara idiografik (dalam arti keberlakuannya bersifat khusus); bukan ke nomothetik (dalam arti mencari hukum keber-laku¬an yang sifatnya umum), karena penafsiran yang berbeda nampaknya lebih memberi makna untuk realitas yang berbeda konteksnya.
12. Aplikasinya tentatif. Penelitian naturalistik cenderung lebih menyukai aplikasi tentatif daripada aplikasi meluas atas hasil temuannya, karena realitas itu ganda dan ber-beda; juga karena interaksi antara peneliti dengan respon-den¬nya bersifat khusus dan tak dapat diduplikasikan.

13. Ikatan konteks terfokus. Sifat holistik dari penelitian natura¬listik ditelaah dengan mengaksentuasikan pada fokus sesuai dengan masalahnya, evaluasinya atau tugas-tugas yang hendak dicapai. Dengan pengambilan fokus ikatan keseluruhannya tidak dihilangkan dan tetap terjaga keberadaannya dalam konteks; tidak dilepaskan dari sis-tem nilai lokalnya.
14. Kriteria keterpercayaan. Kriteria keterpercayaan dalam penelitian positivistik membedakan empat kriteria keter-percayaan, yaitu: validitas internal, validitas eksternal, reliabi¬li¬tas, dan objektivitas. Dalam penelitian naturalis¬tik, keempatnya diganti oleh Guba dengan kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas.

E. Tujuan Penelitian Kualitatif Naturalistik
Menurut Bogdan, Wolf dan Tymiz (dalam Sukardi, 2003: 2), tujuan penelitian kualitatif naturalistik adalah untuk mengetahui aktualitas, realitas sosial dan persepsi manusia melalui pengakuan mereka yang mungkin tidak dapat di-ungkap melalui penonjolan pengukuran formal atau pertanya-an penelitian yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Para peneliti kualitatif naturalistik meyakini bahwa untuk me-mahami gejala sosial yang paling tepat adalah apabila mereka mampu memperoleh fakta pendukung yang sumbernya ber¬asal dari persepsi dan ungkapan dari para pelaku itu sendiri.

Untuk mengetahui permasalahan dan jawaban tentang bagaimana melakukan profesi berdagang yang baik, akan le¬bih tepat jika peneliti dapat memperoleh informasi dari sese¬orang yang berprofesi sebagai pedagang yang sukses dengan cara melakukan pengamatan, dan ikut melakukan aktivitas ber-dagang. Pengamatan dan pengalaman yang dilakukan para peneliti mempunyai peranan yang sangat penting dalam me-mecahkan permasalahan, dan hal ini sama bobotnya dengan memperoleh data dari teori tentang cara berdagang yang handal.
Penelitian kualitatif naturalistk juga berusaha untuk menampilkan “sebuah episode kehidupan” yang didokumen-tasi¬kan dalam setting (latar) yang alami, yang meng¬gambarkan sesuatu: sedekat mungkin sama dengan keadaan senyatanya; bagaimana orang merasakan apa yang mereka ketahui; dan apa yang mereka lakukan, mereka percayai, dan menjadi bagian hidup mereka.
Dilihat dari segi orientasinya, penelitian kualitatif natu¬ralistik berorientasi pada proses. Karena berorientasi pada proses, maka penelitian kualitatif naturalistik dianggap tepat untuk memecahkan permasalahan penelitian yang berkaitan dengan kegiatan manusia, seperti: perubahan perilaku manu¬sia dalam pembangunan, perilaku siswa dalam sekolah, peran dokter dan pasien dalam proses penyembuhan, di mana dalam kegiatan tersebut pengungkapan fenomena lebih bersifat ganda dan non linier.
Secara garis besar, Bogdan dan Biklen (1982: 46) me-rumuskan tujuan penelitian kualitatif naturalistik adalah: per-ta¬ma, mengembangkan konsep-konsep yang peka; kedua, meng¬gambarkan realitas ganda; ketiga, memperoleh teori da-sar (granded theory); dan keempat, mengembangkan pe-maham¬an.

    • dygg
    • Mei 8th, 2010

    makasihhh..
    sangat berguna

  1. sama-sama…trimakaih telah berkunjung…

    • kinanthi
    • Juli 29th, 2012

    terima kasih atas informasinya ,

  2. trims semoga bermanfaat untuk yang lain

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: